Dari Mimbar Gereja ke Ladang Rakyat: Gubernur NTT Gaungkan Gerakan Pangan Lokal
- account_circle Mario
- calendar_month Rabu, 29 Okt 2025
- comment 0 komentar
- print Cetak

NTT, Jarrakpos.com- Suasana sore di Gereja Paroki St. Simon Petrus Tarus terasa hangat dan penuh sukacita.
Umat dari berbagai kalangan memenuhi bangku-bangku gereja untuk mengikuti Perayaan Ekaristi Penutupan Hari Pangan Sedunia ke-99 Tingkat Keuskupan Agung Kupang, yang juga dirangkaikan dengan HUT Paroki St. Simon Petrus Tarus ke-11.
Perayaan pada Rabu, 29 Oktober 2025 ini dihadiri oleh Gubernur Nusa Tenggara Timur Emanuel Melkiades Laka Lena, Uskup Agung Kupang Mgr. Hironimus Pakaenoni, para imam, biarawan-biarawati, tokoh umat, petani, nelayan, dan kaum muda Katolik (OMK).
Tema yang diangkat, “Hak atas Pangan untuk Kehidupan dan Masa Depan yang Lebih Baik,” menjadi pengingat akan pentingnya pangan sebagai hak dasar manusia.
Dalam kotbahnya, Uskup Agung Mgr. Hironimus Pakaenoni menyampaikan apresiasi atas semangat kebersamaan seluruh pihak dalam mempersiapkan perayaan tersebut.
Ia menegaskan bahwa pangan bukan sekadar hasil alam, tetapi juga wujud kasih Tuhan yang harus dihargai dan dikelola dengan penuh tanggung jawab.
“Pangan adalah hak yang harus dimiliki setiap orang. Allah menciptakan alam agar hasilnya dapat dinikmati secara layak oleh siapa pun,” tegas Uskup Hironimus.
Ia mengajak umat untuk kembali mencintai pangan lokal sebagai bentuk syukur dan kepedulian terhadap ciptaan.
Dalam sambutannya, Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena menekankan bahwa Gereja dan pemerintah memiliki semangat yang sama: membangun masyarakat yang sehat, mandiri, dan berkeadilan.
Menurutnya, pangan tidak hanya soal kebutuhan jasmani, tetapi juga tentang nilai iman dan cinta terhadap kehidupan.
“Pangan adalah tanda kasih Allah yang memberi hidup bagi seluruh ciptaan. Ketika kita menanam dan mengolah pangan dari tanah kita sendiri, kita ikut serta dalam karya penciptaan Allah,” ujar Gubernur Melki.
Ia menegaskan bahwa pemerintah terus mendorong penguatan pangan lokal melalui program Gerakan One Village One Product (OVOP) dan Gerakan Beli NTT.
Melalui dua program ini, setiap desa diharapkan mampu mengembangkan produk khasnya, meningkatkan nilai tambah ekonomi, sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah.
Selain itu, pemerintah juga membuka ruang kolaborasi dengan Gereja, sekolah, dan masyarakat untuk memperluas gerakan pangan lokal.
“Kami akan membentuk klaster keagamaan dan klaster sekolah, serta memberikan bantuan bibit, pupuk, dan alat pertanian agar pangan lokal semakin berkembang,” ungkapnya.
Pada akhir acara, Uskup Agung Kupang dan Gubernur NTT menyerahkan secara simbolis bingkisan bibit pangan kepada beberapa paroki, termasuk Paroki St. Maria Assumpta dan Paroki St. Immaculata Kapan.
Sorak semangat menggema ketika seluruh peserta bersama-sama menyerukan:
“Dengan Pangan Lokal Bergizi, Ayo Bangun NTT!”***
- Penulis: Mario




Saat ini belum ada komentar