Senior Birokrasi Pacitan Beri Apresiasi, Eno Spith Mudumi Dinilai Punya Modal Masuk JPTP
- account_circle Yuniardi Sutondo
- calendar_month 1 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

Sekrtaris Diskominfo Pacitan, Eno Spith Fitri Yanto Mudumi. (Doc)
Pacitan,JarrakPos.com-Wacana promosi Sekretaris Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Pacitan, Eno Spith Fitri Yanto Mudumi ke jajaran pejabat pimpinan tinggi pratama (JPTP) mulai mendapat perhatian. Sejumlah kalangan menilai rekam jejak, pengalaman birokrasi, serta latar belakang pendidikan menjadi modal penting apabila Eno benar-benar mendapat amanah untuk menduduki jabatan strategis di lingkungan Pemerintah Kabupaten Pacitan.
Apresiasi terhadap sosok Eno salah satunya datang dari purna bakti ASN Pacitan, Sumoro Hadi, yang pernah menjabat sebagai Kepala Dinas Sosial. Menurut Sumoro, promosi seorang pejabat semestinya mempertimbangkan kapasitas, pengalaman, dedikasi, integritas, serta kesesuaian kompetensi dengan jabatan yang akan diemban.
Ia menilai Eno memiliki sejumlah rekam jejak yang dapat menjadi pertimbangan dalam proses pengisian JPTP.
“Tak salah jika pejabat pengambil kebijakan memberikan amanah kepada Eno untuk naik posisi di jajaran JPTP,” kata Sumoro Hadi melalui pesan WhatsApp, Senin (21/9).
Menurut dia, Eno memiliki pengalaman cukup panjang dalam birokrasi pemerintahan. Selain dinilai memiliki dedikasi dan integritas, Eno juga merupakan alumni Sekolah Tinggi Kepamongprajaan, sebuah latar pendidikan yang dinilai memiliki keterkaitan dengan tugas-tugas pemerintahan dan kepemimpinan birokrasi.
Pengalaman tersebut, kata Sumoro, menjadi bagian dari rekam jejak yang layak diperhitungkan ketika pemerintah daerah melakukan proses penempatan pejabat pada posisi strategis.
Eno juga disebut telah cukup lama memimpin bidang di sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD). Pengalaman lintas tugas tersebut membuatnya tidak asing dengan dinamika birokrasi, koordinasi antarperangkat daerah, hingga pelaksanaan kebijakan pemerintahan.
“Mas Eno, terlama di antara teman-temannya,” ujar Sumoro.
Pandangan serupa disampaikan Prayitno, pejabat senior JPTP yang kini menjabat Staf Ahli Bupati Pacitan bidang Ekonomi, Pembangunan dan Keuangan.
Prayitno menyatakan sependapat apabila Eno disebut masuk dalam radar promosi JPTP. Bahkan, jika informasi tersebut benar, ia menilai pengalaman Eno dapat menjadi salah satu pertimbangan dalam pengisian jabatan, termasuk apabila ditempatkan di Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol).
“Pas yen liyane durung suwe (mendapatkan amanah jabatan),” kata Prayitno usai membaca pemberitaan media.
Meritokrasi dan Rekam Jejak
Dalam birokrasi pemerintahan, promosi ke jabatan pimpinan tinggi bukan semata-mata persoalan senioritas. Kompetensi, pengalaman, kinerja, integritas, serta kesesuaian antara kapasitas pejabat dengan kebutuhan organisasi menjadi bagian penting dalam prinsip meritokrasi.
Karena itu, wacana mengenai Eno tersebut menarik jika ditempatkan dalam konteks rekam jejak dan kebutuhan organisasi. Pengalaman panjang dalam sejumlah OPD, latar belakang kepamongprajaan, serta perjalanan karier birokrasi menjadi aspek yang dapat dipertimbangkan dalam proses seleksi dan pengisian jabatan.
Namun demikian, keputusan mengenai siapa yang akan mengisi posisi JPTP tetap menjadi kewenangan pemerintah daerah melalui mekanisme dan tahapan sesuai ketentuan yang berlaku.
Wacana promosi Eno pun untuk sementara masih sebatas pembicaraan di kalangan birokrasi. Belum ada keputusan resmi mengenai penempatan yang bersangkutan pada jabatan JPTP tertentu.
Yang jelas, munculnya nama Eno dalam radar promosi menunjukkan bahwa perjalanan panjang seorang birokrat, pengalaman memimpin organisasi, serta kompetensi yang dimiliki dapat menjadi bagian dari pertimbangan dalam menyiapkan regenerasi kepemimpinan birokrasi di Pacitan.
Pada akhirnya, meritokrasi bukan sekadar memberikan ruang kepada pejabat yang telah lama mengabdi, tetapi memastikan bahwa setiap amanah jabatan diberikan kepada sosok yang memiliki kapasitas dan rekam jejak yang relevan dengan kebutuhan organisasi.(Red/yun).
- Penulis: Yuniardi Sutondo




Saat ini belum ada komentar