Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » DAERAH » Ancaman Kekeringan, Distan NTT: Bendungan Ada, Saluran “Cacing” Belum Dibangun

Ancaman Kekeringan, Distan NTT: Bendungan Ada, Saluran “Cacing” Belum Dibangun

  • account_circle Mario
  • calendar_month 22 menit yang lalu
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

NTT, Jarrakpos.com- Ancaman kekeringan masih membayangi sektor pertanian di sejumlah wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT). Di tengah upaya pemerintah menjaga ketersediaan air bagi lahan pertanian, persoalan infrastruktur irigasi masih menjadi tantangan karena sejumlah bendungan belum sepenuhnya didukung jaringan saluran hingga ke kawasan persawahan.

Kepala UPTD Proteksi Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT, Gabriel Gara Beni, mengatakan keberadaan bendungan belum otomatis membuat air dapat dimanfaatkan petani jika jaringan irigasi tersier belum tersedia.

Ia mencontohkan Bendungan Raknamo dan Tilong. Menurutnya, kedua sumber air tersebut memiliki potensi untuk mendukung pertanian, tetapi jaringan saluran yang membawa air hingga ke lahan petani masih menjadi persoalan.

“Seperti di Raknamo atau Tilong itu belum sampai pada istilahnya saluran cacingnya. Jadi air yang ada mau dialirkan ke mana? Ke daerah-daerah persawahan tidak mungkin karena saluran itu belum ada,” kata Gabriel, (7/10/2026).

Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri di tengah ancaman kekeringan yang masih terjadi di sejumlah wilayah NTT. Air yang tersedia di bendungan belum sepenuhnya dapat menjangkau lahan pertanian apabila jaringan distribusinya belum terbangun.

Gabriel mengatakan dampak kekeringan saat ini sudah dilaporkan dari sejumlah daerah. Berdasarkan pemantauan di lapangan, wilayah yang mengalami dampak cukup signifikan antara lain Kabupaten Kupang, Sumba Barat, Manggarai Timur dan Manggarai.

Didampingi Kepala Seksi terkait, Asma Kurniawati Karin, ia menjelaskan kondisi kekeringan telah menjadi perhatian sejak pemerintah menerima informasi peringatan dini terkait kondisi iklim.

Asma mengatakan, sejak memasuki periode musim tanam, petani telah mendapatkan informasi mengenai potensi kondisi kemarau yang perlu diantisipasi.

“Memang sudah ada beberapa laporan kekeringan,” kata Asma.

Di Kabupaten Kupang dan Sumba Barat, dampak kekeringan telah dirasakan pada tanaman pertanian. Sementara di wilayah Flores, persoalan ketersediaan air juga diperparah oleh kerusakan atau gangguan saluran irigasi akibat gempa.

Dari sejumlah komoditas pertanian, padi dan jagung menjadi tanaman yang paling berisiko terdampak kekeringan.

Gabriel mengatakan, dalam kondisi keterbatasan air, petani perlu mempertimbangkan jenis tanaman yang lebih mampu beradaptasi dengan kondisi kering.

“Padi dengan jagung itu sudah pasti (terdampak),” ujarnya.

Sementara tanaman pangan seperti kacang-kacangan dan ubi dinilai masih memiliki kemampuan bertahan dengan memanfaatkan kearifan lokal petani.

Untuk tanaman hortikultura, Dinas Pertanian menganjurkan pengembangannya dilakukan pada lokasi yang masih memiliki sumber air.

“Tanaman kacang-kacangan yang tidak banyak butuh air. Untuk hortikultura, yang masih ada sumber-sumber air kita anjurkan tanam hortikultura,” kata Gabriel.

Menghadapi kondisi tersebut, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTT juga mengingatkan petani agar tidak terburu-buru memulai musim tanam hanya karena hujan mulai turun.

Gabriel mengatakan, sebagian petani memiliki kebiasaan langsung menanam setelah turun hujan satu atau dua kali. Padahal, kondisi tersebut belum tentu menandakan musim hujan sudah benar-benar berlangsung.

“Biasanya petani kita satu-dua kali tanam dia langsung tanam. Padahal itu sebenarnya belum musim hujan,” ujarnya.

Karena itu, petugas pertanian di lapangan diarahkan untuk terus memberikan informasi kepada petani mengenai perkembangan musim dan waktu tanam.

