Dari Undana untuk Indonesia: Menyiapkan Dosen Profesional Masa Depan
- account_circle Mario
- calendar_month Minggu, 17 Mei 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Oleh: Prof. Dr. Ir. D. Roy Nendissa, M.P., CRA., CRP., C.SEPro
- Guru Besar Bidang Ekonomi Pertanian/ Pemasaran Agribisnis, Fakultas Pertanian Universitas Nusa Cendana (Undana)
- Koordinator Divisi Manajemen Risko – Satuan Pengawas Internal (SPI) Undana
- Instruktur PEKERTI/ AA Universitas Nusa Cendana
NTT, Jarrakpos.com- Di tengah derasnya arus transformasi pendidikan tinggi dan perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), Universitas Nusa Cendana (Undana) di Kupang, Nusa Tenggara Timur, mengambil peran penting dalam mempersiapkan masa depan pendidikan tinggi Indonesia.
Melalui Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M), Undana kembali menyelenggarakan Pelatihan Peningkatan Keterampilan Dasar Teknik Instruksional (PEKERTI) tahun 2026 bagi dosen muda dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
Program ini bukan sekadar pelatihan rutin akademik, tetapi menjadi bagian dari upaya besar untuk membangun kualitas dosen Indonesia di tengah perubahan zaman yang semakin kompleks.
Undana saat ini menjadi satu-satunya perguruan tinggi di Provinsi Nusa Tenggara Timur yang memperoleh lisensi resmi dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi untuk menyelenggarakan program PEKERTI dan Applied Approach (AA).
Tidak hanya itu, Undana juga termasuk dalam kelompok kecil perguruan tinggi di Indonesia yang dipercaya menjalankan mandat strategis tersebut.
Kepercayaan negara itu bukanlah sesuatu yang kecil. Sebab, PEKERTI merupakan salah satu tahapan penting yang wajib diikuti dosen muda sebagai fondasi menuju dosen profesional dan persiapan sertifikasi dosen.
Artinya, apa yang dilakukan Undana hari ini sesungguhnya sedang ikut menentukan kualitas pembelajaran di berbagai perguruan tinggi Indonesia pada masa depan.
Peserta dari Aceh hingga Maluku Utara
Antusiasme terhadap PEKERTI Undana terlihat dari tingginya jumlah peserta yang datang dari berbagai wilayah Indonesia.
Pada PEKERTI Batch 1 tahun 2026, sebanyak 138 dosen muda mengikuti pelatihan yang dibagi ke dalam beberapa kelas.
Para peserta berasal dari Aceh, Jawa Timur, Sulawesi, Nusa Tenggara Timur, dan sejumlah daerah lainnya.
Tingginya minat peserta membuat LP3M Undana kembali melanjutkan program melalui PEKERTI Batch 2 yang diikuti 58 dosen muda dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
Menariknya, jumlah peserta dari Aceh meningkat secara signifikan. Jika pada Batch 1 hanya empat peserta, maka pada Batch 2 meningkat menjadi 10 peserta. Selain itu, peserta juga datang dari Maluku Utara dan sejumlah daerah lainnya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa Undana tidak lagi hanya dipandang sebagai perguruan tinggi regional di kawasan timur Indonesia, tetapi telah berkembang menjadi pusat pengembangan kapasitas dosen pada level nasional.
Pelaksanaan program ini berada di bawah koordinasi LP3M Undana yang dipimpin oleh Dr. Ir. Jacob M. Ratu,M.Kes., sementara kegiatan diketuai oleh Dr. Yeheskial A. Roen, M.Si.
Sebanyak 15 instruktur PEKERTI berlisensi turut dilibatkan dalam pelatihan ini. Mereka berasal dari berbagai disiplin ilmu dan memiliki pengalaman panjang dalam pengembangan pembelajaran perguruan tinggi.
PEKERTI dan Tantangan Pendidikan Era AI
Kegiatan PEKERTI Batch 1 maupun Batch 2 dibuka langsung oleh Rektor Universitas Nusa Cendana, Prof. Dr. Jefri S. Bale, S.T., M.Eng.
