Cetak Pemilih ‘Vulkan’, Pemkab Cirebon dan KPU Gencarkan Sekolah Demokrasi Caruban Nagari
- account_circle Hadi Supangat
- calendar_month 49 menit yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

CIREBON, JARRAKPOS.COM – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Cirebon bersinergi dengan Pemerintah Kabupaten Cirebon menggelar Sekolah Demokrasi Caruban Nagari di Ruang Nyimas Gandasari, Setda Kabupaten Cirebon, Selasa (15/9/2026). Kegiatan yang bertepatan dengan Hari Demokrasi Internasional ini bertujuan mencetak generasi muda tidak hanya sebagai pemilih pasif, tetapi menjadi agen demokrasi yang rasional dan berintegritas.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Cirebon, Hendra Nirmala, yang membacakan sambutan Bupati Imron, menekankan bahwa demokrasi bukan sekadar ritual lima tahunan saat pemilu. Menurutnya, tantangan terbesar demokrasi di era digital adalah menghadapi banjir informasi, hoaks, dan disinformasi.
“Demokrasi membutuhkan masyarakat yang paham hak dan kewajiban, mampu menyaring informasi, serta menghargai perbedaan. Kita harus membangun ekosistem demokrasi yang sehat, cerdas, dan santun,” ujar Hendra. Ia berharap para peserta dapat menjadi corong penyebar nilai-nilai demokrasi positif di lingkungan masing-masing.
Suasana semakin hangat saat Anggota KPU Jawa Barat, Abdullah Sapi’i, memaparkan teori Agens Demokrasi. Ia membagi karakteristik pemilih menjadi tiga: Hobbit (apatis/tidak peduli politik), Hooligan (fanatik buta), dan Vulkan (rasional).
Sapi’i menegaskan bahwa tujuan utama Sekolah Demokrasi Caruban Nagari adalah mengubah pola pikir pemuda Cirebon dari Hobbit atau Hooligan menjadi Vulkan. “Pemilih Vulkan tidak memilih karena kedekatan emosional atau fanatisme sempit. Mereka memilih berdasarkan rekam jejak, kapasitas, dan program kerja calon pemimpin,” jelasnya.
Menariknya, Sapi’i juga membuka peluang bagi generasi muda untuk terlibat langsung dalam penyelenggaraan pemilu. Mengingat 59 persen pemilih di Jawa Barat berasal dari Generasi Y dan Z, ia mendorong mereka untuk mendaftar sebagai anggota PPK, PPS, KPPS, hingga Pantarlih. “Jadilah subjek kepemiluan, bukan sekadar objek yang dipilih-pilih,” imbuhnya.
Ketua KPU Kabupaten Cirebon, Esya Karnia Puspawati, menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang untuk menciptakan akulturasi antar-generasi. Peserta yang didominasi usia hingga 30 tahun dipertemukan dengan berbagai elemen masyarakat dari lima wilayah kabupaten (timur, barat, selatan, utara, dan tengah).
“Kami ingin membentuk ekosistem demokrasi di mana Generasi Z dan Alfa bisa belajar bersama. Tujuannya jelas: mencetak agen-agen demokrasi di setiap sudut wilayah Cirebon,” kata Esya.
Kegiatan yang berlangsung secara hybrid (daring dan luring) ini menjadi langkah konkret Pemkab Cirebon dan KPU dalam memperkuat pondasi demokrasi lokal. Dengan bekal literasi politik yang kuat, diharapkan generasi muda Cirebon dapat menjadi garda terdepan dalam menjaga kualitas pesta demokrasi di masa depan.
- Penulis: Hadi Supangat




Saat ini belum ada komentar