Gali Nilai Filosofis Topeng Cirebon, Disbudpar Gelar Seminar Hasil Kajian Koleksi 2026
- account_circle Hadi Supangat
- calendar_month Sabtu, 27 Jun 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

CIREBON, JARRAKPIS.COM– Pemerintah Kabupaten Cirebon terus memperkuat upaya pelestarian budaya lokal agar tetap relevan di tengah arus modernisasi. Salah satu langkah strategis dilakukan melalui Seminar Hasil Kajian Koleksi Topeng Cirebon Tahun 2026 yang digelar oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Cirebon di Aula Disbudpar, Jumat (26/6/2026).
Kegiatan ini menjadi wadah penting untuk mengungkap kembali nilai historis, filosofis, dan spiritual yang terkandung dalam koleksi topeng Cirebon. Seminar tersebut juga bertujuan menghasilkan rekomendasi pelestarian budaya yang adaptif terhadap perkembangan zaman tanpa menghilangkan pakem atau tradisi aslinya.
Sekretaris Disbudpar Kabupaten Cirebon, Juju Juhariah, dalam sambutannya menegaskan bahwa topeng Cirebon memiliki kedudukan yang sangat tinggi, bukan sekadar alat pertunjukan.
“Topeng Cirebon bukan sekedar tarian, bukan pula sekedar kedok kayu yang diukir indah. Topeng Cirebon adalah sebuah metafora kehidupan, sebuah tuntunan yang dikemas dalam tontonan, serta warisan adiluhur yang sarat akan nilai filosofis, spiritual, dan historis,” ujar Juju.
Ia menjelaskan bahwa setiap karakter dalam topeng mengandung makna kehidupan yang mendalam. Sebagai contoh, karakter Panji melambangkan kesucian dan keteguhan hati, sedangkan karakter Kelana menggambarkan sifat angkara murka yang menjadi pengingat bagi manusia untuk senantiasa mengendalikan diri.
Menurut Juju, era digital membawa tantangan sekaligus peluang besar bagi eksistensi budaya lokal. Oleh karena itu, strategi pelestarian harus mampu beradaptasi tanpa merusak esensi asli.
“Seminar ini merupakan langkah strategis menggali lebih dalam dan membedakan kembali nilai-nilai historis dan filosofis topeng Cirebon dari berbagai sudut pandang ilmiah. Kami menyusun rekomendasi nyata untuk pelestarian yang adaptif tanpa merusak pakem aslinya,” tambahnya.
Juju berharap hasil kajian ini dapat memperkuat pengembangan pariwisata berbasis budaya serta mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif masyarakat, dengan menjadikan topeng Cirebon sebagai ikon daerah yang mendunia.
Sementara itu, Kepala Bidang Kebudayaan Disbudpar Kabupaten Cirebon, R Moh Al Bana, menekankan aspek edukasi dari topeng tersebut.
“Topeng itu bukan sekadar karya seni dan pelengkap pertunjukan. Akan tetapi, di balik topeng itu menyimpan makna filosofis. Di dalam topeng itu tersimpan norma-norma serta ajaran-ajaran luhur yang ada di kita, khususnya di Kabupaten Cirebon,” tegas Al Bana.
Al Bana menjelaskan bahwa kajian tahun ini berfokus pada koleksi topeng yang tersimpan di Museum Pangeran Cakrabuwana. Tujuannya adalah mengungkap sejarah, nilai filosofis, serta karakter berbagai gaya topeng, seperti gaya Slangit, Gegesik, Losari, dan lainnya, agar semakin dikenal oleh masyarakat, terutama generasi muda.
Acara seminar ini dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat, termasuk guru IPS dan Seni Budaya, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Cirebon, seniman, budayawan, akademisi, jurnalis, serta pegawai Disbudpar Kabupaten Cirebon.
Selain pemaparan hasil kajian dan sesi diskusi interaktif, para peserta juga disuguhkan pertunjukan tari Topeng Cirebon yang dibawakan oleh Sanggar Seni Purwa Sari dari Kecamatan Gegesik, lengkap dengan iringan gamelan secara langsung usai salat Jumat. Pertunjukan ini menjadi bukti nyata bahwa nilai-nilai luhur yang dibahas dalam seminar masih hidup dan dinamis hingga kini.
(Redaksi Jarakpos.com)
- Penulis: Hadi Supangat




Saat ini belum ada komentar