Pemkab Cirebon Targetkan Launching Sekolah Rakyat Terintegrasi Akhir Juli, Progres Fisik Capai 80 Persen
- account_circle Hadi Supangat
- calendar_month Minggu, 12 Jul 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

CIREBON, JARRAKPOS.COM – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cirebon mematangkan persiapan operasional Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) yang direncanakan akan diluncurkan pada akhir Juli 2026. Langkah strategis ini diambil untuk memastikan kesiapan sarana dan prasarana sebelum Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dimulai.
Berdasarkan agenda yang telah disusun, proses registrasi dan kedatangan siswa dijadwalkan berlangsung pada 30 Juli 2026. Sehari setelahnya, tepatnya 31 Juli 2026, pelaksanaan MPLS akan digelar secara resmi sebagai tanda dimulainya aktivitas pembelajaran di sekolah tersebut.
Wakil Bupati Cirebon, Agus Kurniawan Budiman atau yang akrab disapa Jigus, menegaskan bahwa kehadiran SRT merupakan wujud nyata komitmen negara dalam menjamin hak pendidikan bagi anak-anak. Dalam rapat koordinasi terkini, Jigus menyampaikan apresiasi kepada pemerintah pusat atas perhatian khusus terhadap pengembangan pendidikan di wilayah Cirebon.
“Alhamdulillah, hari ini saya mewakili Pak Bupati memimpin rapat koordinasi terkait SRT. Sebagaimana disampaikan oleh Ibu Direktur, launching Insyaallah akan dilaksanakan pada 31 Juli tahun ini,” ujar Jigus.
Sekolah yang mengusung konsep terintegrasi ini disiapkan untuk menampung total 540 siswa yang tersebar dalam 18 rombongan belajar. Para siswa merupakan hasil migrasi dari program Sekolah Rakyat yang sebelumnya berada di Kota Cirebon, serta berasal dari Kabupaten Majalengka dan Kabupaten Kuningan.
Secara teknis, Pemkab Cirebon membagi kuota tersebut secara merata untuk tiga jenjang pendidikan. Masing-masing jenjang, yaitu Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Atas (SMA), akan mendapatkan alokasi sebanyak 180 siswa.
Direktur Rehabilitasi Sosial Lanjut Usia, Suratna, menekankan bahwa prioritas utama dalam tahap final pembangunan ini adalah aspek keamanan dan kenyamanan bagi para siswa. Ia mengakui adanya penyesuaian jadwal yang dilakukan semata-mata demi menjamin keselamatan anak didik.
“Jika dipaksakan [sebelum siap], kondisinya akan kurang aman untuk anak-anak. Oleh karena itu, kami memastikan semua benar-benar layak huni dan layak belajar,” ungkap Suratna.
Hingga saat ini, progres pembangunan fisik gedung dilaporkan telah mencapai 80 persen dan terus dikebut penyelesaiannya. Fasilitas pendukung yang disediakan cukup lengkap, meliputi empat unit asrama dengan kapasitas total 544 tempat tidur, serta ruang makan yang mampu menampung 576 set meja dan kursi.
Infrastruktur dasar penunjang operasional seperti akses air bersih, sistem kelistrikan, layanan internet, hingga pengelolaan sampah juga telah dipastikan ketersediaannya. Selain itu, dukungan lintas sektor terus dioptimalkan, termasuk melibatkan Dinas Kesehatan untuk pemeriksaan medis rutin bagi siswa.
“Tenaga pengajar juga sudah siap seluruhnya,” tambah Suratna.
Proses penerimaan siswa akan diawali dengan serah terima resmi dari orang tua kepada pihak sekolah pada 30 Juli 2026. Pemkab Cirebon saat ini tengah melakukan optimalisasi berbagai upaya untuk memastikan target kuota 540 siswa dapat terpenuhi sesuai rencana. Pemerintah daerah optimis bahwa keberadaan SRT akan memberikan dampak positif jangka panjang bagi masa depan pendidikan anak-anak di wilayah tersebut. **(*/Red)**
- Penulis: Hadi Supangat




Saat ini belum ada komentar