Menang Tender Rp131,1 Miliar, PT Bianglala Bali Kembali Jadi Sorotan: Bayang-Bayang Polemik “Candi Bentar-Bentir” Mengiringi Proyek Museum Taman Perdamaian Bali
- account_circle Diana Ningsih
- calendar_month 3 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

BADUNG – Penetapan PT Bianglala Bali sebagai pemenang tender pembangunan Museum Taman Perdamaian Bali senilai Rp131.105.658.871 kembali memantik perhatian publik. Perusahaan tersebut sebelumnya pernah menjadi sorotan luas dalam proyek renovasi penyengker Pantai Seminyak, Legian, dan Kuta pada tahun 2023 yang viral karena bentuk candi bentar dinilai tidak simetris oleh masyarakat dan ramai dijuluki sebagai “candi bentar-bentir” maupun “besar sebelah”.
Kala itu, proyek yang dibiayai APBD Kabupaten Badung dengan nilai sekitar Rp27,3 miliar menuai kritik di berbagai platform media sosial. Foto-foto hasil pekerjaan beredar luas dan memunculkan beragam komentar mengenai kualitas pengerjaan proyek di kawasan destinasi wisata internasional Bali. Polemik tersebut kemudian menjadi salah satu isu yang paling banyak diperbincangkan publik terkait kualitas pembangunan infrastruktur berbasis arsitektur Bali.
Kini, di tengah masih melekatnya ingatan publik terhadap polemik tersebut, PT Bianglala Bali kembali dipercaya mengerjakan proyek pemerintah dengan nilai yang jauh lebih besar.
Berdasarkan dokumen hasil tender, perusahaan itu ditetapkan sebagai pemenang pembangunan Museum Taman Perdamaian Bali dengan nilai penawaran Rp131,1 miliar. Nilai tersebut berada di bawah Harga Perkiraan Sendiri (HPS) sebesar sekitar Rp133,79 miliar dari total pagu anggaran yang mencapai sekitar Rp145,7 miliar.
Museum Taman Perdamaian Bali dirancang sebagai salah satu proyek strategis di kawasan Kuta. Bangunan tersebut diproyeksikan menjadi pusat edukasi sekaligus memorial yang mengangkat pesan perdamaian dunia. Fasilitas yang direncanakan meliputi ruang pameran, auditorium, area multimedia, ruang terbuka hijau hingga basement bertingkat.
Besarnya nilai proyek serta lokasinya yang berada di jantung kawasan pariwisata Bali membuat perhatian masyarakat semakin tinggi. Banyak kalangan berharap proyek tersebut dapat dikerjakan dengan kualitas konstruksi yang memenuhi standar teknis sekaligus mencerminkan nilai estetika arsitektur Bali.
Di tengah antusiasme pembangunan museum tersebut, rekam jejak PT Bianglala Bali kembali menjadi bahan perbincangan. Sebagian masyarakat mempertanyakan sejauh mana pengalaman dan kualitas pekerjaan sebelumnya menjadi bagian dari evaluasi dalam proses pengadaan proyek pemerintah. Di sisi lain, terdapat pula pandangan bahwa perusahaan yang pernah menjadi sorotan tetap memiliki kesempatan untuk membuktikan peningkatan kualitas pekerjaan selama memenuhi seluruh persyaratan dan ketentuan dalam proses tender.
Polemik “candi bentar-bentir” sendiri hingga kini masih kerap dijadikan contoh dalam diskusi publik mengenai pentingnya pengawasan terhadap proyek pemerintah. Kritik yang muncul saat itu lebih banyak menyoroti aspek estetika bangunan yang dianggap tidak presisi sehingga dinilai kurang mencerminkan kualitas konstruksi yang diharapkan masyarakat Bali.
Karena itu, pembangunan Museum Taman Perdamaian Bali dipandang bukan sekadar proyek fisik bernilai ratusan miliar rupiah, melainkan juga ujian terhadap komitmen menjaga mutu pekerjaan, akuntabilitas penggunaan anggaran, serta citra Bali sebagai daerah yang menjunjung tinggi kualitas arsitektur, seni, dan budaya.
Dengan nilai kontrak mencapai lebih dari Rp131 miliar, ekspektasi publik terhadap proyek ini pun semakin tinggi. Masyarakat berharap seluruh tahapan pelaksanaan berlangsung secara profesional, transparan, dan diawasi secara ketat sehingga hasil akhirnya benar-benar menjadi ikon baru yang membanggakan, bukan kembali memunculkan polemik seperti yang pernah terjadi sebelumnya.
Pada akhirnya, keberhasilan proyek ini akan dinilai bukan hanya dari selesainya pembangunan sesuai jadwal dan administrasi, tetapi juga dari kualitas konstruksi, ketepatan pengerjaan, estetika bangunan, serta manfaat yang dapat dirasakan masyarakat. Museum Taman Perdamaian Bali diharapkan menjadi simbol perdamaian yang berdiri kokoh sekaligus menunjukkan bahwa setiap rupiah uang rakyat dikelola dengan penuh tanggung jawab.
- Penulis: Diana Ningsih




Saat ini belum ada komentar