Rahmad Sukendar: HUT Panglima Jilah Momentum Memperkuat Persaudaraan dan Menjaga Adat Dayak
- account_circle Aditya Jarrak
- calendar_month 0 menit yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

KALIMANTAN BARAT,Jarrakpos.com – Ketua Umum BPI KPNPA RI, Tubagus Rahmad Sukendar, menghadiri perayaan HUT ke-46 Panglima Jilah, pemimpin besar Pasukan Merah Tariu Borneo Bangkule Rajakng (TBBR), di Kepatihan, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, Sabtu (22/8/2026).
Perayaan berlangsung meriah dan penuh nuansa adat. Sekitar 3.000 personel Pasukan Merah hadir dalam kegiatan yang menjadi momentum silaturahmi, kebersamaan, sekaligus penghormatan terhadap budaya dan adat istiadat masyarakat Dayak.
Selain dihadiri peserta dari berbagai wilayah di Indonesia, kegiatan tersebut juga dihadiri masyarakat Dayak dari sejumlah negara, antara lain Malaysia, Thailand, Kamboja, dan Vietnam.
Rahmad Sukendar menilai kehadiran ribuan masyarakat dalam kegiatan tersebut menunjukkan bahwa adat dan budaya masih memiliki tempat yang kuat di tengah kehidupan masyarakat.
Menurut Rahmad, keberadaan tokoh adat seperti Panglima Jilah memiliki arti penting dalam menjaga nilai persatuan, gotong royong, dan kebersamaan masyarakat.
“Saya hadir di sini bukan hanya untuk menghadiri sebuah perayaan ulang tahun, tetapi juga untuk melihat langsung semangat persaudaraan dan kebersamaan masyarakat Dayak. Ini merupakan kekayaan budaya Indonesia yang harus kita hormati dan jaga bersama,” ujar Rahmad Sukendar. Minggu (23/8/26).
Ia menegaskan, keberagaman suku, adat, dan budaya merupakan kekuatan bangsa Indonesia. Karena itu, perbedaan tidak seharusnya menjadi sumber perpecahan, melainkan menjadi energi untuk memperkuat persatuan nasional.
“Indonesia dibangun dari keberagaman. Masyarakat Dayak memiliki adat dan budaya yang luar biasa. Selama nilai-nilai adat tersebut dijalankan untuk menjaga kedamaian, persatuan, serta keharmonisan masyarakat, tentu harus kita dukung dan lestarikan,” katanya.
Rahmad juga mengapresiasi semangat Pasukan Merah yang hadir dari berbagai daerah. Menurutnya, kekuatan terbesar sebuah komunitas bukan hanya terletak pada jumlah anggotanya, tetapi pada kemampuan menjaga solidaritas dan mengedepankan kepentingan masyarakat.
“Tiga ribu personel yang hadir hari ini menjadi gambaran besarnya semangat kebersamaan. Tetapi yang paling penting bukan soal jumlah, melainkan bagaimana kebersamaan itu memberikan manfaat bagi masyarakat dan menjaga persatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” tegasnya.
Ia berharap momentum HUT ke-46 Panglima Jilah dapat menjadi pengingat bagi generasi muda untuk tidak melupakan akar budaya dan identitas daerah di tengah arus modernisasi.
Rahmad juga menyampaikan penghargaan kepada Panglima Jilah dan seluruh masyarakat Dayak yang terus mempertahankan adat serta tradisi leluhur.
“Budaya jangan sampai hilang ditelan zaman. Generasi muda harus mengenal sejarah, adat, dan tradisi leluhurnya. Dengan begitu, kita bisa menjadi bangsa yang maju tanpa kehilangan jati diri,” pungkas Rahmad.
Perayaan HUT ke-46 Panglima Jilah tidak hanya menjadi ajang peringatan ulang tahun, tetapi juga momentum mempererat tali persaudaraan masyarakat Dayak dari berbagai wilayah dan negara, sekaligus memperkuat semangat kebhinekaan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.(Aditya)
- Penulis: Aditya Jarrak




Saat ini belum ada komentar