Desak Kepala Dinas Dievaluasi: Pembodohan Massal dalam SPMB SMA DKI Jakarta
- account_circle Putu Sta
- calendar_month Kamis, 18 Jun 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

JAKARTA, jarrakpos.com | Kebijakan Dinas Pendidikan DKI Jakarta dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB/SPMB) SMA dinilai sebagai bentuk pembodohan massal yang terstruktur. Kebijakan ini secara nyata mengkerdilkan nilai rapor dan hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) dengan hanya memberikan bobot gabungan sebesar 40 persen dalam formula Jalur Prestasi Akademik. Langkah ini mencederai keadilan bagi para siswa yang telah berjuang keras meraih nilai tinggi lewat proses belajar mandiri dan ujian objektif.
Dinas Pendidikan DKI Jakarta disinyalir mengeluarkan formula akal-akalan dengan memasukkan bobot nonakademik yang tidak relevan, seperti pengalaman organisasi dan variabel abu-abu lainnya yang rentan dimanipulasi demi kepentingan tertentu. Formula ini secara sengaja menyingkirkan esensi prestasi yang objektif. Seharusnya, pencapaian dan penghargaan TKA yang bersifat nasional yang tercermin kuat di dalam indeks penilaian utama, bukan variabel subjektif yang rawan menjadi celah titipan.
Sistem yang memangkas porsi kompetensi intelektual murni ini dinilai mengabaikan Astacita Poin ke-4 Presiden Prabowo Subianto yang berfokus pada penguatan kualitas SDM, sains, dan pendidikan. Dengan mengecilkan bobot akademik dan menyusupkan kriteria nonakademik yang penuh rekayasa, Pemprov DKI Jakarta dianggap menjauhkan sekolah unggulan dari prinsip meritokrasi dan kualitas sains tinggi. Atas dasar kemunduran standar pendidikan ini, masyarakat mendesak agar Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta segera dievaluasi total.
Merespons ketidakadilan ini, Aliansi Masyarakat Keadilan Pendidikan mendesak pembatalan Jalur Prestasi Akademik SPMB DKI 2026 yang tidak fair tersebut, serta menuntut penindakan tegas terhadap oknum Dinas DKI atas formula bias yang mereka buat. Kami juga meminta Presiden Prabowo Subianto dan Gubernur DKI Jakarta untuk segera turun tangan melakukan intervensi langsung, agar kekacauan sistem yang merugikan siswa berprestasi ini dapat dibenahi dan kejadian serupa tidak berulang di masa depan demi menyelamatkan masa depan generasi muda. (Elwa)
- Penulis: Putu Sta




Saat ini belum ada komentar