Dari Ruang Kelas ke Peluang Usaha, Bimtek Jamur Tiram BP2SDM Wilayah VII Kupang Bangkitkan Semangat Generasi Pelestari Hutan
- account_circle Mario
- calendar_month 3 menit yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

NTT, Jarrakpos.com- Balai Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (P2SDM) Wilayah VII Kupang tidak hanya mengajarkan keterampilan teknis kepada peserta Bimbingan Teknis (Bimtek) Budidaya Jamur Tiram, tetapi juga menanamkan semangat berwirausaha kepada generasi muda kehutanan. Melalui pelatihan yang berlangsung pada 27–28 Juli 2026, para peserta didorong agar mampu mengubah potensi hasil hutan bukan kayu menjadi peluang usaha yang bernilai ekonomi sekaligus mendukung ketahanan pangan.
Kegiatan bertajuk Peningkatan Kapasitas Wirausahawan Kreatif Kehutanan dan Generasi Pelestari Hutan Melalui Bimbingan Teknis Budidaya Jamur Tiram itu digelar di Balai P2SDM Wilayah VII dan diikuti 30 peserta dari unsur Generasi Pelestari Hutan, siswa SMK Surya Permata Eban, staf Balai P2SDM Wilayah VII, Balai Besar KSDA NTT, Pos Gakkumhut NTT, serta Dharma Wanita Balai P2SDM Wilayah VII.
Kepala Balai P2SDM Wilayah VII, Dr. Muh. Arif Muhammadiyah, S.Hut., M.Sc, mengatakan pembangunan sektor kehutanan saat ini tidak hanya berorientasi pada pelestarian kawasan, tetapi juga pada peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pemanfaatan hasil hutan bukan kayu yang ramah lingkungan.
Menurutnya, budidaya jamur tiram menjadi salah satu peluang usaha yang mudah dikembangkan dan memiliki prospek pasar yang baik.
“Kami ingin membekali generasi pelestari hutan dengan keterampilan yang dapat langsung diterapkan. Harapannya, mereka tidak hanya menjadi penjaga kelestarian hutan, tetapi juga mampu menciptakan usaha produktif yang mendukung ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Arif.
Ketua pelaksana kegiatan, Gamal Arya Widagdo, S.Hut., M.Sc, menjelaskan pelatihan dirancang agar peserta memperoleh pengetahuan secara utuh, mulai dari teknik budidaya hingga strategi pengembangan usaha.
“Peserta tidak hanya belajar cara menanam jamur tiram, tetapi juga memahami pemasaran produk, analisis finansial usaha, pembuatan media tanam atau baglog, hingga proses inokulasi. Kami berharap setelah pelatihan ini mereka memiliki bekal untuk memulai usaha secara mandiri,” kata Gamal.
Ia menambahkan, narasumber Muhammad Ichwan Kadir, S.Hut., M.Hut. dari Universitas Islam Makassar turut membagikan pengalaman praktis mengenai pengembangan usaha jamur tiram sehingga peserta memperoleh wawasan yang lebih komprehensif.
Salah seorang peserta, Rifky Prasetyo Mbelu, mengaku pelatihan tersebut membuka cara pandangnya terhadap potensi hasil hutan bukan kayu yang selama ini belum banyak dimanfaatkan.
“Selama mengikuti bimtek saya mendapat banyak ilmu baru, mulai dari cara membudidayakan jamur tiram hingga bagaimana menghitung peluang usahanya. Ini memberikan motivasi bagi kami untuk mencoba mengembangkan usaha sendiri sekaligus ikut mendukung ketahanan pangan dan menjaga kelestarian hutan,” ungkap Rifky.
Menurutnya, pelatihan semacam ini sangat bermanfaat bagi generasi muda karena memberikan keterampilan yang dapat langsung diterapkan dan berpotensi menjadi sumber pendapatan di masa depan.
Melalui kegiatan tersebut, Balai P2SDM Wilayah VII berharap semakin banyak generasi pelestari hutan yang mampu mengembangkan usaha berbasis hasil hutan bukan kayu. Dengan demikian, pelestarian hutan tidak hanya menjadi tanggung jawab bersama, tetapi juga mampu menghadirkan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat.***
- Penulis: Mario




Saat ini belum ada komentar