Detik-Detik Mencekam di Atas Atap Kayu: Korsleting Listrik Lahap 240 Meter Pesantren Al-Anwariyah, Kitab Suci dan Seragam Santri Hangus Dilalap Api
- account_circle Hadi Supangat
- calendar_month 11 menit yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

CIREBON, JARRAKPOS.COM – Asap hitam pekat membubung tinggi, mencoreng langit siang Kabupaten Cirebon pada Senin (20/7/2026). Sebuah pemandangan memilukan terjadi di Blok 4, Desa Tegal Gubug Lor, Kecamatan Arjawinangun, ketika api dengan ganasnya melahap lantai tiga Yayasan Pondok Pesantren Al-Anwariyah. Dalam hitungan menit, ratusan kitab suci, seragam santri, dan fasilitas belajar hangus menjadi abu akibat dugaan korsleting listrik pada instalasi yang tidak standar.
Kepala Bidang Pencegahan dan Penanggulangan (Kabid PPSP) Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkar) Kabupaten Cirebon, Eno Sujana, menyampaikan kronologi kejadian dengan nada prihatin. Api pertama kali terdeteksi sekitar pukul 13.07 WIB, bermula dari ruangan pengistirahatan santri yang berstruktur semi-permanen dengan atap berbahan kayu.
“Angin yang cukup kencang saat itu menjadi ‘bahan bakar’ tambahan bagi si jago merah. Dari atap kayu, api dengan cepat merambat ke aula tempat belajar di sebelah utara. Bayangkan, jika saat itu ada aktivitas belajar, ancamannya bisa jauh lebih fatal,” ujar Eno Sujana, usai melakukan pengecekan lokasi, Senin sore.
Perlombaan Melawan Waktu
Laporan masuk ke Pos Sektor Arjawinangun pada pukul 13.40 WIB. Hanya dalam waktu tiga menit, armada Regu 2 Sektor Arjawinangun sudah meluncur. Namun, tantangan berat menghadang di depan mata. Akses jalan menuju lokasi yang sempit menyulitkan manuver armada besar.
“Sesampainya di lokasi pukul 13.53 WIB, kondisi sudah sangat kritis. Api sudah menguasai sebagian besar lantai tiga. Kami langsung mengerahkan dua selang, namun karena ketinggian dan intensitas api, kami segera meminta bantuan ke Sektor Palimanan dan Weru untuk back-up stok air dan pencegahan penjalaran,” jelas Eno.
Kolaborasi tiga sektor damkar, dibantu Kapolsek Arjawinangun, Babinsa, perangkat desa, serta keberanian para pengurus pesantren dan santri yang berusaha memadamkan dengan alat seadanya sebelum tim profesional tiba, akhirnya berhasil menekan laju api. Pukul 14.30 WIB, api dinyatakan padam, namun proses pendinginan terus dilakukan hingga pukul 15.45 WIB untuk memastikan tidak ada bara tersisa.
Kerugian Material dan Luka di Hati
Meskipun nihil korban jiwa—sebuah kabar melegakan di tengah musibah—kerugian materiil diperkirakan mencapai Rp 200 juta. Lantai tiga dengan luas total 300 meter persegi mengalami kerusakan parah, di mana 240 meter persegi ludes terbakar. Hanya 60 meter persegi yang selamat.
Barang-barang bernilai sentimental dan spiritual ikut menjadi korban. Kipas angin, lemari pakaian, toren air, hingga pengeras suara (toa) rusak total. Yang paling menyayat hati adalah terbakarnya sejumlah Al-Qur’an dan pakaian santri yang tersimpan di lokasi tersebut.
“Penyebab utama diduga kuat dari instalasi listrik yang tidak memenuhi standar keamanan. Ini menjadi peringatan keras bagi kita semua, khususnya pengelola bangunan semi-permanen atau berbasis kayu, untuk segera melakukan audit kelistrikan. Kelalaian kecil bisa berujung pada bencana besar,” tegas Eno Sujana.
Eno menambahkan, kejadian ini menjadi bukti pentingnya sinergi antara masyarakat, aparat wilayah, dan tim Damkar. Meski akses sulit, koordinasi yang cepat dari pelapor, Abduloh Mubarok, dan respons cepat tiga sektor damkar berhasil mencegah api menjalar ke bangunan lain yang lebih padat.
Hingga berita ini diturunkan, suasana di Pesantren Al-Anwariyah masih diselimuti duka. Para santri dan pengurus kini harus menghadapi kenyataan memulai kembali dari puing-puing, sambil berharap kejadian serupa tidak terulang lagi di masa depan.
- Penulis: Hadi Supangat




Saat ini belum ada komentar