Dalam sambutannya, Rektor Undana menegaskan bahwa PEKERTI tidak boleh dipandang sekadar rutinitas administratif
“Kegiatan PEKERTI ini tidak diselenggarakan sebagai rutinitas administratif untuk menggugurkan kewajiban. Ini adalah fondasi awal dan langkah strategis kita dalam menjaga marwah dan kualitas akademik,” tegasnya.
Pidato tersebut menjadi menarik karena tidak hanya berbicara tentang metode mengajar, tetapi juga menyentuh tantangan besar pendidikan tinggi di era disrupsi teknologi dan Artificial Intelligence (AI).
Menurut Prof. Jefri Bale, perkembangan AI telah mengubah perilaku belajar mahasiswa. Saat ini mahasiswa sangat akrab menggunakan AI untuk mencari referensi, merangkum materi, bahkan membantu menjawab tugas-tugas kuliah.
Namun, ia menegaskan bahwa AI tidak boleh dipandang sebagai ancaman.
“AI hanyalah alat bantu, ia adalah copilot. Kitalah para pendidik yang harus tetap menjadi pilot utama pemegang kendali arah pembelajaran,” ujarnya.
Pernyataan tersebut mendapat perhatian besar dari para peserta. Sebab, dunia pendidikan saat ini memang sedang menghadapi perubahan besar: dosen tidak lagi cukup hanya menguasai materi, tetapi juga harus mampu membangun proses berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, komunikasi, karakter, dan kepedulian sosial mahasiswa.
Rektor Undana bahkan mengutip pemikiran Paulo Freire dan filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara dalam sambutannya.
Pendidikan, menurutnya, bukan sekadar transfer pengetahuan, melainkan proses memanusiakan manusia.
Karena itu, dosen dituntut merancang pembelajaran yang bermakna, adaptif, berbasis Outcome-Based Education (OBE), serta mampu mengembangkan metode inovatif seperti case study dan pembelajaran kolaboratif.
Model PEKERTI Terakhir 100 Persen Daring
PEKERTI tahun 2026 ini juga memiliki nilai historis tersendiri.
Pelaksanaan Batch 1 dan Batch 2 menjadi model terakhir PEKERTI yang masih dapat dilaksanakan secara daring penuh atau 100 persen online.
Mulai Juni 2026, model pelaksanaan PEKERTI secara nasional akan berubah menjadi model hibrida, yaitu kombinasi antara pembelajaran daring dan luring.
Perubahan ini menjadi bagian dari penyesuaian kebijakan nasional untuk memperkuat kualitas interaksi pembelajaran, praktik mengajar, dan pendampingan akademik secara lebih komprehensif.
Dengan demikian, penyelenggaraan PEKERTI oleh Undana tahun ini menjadi momentum transisi penting dalam sejarah pengembangan dosen di Indonesia.
LP3M Undana sendiri telah mempersiapkan diri menghadapi perubahan model tersebut, termasuk dengan memperkuat tata kelola pelatihan, kesiapan instruktur, serta integrasi manajemen risiko dalam pelaksanaan kegiatan.
Penerapan manajemen risiko dilakukan untuk memastikan pelatihan berjalan efektif, terukur, dan tetap menjaga kualitas layanan akademik bagi peserta dari berbagai daerah.
Langkah ini menunjukkan bahwa Undana tidak hanya fokus pada pelaksanaan program, tetapi juga pada keberlanjutan mutu dan profesionalisme tata kelola pendidikan tinggi.
Dari Timur Indonesia Menyalakan Cahaya Pendidikan
Apa yang dilakukan Undana hari ini sesungguhnya lebih dari sekadar menyelenggarakan pelatihan dosen. Di balik ruang-ruang virtual PEKERTI, sedang dibangun fondasi masa depan pendidikan tinggi Indonesia.
Dosen-dosen muda yang mengikuti pelatihan hari ini kelak akan kembali ke kampus masing-masing, mengajar ribuan mahasiswa, membentuk karakter generasi baru, dan menentukan kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan.
Dari Kupang, di ujung timur Indonesia, Undana sedang menunjukkan bahwa kualitas, inovasi, dan kontribusi nasional tidak selalu harus lahir dari kota-kota besar di pusat negeri.
Undana sedang membuktikan bahwa dari timur Indonesia pun, cahaya pendidikan dapat dinyalakan untuk menerangi masa depan bangsa.***
- Penulis: Mario




Saat ini belum ada komentar