Gabriel menyebut, secara umum awal musim tanam diarahkan sekitar Desember hingga Januari, dengan harapan petani dapat melakukan penanaman secara lebih serempak.

“Minimal Desember sudah bisa mulai tanam serempak,” katanya.

Namun, kondisi setiap wilayah tetap berbeda. Untuk wilayah Flores, khususnya Manggarai dan Manggarai Timur, kondisi pada awal November masih dapat memungkinkan kegiatan pertanian. Sementara wilayah daratan Timor dan Sumba masih menghadapi kekeringan.

Pemerintah Provinsi NTT juga menyiapkan dukungan bagi kelompok tani yang terdampak kekeringan melalui kegiatan penanganan dampak iklim dalam APBD.

Salah satu bentuk dukungan tersebut adalah brigade alat dan mesin pertanian (alsintan), termasuk pompa air yang dapat dimanfaatkan untuk membantu kelompok tani.

Namun, penggunaan pompa hanya efektif jika masih tersedia sumber air.

“Mana kala ada kelompok-kelompok tani yang mengalami kekeringan, kita bisa bantu dengan bantuan pompa air, tetapi pada daerah-daerah yang memang sumber airnya ada,” jelas Gabriel.

Menurutnya, persoalan di lapangan tidak semata-mata mengenai ada atau tidaknya pompa.

“Kadang sumber air tidak ada. Kalau pompanya ada, debit air tidak ada, ya sama saja,” tegasnya.

Karena itu, ketersediaan sumber air dan jaringan distribusi menjadi bagian penting dalam menghadapi kekeringan.

Untuk memantau perkembangan dampak kekeringan, Dinas Pertanian NTT memiliki sistem pelaporan secara berjenjang.

Laporan tersebut kemudian diverifikasi oleh UPTD Proteksi Tanaman sebelum diteruskan secara berkala kepada Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan.

“Sebulan itu dua kali, pertengahan bulan dan akhir bulan kita laporkan ke Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan untuk ditindaklanjuti,” ujar Gabriel.

Sistem tersebut menjadi dasar pemerintah untuk mengetahui perkembangan dampak kekeringan sekaligus menentukan langkah penanganan di lapangan.

Selain pompa air, pemerintah juga dapat memberikan bantuan benih bagi petani yang mengalami gagal tanam akibat kondisi kekeringan.

Gabriel mengatakan bantuan tersebut diberikan berdasarkan laporan dari petani dan hasil penanganan di lapangan.

“Manakala ada petani gagal tanam dan laporan masuk ke kami, kami bisa tindaklanjuti, baik melalui benih di APBD maupun APBN,” katanya.

Bantuan benih tersebut diarahkan untuk mendukung petani pada musim tanam berikutnya.

Di tengah ancaman kekeringan, Dinas Pertanian NTT berharap petani tidak hanya mengandalkan kebiasaan dalam menentukan waktu tanam, tetapi juga mempertimbangkan informasi cuaca, ketersediaan air dan kondisi lahan.

Sebab, selain persoalan sumber air, kemampuan mengalirkan air hingga ke lahan menjadi faktor penting. Bendungan yang memiliki cadangan air tidak akan banyak membantu petani apabila jaringan saluran belum mampu menjangkau persawahan.

Karena itu, penguatan jaringan irigasi, pemanfaatan sumber air yang tersedia, penyesuaian waktu tanam dan pemilihan komoditas menjadi bagian penting dalam menghadapi ancaman kekeringan di NTT.***

  • Penulis: Mario

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Eldy Kana Kawal Aspirasi Warga, Jalan Lapen Eza Jaya Tofa Jawab Keluhan Bertahun-tahun

    Eldy Kana Kawal Aspirasi Warga, Jalan Lapen Eza Jaya Tofa Jawab Keluhan Bertahun-tahun

    • calendar_month Minggu, 18 Jan 2026
    • account_circle Mario
    • visibility 254
    • 0Komentar

    NTT, Jarrakpos.com- Perjuangan aspirasi warga kembali berbuah hasil. Pembangunan jalan lapen di Perumahan Eza Jaya Tofa, Kelurahan Maulafa, menjadi bukti nyata komitmen anggota DPRD Kota Kupang, Djuniedi Kana (Eldy Kana) dari Partai Demokrat, dalam mengawal kebutuhan dasar masyarakat. Eldy Kana menegaskan, pembangunan sekaligus pembukaan akses jalan baru tersebut merupakan aspirasi warga yang telah lama disuarakan, […]

