Bibit Jagung Aspirasi untuk TTS Disebut Baru Tersalurkan Sebagian pada Mei 2026
- account_circle Mario
- calendar_month Rabu, 20 Mei 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

NTT, Jarrakpos.com- Bantuan bibit jagung jalur aspirasi untuk Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) menjadi perhatian setelah muncul informasi mengenai penyalurannya yang disebut berlangsung hingga Mei 2026.
Berdasarkan informasi yang diperoleh, pada pertengahan tahun 2025 telah dilakukan penyerahan bibit jagung merek Pioneer sebanyak 45 ton untuk wilayah TTS. Bantuan tersebut merupakan aspirasi yang diperjuangkan untuk mendukung kebutuhan petani di daerah itu.
Dalam proses penyalurannya, Dinas Pertanian Kabupaten TTS disebut menangani distribusi bantuan karena berkaitan dengan data Calon Penerima dan Calon Lokasi (CPCL).
Namun, muncul informasi bahwa sebagian bibit jagung baru diterima masyarakat pada Mei 2026. Hal itu dikaitkan dengan adanya stok bantuan aspirasi tahun sebelumnya yang masih tersisa.
Sumber lain menyebutkan, hingga Mei 2026 stok jagung Pioneer reguler dari produsen mengalami kekosongan.
Menurut informasi yang diperoleh dari pihak produsen, alokasi bibit untuk Kabupaten TTS saat itu hanya berasal dari bantuan aspirasi tahun sebelumnya.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Bidang Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (TPHP) Dinas Pertanian Kabupaten TTS, John Bessie, menjelaskan bahwa bantuan jagung jalur aspirasi tahun 2025 pada dasarnya sudah disalurkan seluruhnya.
“Memang tahun 2025 ada bantuan jagung jalur aspirasi, tapi semua sudah dibagi habis. Namun ada 100 kilogram yang tertinggal di gudang karena kami tidak mengetahui secara pasti berasal dari desa mana,” jelas John Bessie, (19/5/2026).
Ia mengatakan, sisa bibit tersebut kemudian diambil oleh warga dari Desa Baus, Kecamatan Boking, setelah pemerintah desa menyampaikan bahwa jatah bantuan mereka sebelumnya masih kurang 100 kilogram.
“Ternyata tadi pagi baru diminta dari Desa Baus Kecamatan Boking bahwa jagung mereka yang lalu masih kurang 100 kilogram, sehingga baru diambil,” katanya.
Menurut John, pihak dinas sempat menyarankan agar bibit tersebut tidak lagi ditanam mengingat waktu distribusinya sudah cukup lama.
Namun warga tetap meminta bantuan itu karena tidak memiliki bibit lain untuk musim tanam.
“Kami menyarankan untuk tidak ditanam lagi, tetapi mereka bilang bibit untuk tanam sudah tidak ada lagi. Karena benih itu masih ada, kami persilakan jika masih bisa dimanfaatkan,” tambahnya.
Peristiwa ini menjadi perhatian masyarakat terkait pentingnya ketepatan distribusi bantuan pertanian agar dapat dimanfaatkan sesuai musim tanam dan kebutuhan petani di daerah.***
- Penulis: Mario




Saat ini belum ada komentar