Bupati Gusril dan Dadang Mishal Dorong Kaur Hidupkan Kembali Kejayaan Rempah Cengkeh, Lada dan Pala
- account_circle Sepriyanita
- calendar_month 2 menit yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

KAUR, jarrakpos.com – Ada hal menarik yang muncul di tengah rangkaian pelantikan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Media Online Indonesia (MOI) Kabupaten Kaur. Sebuah obrolan santai antara tokoh pembangunan Provinsi Bengkulu sekaligus Pembina MOI Provinsi Bengkulu, Dadang Mishal, dengan Bupati Kaur Gusril Pausi, justru melahirkan gagasan besar untuk menghidupkan kembali kejayaan komoditas rempah di Bumi Sease Sehijean.
Saat berkunjung ke Rumah Dinas Bupati Kaur, Dadang Mishal bersama rombongan MOI mendapat sambutan hangat dari Bupati Gusril Pausi. Dalam suasana santai dan penuh keakraban itu, Dadang menyampaikan sebuah gagasan yang dinilainya memiliki nilai sejarah sekaligus potensi ekonomi besar bagi masyarakat Kaur.
Gagasan tersebut adalah mengangkat kembali kejayaan Kabupaten Kaur sebagai daerah penghasil rempah-rempah, khususnya cengkeh, lada dan pala.
Menurut Dadang, berbicara tentang Kaur tidak hanya berbicara mengenai pembangunan hari ini. Kabupaten Kaur juga memiliki jejak sejarah panjang dalam perjalanan perdagangan rempah di Bengkulu.
Sejarah Bengkulu mencatat lada telah menjadi salah satu komoditas perdagangan penting sejak berabad-abad lalu. Wilayah pesisir Bengkulu, termasuk jalur perdagangan di bagian selatan, menjadi bagian dari pergerakan komoditas lada yang menarik kedatangan para pedagang dari berbagai daerah dan bangsa asing. Lada bahkan menjadi salah satu komoditas yang mendorong perkembangan pelabuhan-pelabuhan di pantai Bengkulu.
Selain lada, kawasan Bengkulu bagian selatan sejak lama juga dikenal sebagai daerah penghasil cengkeh. Catatan sejarah daerah Bengkulu menyebut lada dan cengkeh sebagai hasil perkebunan rakyat yang penting di kawasan Bengkulu Selatan, yang secara historis juga mencakup wilayah Kaur sebelum pemekaran daerah.
Dadang Mishal menilai sejarah tersebut tidak seharusnya hanya menjadi cerita masa lalu. Belum lagi soal wisata sejarah yang sudah mendapat pengakuan dari Sultan Hamengkubwono, Gubernur Jogja sudah pernah ke Gunung Si Kumbang yang merupakan daerah peradaban tertua dengan ditemukannya puing peninggalan Kerajaan.
“Kaur ini memiliki sejarah yang kuat sebagai daerah penghasil rempah. Kita pernah dikenal melalui komoditas seperti cengkeh dan lada. Bahkan sejarah perdagangan rempah di kawasan Bengkulu telah berlangsung sejak lama dan menjadi bagian dari perjalanan daerah ini,” ujar Dadang Mishal.
Menurutnya, sejarah memiliki nilai strategis apabila mampu diterjemahkan menjadi gerakan ekonomi baru. Ia melihat hingga saat ini masyarakat Kaur masih memiliki hubungan yang kuat dengan tanaman rempah, terutama cengkeh. Di sejumlah wilayah, tanaman cengkeh masih bertahan dan terus dipelihara oleh masyarakat.
“Saya melihat tanaman cengkeh itu masih ada dan masih bertahan. Artinya, potensi itu belum hilang. Tinggal bagaimana kita membangkitkannya kembali dengan pola pengembangan yang lebih serius, terencana dan modern,” katanya.
Dadang menyebut, pengembangan kembali komoditas cengkeh, lada dan pala tidak hanya penting dari sisi ekonomi, tetapi juga dapat menjadi bagian dari penguatan identitas Kabupaten Kaur.
“Kita jangan hanya menjadikan sejarah sebagai cerita bahwa dulu Kaur pernah hebat dalam komoditas rempah. Justru sejarah itu harus menjadi inspirasi untuk masa depan. Kalau dulu rempah dari wilayah ini memiliki nilai perdagangan tinggi, kenapa sekarang kita tidak berusaha mengembalikan kejayaan itu dengan pendekatan yang lebih baik?” tambahnya.
Ia mendorong agar pemerintah daerah bersama masyarakat mulai memetakan kembali kawasan yang cocok untuk pengembangan rempah. Menurutnya, program tersebut dapat dimulai dari skala kecil melalui lahan percontohan, sebelum dikembangkan secara lebih luas.
“Tidak harus langsung besar. Yang penting dimulai. Kita bisa membuat kawasan percontohan cengkeh, lada dan pala. Kalau berhasil, masyarakat akan melihat langsung bahwa komoditas ini masih memiliki masa depan dan nilai ekonomi yang menjanjikan,” ungkap Dadang.
