Ketika Dasco Memilih Tersenyum pada Bendera Bajak Laut
- account_circle admin
- calendar_month Sabtu, 25 Okt 2025
- comment 0 komentar
- print Cetak

Penulis adalah Asip Irama, Koordinator Nasional Himpunan Aktivis Milenial Indonesia (HAMI)
Agustus selalu punya aroma yang khas di tanah ini. Jalan-jalan kampung dihiasi umbul-umbul, anak-anak berlomba lari karung, dan di langit, Merah Putih berkibar di antara suara toa yang memutar lagu-lagu perjuangan. Di sela gegap gempita itu, tahun ini, ada pemandangan yang tak biasa: sebuah bendera bergambar tengkorak ala One Piece ikut menari di tiang.
Bagi sebagian orang, ini hanya gurauan anak muda, mungkin hasil kesepakatan konyol di warung kopi, atau sekadar iseng menggabungkan kemerdekaan dengan kecintaan pada dunia fiksi. Tapi di mata sebagian lain, ini adalah “penghinaan simbol negara”, ancaman terhadap sakralitas kemerdekaan. Di tengah riuh itu, suara-suara mulai meninggi, sebagian mendesak agar pemilik bendera dihukum.
Namun di titik inilah Wakil Ketua DPR, Sufmi Dasco Ahmad, menunjukkan sikap yang berbeda. Ia tidak mengerutkan dahi, tidak pula melontarkan ancaman hukum. Dengan gaya yang ringan, ia berkata kira-kira begini: jangan dibesar-besarkan. Itu hanya ekspresi kreativitas dan kegemaran anak muda terhadap budaya pop. Selama Merah Putih tetap menjadi bendera utama dan penanda persatuan bangsa, tak ada yang perlu diributkan.
Kita mungkin lupa, bahwa simbol tidak hanya hidup dari kain dan warna, tetapi dari niat yang mengibarkannya. Bendera bajak laut itu lahir dari ruang imajinasi, bukan dari ruang makar. Dan Dasco, dengan jenaka, mengingatkan bahwa kemerdekaan justru memberi ruang untuk bermain, tertawa, dan mengekspresikan diri.
Namun keluwesan itu bukan berarti lengah. Ia tetap mengingatkan: semua simbol bisa disalahgunakan. Dalam sejarah, banyak perpecahan berawal dari lambang yang dipelintir maknanya. Kewaspadaan tetap perlu, tetapi kewaspadaan tidak harus melahirkan paranoia.
Sikap ini mengingatkan pada cara Gus Dur dulu memandang bendera Bintang Kejora di Papua, bahwa ia bisa menjadi simbol identitas, bukan semata simbol perlawanan, selama Merah Putih tetap berdiri di atasnya. Ada kepercayaan di sana, bahwa rakyat yang diberi ruang justru akan semakin percaya pada negara.
Bangsa ini sejak awal berdiri adalah ruang perjumpaan simbol-simbol. Merah Putih tidak lahir untuk meniadakan warna lain, melainkan menjadi atap bagi semua warna itu. Di bawahnya ada batik dan songket, ada topeng Bali dan ukiran Asmat, ada gendang, sasando, dan gamelan. Di era sekarang, mungkin ada pula poster anime, kaos band metal, dan ya, bendera bajak laut dari dunia manga.
Generasi yang lahir di era internet hidup dalam arus budaya global. Identitas mereka adalah mozaik, ada bahasa daerah, ada bahasa gaul media sosial, ada lirik lagu Korea, ada kutipan film Hollywood. Menutup pintu bagi itu semua adalah menutup pintu bagi dunia tempat mereka tumbuh. Tantangannya bukan menolak arus itu, melainkan menanamkan akar agar ketika mereka bermain jauh, mereka tetap tahu jalan pulang.
Dasco, mungkin tanpa bermaksud menjadi filsuf, telah menunjukkan satu hal penting: persatuan tidak dibangun dari larangan semata, tapi dari pemahaman. Kreativitas tidak harus dipandang sebagai ancaman. Bahkan, jika diarahkan, ia bisa menjadi bahasa baru untuk mencintai negeri ini.
Sayangnya, di negeri ini, kita sering terlalu cepat marah. Kita lebih mudah menegakkan palu vonis daripada membuka percakapan. Kita lupa bahwa harmoni sosial kadang tumbuh dari keluwesan, dari kemampuan untuk tersenyum sambil menegaskan batas.
Di hadapan bendera bajak laut itu, Dasco memilih tersenyum. Senyum itu bukan tanda kelemahan, melainkan tanda percaya bahwa Merah Putih yang telah berkibar di medan perang, menembus hujan peluru, tidak akan runtuh hanya karena sehelai kain bergambar tengkorak ikut berkibar sehari.
Mungkin, di titik inilah kita belajar: nasionalisme bukanlah kegaduhan mencari ancaman di setiap sudut, melainkan keteguhan hati yang tak mudah diusik. Sebab kemerdekaan bukan hanya soal mempertahankan tanah dan laut, tetapi juga soal merawat ruang di mana rakyatnya bisa tertawa, berkreasi, bahkan bersenda gurau, tanpa takut kehilangan tanah airnya.
Agustus akan terus datang setiap tahun, dengan warna dan ceritanya sendiri. Mungkin tahun depan akan ada bendera lain yang mengundang tawa atau debat. Tapi selama Merah Putih tetap berkibar di puncak, dan selama hati kita tetap mengakui bahwa itulah payung persatuan kita, bangsa ini akan baik-baik saja. Sebab kekuatan kita bukan pada kain itu sendiri, tetapi pada kesepakatan bersama untuk hidup di bawahnya.
Dan mungkin, di sela semilir angin kemerdekaan, kita perlu belajar tersenyum seperti Dasco. Sebab dalam satu senyum itu, terkandung keyakinan bahwa persatuan bangsa ini tak rapuh, dan kemerdekaan selalu punya ruang untuk sedikit tawa, tanpa kehilangan hormat pada Merah Putih yang menjadi rumah kita bersama.
- Penulis: admin




Saat ini belum ada komentar