Menjaga Mata Angin Pendidikan: Pesan Literasi Dr. Itje Chodidjah di SMA Negeri 1 Aimere
- account_circle Mario
- calendar_month Jumat, 19 Des 2025
- comment 0 komentar
- print Cetak

NTT, Jarrakpos.com- Ruang aula SMA Negeri 1 Aimere, Rabu (17/12/2025), tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya sebuah talk show, tetapi juga ruang perenungan tentang makna menjadi guru dan arah pendidikan Indonesia.
Hadir sebagai narasumber, Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO Periode 2021–2025, Dr. Itje Chodidjah, MA, menyampaikan gagasan yang lembut namun menggugah, membumi namun sarat makna.
Di hadapan para guru dan siswa SMAN 1 Aimere, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Dr. Itje mengajak semua yang hadir untuk kembali melihat guru sebagai fondasi kehidupan. Menurutnya, guru bukan sekadar penyampai materi, melainkan pembangun pustaka hidup bagi anak-anak didiknya.
“Buku dan dokumen hanyalah alat. Ia baru menjadi pustaka dan bermakna ketika berada di tangan guru yang punya arah, guru yang tetap menjaga mata anginnya,” tuturnya dengan tenang.

Ia menegaskan bahwa martabat guru sesungguhnya sangat tinggi, meski kerap harus menjalani kehidupan penuh tantangan.
Menjadi guru, kata Dr. Itje, bukan menjadi artis yang hidup di panggung sorotan, melainkan hadir dalam kehidupan nyata anak-anak. Senyum, pilihan kata, dan sikap guru sehari-hari justru merupakan kurikulum yang paling hidup dan membekas.
Dalam refleksinya, Dr. Itje menyebut guru sebagai salah satu pilar utama peradaban manusia.
Namun ia juga mengingatkan bahwa selama dua dekade terakhir, Indonesia masih menghadapi tantangan serius dalam bidang literasi dan numerasi.
Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 yang diumumkan pada 2024 menunjukkan Indonesia berada pada peringkat 69 dari 80 negara yang disurvei.
PISA, jelasnya, bukan sekadar mengukur kemampuan membaca teks, tetapi kemampuan anak memahami tanda-tanda kehidupan, menghargai orang lain, dan mengambil makna dari informasi yang diterima.
“Orang bersekolah itu supaya bisa mengerti dunia dan sesamanya. Itulah literasi,” ujarnya.
Dr. Itje juga mengkritisi pemahaman literasi yang selama ini kerap disederhanakan. Literasi, menurutnya, tidak cukup hanya dengan menyediakan pojok baca atau membiasakan membaca.
Literasi harus dilanjutkan dengan dialog, diskusi, dan perenungan bersama agar membentuk cara berpikir dan perilaku. Dari ruang-ruang kelas seperti di SMA Negeri 1 Aimere, proses itu seharusnya dimulai dan dirawat.
Mengutip data Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan Internasional (OECD), Dr. Itje menjelaskan bahwa tingkat literasi penduduk sangat memengaruhi kualitas hidup suatu bangsa.
Negara dengan literasi tinggi cenderung memiliki masyarakat yang lebih sehat, lebih bahagia, dan lebih mampu mengelola kehidupannya secara bermartabat.
Dalam kesempatan itu, Dr. Itje juga menyampaikan sikap kritisnya terhadap Ujian Nasional di masa lalu.
Ia mengaku sebagai salah satu tokoh yang menolak sistem tersebut karena dinilai terlalu menekankan kisi-kisi dan angka, bukan kualitas literasi dan karakter.
“Saya bangga menolak Ujian Nasional. Sistem itu telah merusak moral bangsa karena anak-anak dibiasakan untuk curang sejak sekolah dasar,” katanya jujur, tanpa nada provokatif.
Ia mengajak dunia pendidikan untuk berani bercermin dan berbenah. Menurutnya, literasi tidak bisa dibangun secara instan, tetapi harus dilatih terus-menerus melalui kebiasaan membaca, berdiskusi, dan berpikir kritis dalam keseharian.
Talk show di SMA Negeri 1 Aimere itu pun menjadi lebih dari sekadar acara seremonial. Ia menjelma menjadi pengingat bahwa pendidikan adalah proses memanusiakan manusia, dan guru, dengan segala kesederhanaannya adalah penjaga arah peradaban.
Dari Aimere, pesan itu mengalir pelan namun dalam: menjaga mata angin pendidikan demi masa depan anak-anak Indonesia.***
- Penulis: Mario




Saat ini belum ada komentar