Usai Wayang Kulit Semalam Suntuk, Sampah Berserakan di Alun-alun Pacitan
- account_circle Yuniardi Sutondo
- calendar_month 2 menit yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

Pacitan,JarrakPos.com-Gelaran wayang kulit semalam suntuk di Alun-alun Pacitan menyisakan pemandangan yang kontras. Di tengah upaya menghadirkan hiburan dan merawat tradisi budaya, hamparan sampah justru menjadi pekerjaan rumah yang kembali berulang.
Usai pertunjukan berakhir, sejumlah sampah terlihat berserakan di area alun-alun. Kondisi tersebut menjadi ironi tersendiri. Sebab, sebelum kegiatan berlangsung, imbauan untuk menjaga kebersihan telah disampaikan. Tempat sampah juga telah disediakan di sejumlah titik.
Namun, fasilitas dan imbauan ternyata belum sepenuhnya diikuti dengan kesadaran untuk menjaga lingkungan.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pacitan, Cicik Roudlotul Jannah, turut prihatin melihat kondisi tersebut. Ia menyentil perilaku sebagian masyarakat yang masih meninggalkan sampah begitu saja setelah menikmati acara.

Usai pertunjukan, sampah nampak tercecer di alun-alun Pacitan.
“Yang meninggalkan sampah seenaknya, inilah hasil karya Anda,” ungkap Cicik dengan nada kesal, Ahad (27/9).
Bagi Cicik, kebersihan bukan semata-mata tanggung jawab petugas kebersihan. Ruang publik yang bersih dan nyaman merupakan buah dari kepedulian bersama.
Alun-alun Pacitan, sebagai salah satu ruang publik dan wajah kota, semestinya menjadi tempat yang tidak hanya ramai oleh aktivitas masyarakat, tetapi juga tetap terjaga kebersihannya setelah kegiatan berakhir.
Sebab, setiap kemeriahan selalu menyisakan konsekuensi. Ketika ribuan orang berkumpul, sampah pun berpotensi bertambah. Di titik inilah kesadaran kolektif dibutuhkan: menikmati hiburan tanpa meninggalkan beban bagi lingkungan.
Menjaga kebersihan pun sesungguhnya tidak membutuhkan tindakan besar. Membawa sampah hingga menemukan tempat pembuangan, memilah jika memungkinkan, serta tidak meninggalkan sampah di ruang publik merupakan langkah sederhana yang dampaknya bisa dirasakan bersama.
Budaya dan lingkungan semestinya berjalan beriringan. Wayang kulit boleh semalam suntuk, tradisi boleh terus hidup, tetapi kebersihan ruang bersama juga harus tetap menjadi bagian dari budaya masyarakat.
“Pacitan bersih dan nyaman jika warganya peduli lingkungan,” tegas Cicik.
Ia pun mengajak masyarakat untuk membangun kebiasaan sederhana tersebut secara bersama-sama.
“Yuk kita bisa,” ajaknya.
Ajakan itu pada akhirnya bukan hanya ditujukan kepada mereka yang hadir dalam pertunjukan wayang kulit. Melainkan kepada seluruh warga Pacitan: bahwa menjaga lingkungan adalah bentuk penghormatan terhadap ruang yang digunakan bersama.
Karena kota yang indah bukan hanya tentang alun-alun yang ramai, pertunjukan yang meriah, atau tradisi yang terus lestari. Kota yang nyaman juga lahir dari warganya yang memiliki kesadaran untuk meninggalkan tempat dalam keadaan lebih baik daripada ketika mereka datang.(Red/yun)
- Penulis: Yuniardi Sutondo




Saat ini belum ada komentar