Bupati Gusril Siap Siapkan Lahan Percontohan
Gagasan tersebut langsung mendapat sambutan positif dari Bupati Kaur Gusril Pausi. Ia menilai pengembangan kembali tanaman cengkeh, lada dan pala sangat baik untuk direalisasikan, karena memiliki hubungan erat dengan sejarah sekaligus membuka peluang peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Gusril mengatakan Pemerintah Kabupaten Kaur akan menyiapkan langkah awal melalui lahan percontohan untuk pengembangan tiga komoditas rempah tersebut.
“Ini masukan yang sangat baik. Kita tidak boleh melupakan sejarah daerah kita. Kalau Kaur memang memiliki sejarah dan potensi besar dalam komoditas cengkeh, lada dan pala, maka ini harus kita hidupkan kembali,” ujar Gusril Pausi.
Menurutnya, pembangunan pertanian dan perkebunan tidak boleh hanya mengikuti tren komoditas yang sedang populer. Kaur perlu kembali menggali potensi tanaman yang telah terbukti cocok dengan karakteristik wilayah dan memiliki sejarah panjang di tengah masyarakat.
“Kita akan menyiapkan lahan percontohan. Nanti kita tanam cengkeh, pala dan lada. Ini bisa menjadi awal gerakan baru bagi masyarakat Kaur untuk kembali melihat potensi rempah sebagai sumber ekonomi,” tegasnya.
Bupati menilai, jika dikembangkan dengan perencanaan yang tepat, ketiga komoditas tersebut dapat memberikan penghasilan yang cukup besar bagi petani.
“Harga komoditas rempah ini punya nilai. Memang kita harus melihat pasar, kualitas bibit, produktivitas dan pola pengembangannya. Tetapi yang jelas, cengkeh, lada dan pala memiliki nilai ekonomi yang tidak bisa dipandang sebelah mata,” katanya.
Ia berharap program pengembangan rempah nantinya tidak berhenti sebatas penanaman. Pemerintah daerah juga perlu memikirkan keberlanjutan program, mulai dari penyediaan bibit, pendampingan petani, peningkatan kualitas hasil hingga akses pemasaran.
“Yang kita inginkan bukan sekadar menanam. Setelah masyarakat menanam, hasilnya harus punya pasar. Kita ingin petani benar-benar mendapatkan manfaat dan kesejahteraan dari komoditas yang mereka tanam,” tambah Gusril.
Harga Rempah Masih Menjanjikan
Data terbaru menunjukkan komoditas lada masih memiliki nilai ekonomi tinggi. Statistik Kementerian Pertanian mencatat harga produsen nasional pada Mei 2026 mencapai sekitar Rp123.351 per kilogram untuk lada putih dan Rp87.814 per kilogram untuk lada hitam.
Sementara itu, data harga komoditas di tingkat petani yang diperbarui pada 20 Agustus 2026 mencatat harga lada putih di Bangka berada di kisaran Rp145.500 per kilogram, menunjukkan tingginya nilai pasar komoditas tersebut, meskipun harga dapat berbeda antarwilayah dan kualitas.
Untuk pala, data harga produsen yang tersedia pada Agustus 2026 menunjukkan kisaran sekitar Rp59.433 per kilogram. Sementara harga perdagangan pala berdasarkan kualitas dan bentuk produk dapat berada pada kisaran yang lebih tinggi.
Adapun harga perdagangan cengkeh pada Agustus 2026 tercatat berada pada kisaran sekitar Rp90 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, bergantung pada mutu dan kualitas komoditas. Melihat nilai ekonomi tersebut, gagasan menghidupkan kembali perkebunan rempah di Kabupaten Kaur dinilai bukan sekadar romantisme sejarah.
Bagi Bupati, langkah tersebut dapat menjadi titik awal untuk menghubungkan masa lalu dan masa depan Kaur.
“Kaur punya sejarah, punya tanah, punya masyarakat yang sudah mengenal perkebunan, dan masih memiliki tanaman rempah yang bertahan hingga sekarang. Tinggal kita satukan semua potensi itu menjadi sebuah gerakan bersama,” ujarnya.
Ia juga mengajak kepada seluruh masyarakat Kaur hal ini menjadi suatu gerakan bersama. Dirinya berharap gagasan yang disampaikan kepada Bupati Kaur dapat berkembang menjadi program nyata yang melibatkan pemerintah, petani, akademisi hingga pelaku usaha.
“Kalau ini berhasil, suatu saat nanti Kaur bukan hanya dikenal karena sejarah rempahnya, tetapi kembali dikenal sebagai daerah penghasil rempah berkualitas yang memberikan kesejahteraan bagi masyarakatnya,” demikian Bupati Gusril.
Gagasan yang lahir dari pertemuan santai tersebut kini berpeluang menjadi awal kebangkitan baru komoditas rempah di Kabupaten Kaur, sekaligus upaya mengembalikan cengkeh, lada dan pala sebagai bagian dari identitas dan kekuatan ekonomi daerah.
- Penulis: Sepriyanita




Saat ini belum ada komentar