  • Festival Budaya Penkase Oeleta Satukan Warga, Jadi Miniatur Keberagaman Kota Kupang

    Festival Budaya Penkase Oeleta Satukan Warga, Jadi Miniatur Keberagaman Kota Kupang

    • calendar_month Minggu, 3 Mei 2026
    • account_circle Mario
    • visibility 220
    • 0Komentar

    NTT, Jarrakpos.com- Kelurahan Penkase Oeleta, Kecamatan Alak, menghadirkan semarak kebersamaan melalui Festival Budaya tahun 2026 yang untuk pertama kalinya digelar di tingkat kelurahan. Kegiatan ini menjadi bagian dari perayaan Hari Ulang Tahun Kota Kupang sekaligus ajang mempererat persatuan masyarakat yang majemuk. Lurah Penkase Oeleta, Pether F. Nenohaefeto, menjelaskan bahwa festival ini melibatkan seluruh unsur masyarakat, […]

  • 20 Tim Ramaikan Kejurda Bola Voli Raja Inal Cup III 2026 di Sipirok

    20 Tim Ramaikan Kejurda Bola Voli Raja Inal Cup III 2026 di Sipirok

    • calendar_month Senin, 11 Mei 2026
    • account_circle Syawal
    • visibility 198
    • 0Komentar

    Medan – Sejumlah 20 tim bersaing pada Kejuaraan Daerah (Kejurda) Bola Voli Antar Pelajar Raja Inal Cup III 2026 di Gelanggang Olahraga (GOR) Sibualbuali, Kompleks Yayasan Pendidikan Marsipature Hutana Be (YPMHb), Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), pada 11-16 Mei 2026. Dua tim bola voli dari luar Provinsi Sumatera Utara turut ambil bagian, yakni SMKN 1 […]

  • Kota Magelang Raih Juara I Mandaya Awards 2025 Kategori Kota

    • calendar_month Jumat, 17 Okt 2025
    • account_circle Feri Taufiandi
    • visibility 716
    • 0Komentar

    KOTA MAGELANG,JARRAKPOS.COM  – Kota Magelang meraih juara 1 penghargaan Mandaya Awards 2025 untuk kategori Kota, atas pencapaiannya dalam menghadirkan praktik baik pemberdayaan masyarakat yang inspiratif serta berdampak bagi komunitas, lingkungan sosial, dan ekologi di wilayahnya. Penghargaan diserahkan Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) Muhaimin Iskandar dalam pada Puncak Penganugerahan Mandaya Awards 2025, Kamis (16/10/2025), di […]

  • Bikin Rugi Rp30,6 Miliar: Polda Kepri Ringkus 7 Tersangka Korupsi Proyek Dermaga Batam

    Bikin Rugi Rp30,6 Miliar: Polda Kepri Ringkus 7 Tersangka Korupsi Proyek Dermaga Batam

    • calendar_month Sabtu, 25 Okt 2025
    • account_circle admin
    • visibility 928
    • 0Komentar

    Batam, jarrakpos.com |  Kapolda Kepulauan Riau Irjen. Pol. Asep Safrudin, S.I.K., M.H., memimpin konferensi pers pengungkapan kasus tindak pidana korupsi pada proyek Revitalisasi Kolam Dermaga Utara Terminal Batu Ampar, Batam. Proyek dengan nilai kontrak Rp75,5 miliar tersebut, berdasarkan hasil audit investigatif Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI, menimbulkan kerugian keuangan negara hingga mencapai Rp30,6 miliar. Konferensi […]

  • Dispora Bengkulu Ajak Pemuda Lestarikan Budaya Lokal di Bulan Ramadhan

    Dispora Bengkulu Ajak Pemuda Lestarikan Budaya Lokal di Bulan Ramadhan

    • calendar_month Sabtu, 25 Okt 2025
    • account_circle admin
    • visibility 467
    • 0Komentar

    BENGKULU,Jarrakpos.com – Bulan Ramadhan bukan hanya momen untuk meningkatkan ibadah, tetapi juga kesempatan bagi pemuda Bengkulu untuk melestarikan budaya lokal. Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Provinsi Bengkulu mengajak generasi muda untuk mengisi bulan suci dengan kegiatan positif yang juga memperkuat tradisi daerah, seperti pencak silat, seni hadrah, dan tradisi berbagi khas Bengkulu. Kepala Dispora Provinsi […]

expand_less