Inovasi Pendidikan Jasmani Berbasis AI dari Bengkulu Siap Mengubah Cara Mengajar di Kampus Indonesia
- account_circle Sepriyanita
- calendar_month Rabu, 15 Okt 2025
- comment 0 komentar
- print Cetak

BENGKULU, jarrakpos.com — Dunia pendidikan tinggi kembali kedatangan terobosan segar. Tim peneliti Universitas Bengkulu merilis prototipe Collaborative Teacher Education (CTE) PenjasOr, sebuah platform pembelajaran Pendidikan Jasmani berbasis Artificial Intelligence (AI) dan aplikasi Thunkable yang dirancang untuk menjawab persoalan klasik: bagaimana menjaga kualitas kuliah praktik–teori meskipun dosen tim berada di lokasi berbeda.
Prototipe yang dikembangkan melalui skema Program DPPM Prototipe Kemendiktisaintek 2025 ini lahir dari kebutuhan nyata. Hasil studi terhadap 150 mahasiswa dari dua perguruan tinggi menunjukkan bahwa 82 persen mahasiswa mengalami kendala belajar ketika salah satu dosen tim tidak hadir, sementara 76 persen merasa lebih termotivasi menggunakan aplikasi digital sebagai media pembelajaran.
“CTE PenjasOr membuat pembelajaran tetap sinkron meski pengajar berada di lokasi berbeda. Ini menjawab problem besar dalam pembelajaran kolaboratif,” ujar Septian Raibowo, Koordinator Prodi Pendidikan Jasmani FKIP Universitas Bengkulu.
Dalam uji lapangan skala luas, aplikasi ini menunjukkan efektivitas signifikan. Berdasarkan uji statistik, terdapat peningkatan hasil belajar mahasiswa dengan nilai t-hitung 21,213, jauh melewati batas signifikansi. Artinya, penggunaan platform ini tidak hanya nyaman, tetapi juga benar-benar meningkatkan performa akademik.

Aplikasi ini dilengkapi fitur cerdas: materi digital, diskusi interaktif, jadwal kelas virtual terintegrasi Google Meet Google Calendar, hingga AI assistant yang membantu mahasiswa memahami konsep pembelajaran. Tidak ketinggalan, buku panduan ber-ISBN, blueprint produk, dan publikasi media massa telah disiapkan sebagai luaran resmi.
Ketua peneliti, Dra. Yarmani, M.Kes, menegaskan bahwa prototipe ini sudah mulai digunakan di lingkungan Prodi Pendidikan Jasmani UNIB. “Kami ingin memastikan teknologi bukan hanya tren, tapi benar-benar menghadirkan solusi pembelajaran yang adaptif dan kolaboratif,” katanya.
CTE PenjasOr kini bergerak menuju tahap hilirisasi, termasuk pengajuan paten sederhana, kerja sama dengan Dispora, BAPOMI, serta uji implementasi skala provinsi. Target berikutnya adalah Tingkat Kesiapan Teknologi (TKT) level 6, tahap penting menuju komersialisasi edukasi digital nasional.
Terobosan ini memberi sinyal kuat bahwa digitalisasi Pendidikan Jasmani bukan lagi konsep masa depan melainkan kenyataan yang sedang dibangun hari ini. Dan Bengkulu, tampaknya, sedang menyodorkan namanya dalam peta inovasi pendidikan nasional.(isp)
- Penulis: Sepriyanita




Saat ini belum ada komentar