HAMI: Candaan Dasco soal “Kancil” Wajar, Tak Perlu Dibesar-besarkan
- account_circle admin
- calendar_month Sabtu, 25 Okt 2025
- comment 0 komentar
- print Cetak

JAKARTA, JARRAKPOS — Pernyataan Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, tentang “logo kancil” dalam forum Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (Gekrafs) menuai sorotan publik. Namun, candaan tersebut dinilai tidak berlebihan dan semestinya dipahami dalam konteks acara yang bersifat internal dan non-politik.
Koordinator Nasional Himpunan Aktivis Milenial Indonesia (HAMI), Asip Irama, menegaskan bahwa respons berlebihan atas guyonan tersebut justru menunjukkan kedangkalan dalam memahami ruang komunikasi publik yang sehat.
“Pernyataan Pak Dasco itu murni ekspresi spontan di ruang kreatif. Saya yakini tidak ada niat menyindir, apalagi menjatuhkan. Hanya candaan cair untuk menciptakan suasana akrab. Kita perlu lebih dewasa membacanya,” kata Asip dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (23/7/2025).
Menurut Asip, forum seperti Gekrafs adalah ruang kolektif yang terbuka, yang memerlukan keluwesan dan kehangatan. Dalam konteks itu, kehadiran humor bukan hanya wajar, tapi perlu, untuk meredam formalitas yang kadang kaku.
“Sebagai pemimpin politik senior, Pak Dasco paham betul pentingnya bahasa yang ramah, cair, dan membumi. Bukan berarti semua diksi harus ditarik ke ranah politik. Itu justru melemahkan nalar publik kita sendiri,” tambahnya.
Asip juga menyebut bahwa publik hari ini terlalu mudah tersulut oleh potongan-potongan pernyataan yang dilepaskan dari konteks. Padahal, ujaran politik tidak bisa dibaca dengan tafsir tunggal dan sempit.
“Jika semua humor ditafsirkan sebagai sindiran, maka kita kehilangan ruang untuk tertawa. Padahal dalam demokrasi yang matang, politik tidak harus selalu serius dan tegang. Humor adalah bagian dari kedewasaan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Asip menyatakan bahwa tidak ada satu pun pihak yang secara langsung merasa diserang oleh pernyataan tersebut, termasuk partai politik yang dikaitkan secara spekulatif oleh warganet.
“Jika PSI tidak mempermasalahkan, maka publik juga sebaiknya tidak memancing tafsir yang tidak diucapkan. Kita perlu belajar menahan diri, menimbang konteks, dan tidak terburu-buru menggiring opini,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa publik semestinya mendukung komunikasi politik yang merangkul dan inklusif. Bukan malah menempatkan setiap ekspresi spontan dalam perangkap kecurigaan.
“Justru figur seperti Pak Dasco penting untuk terus hadir dalam ruang kreatif anak muda. Karena beliau mampu menjembatani antara ketegasan kepemimpinan dan kehangatan dialog. Itu modal sosial yang langka,” pungkasnya.
- Penulis: admin




Saat ini belum ada komentar