Ketua Forum Guru NTT Dukung Layanan Gratis SMKN 5 Kupang: SMK Harus Jadi Laboratorium Pembangunan NTT
- account_circle Mario
- calendar_month 2 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

NTT, Jarrakpos.com- Rumah warga, bengkel, hingga lokasi pemasangan instalasi listrik dan panel surya kini menjadi ruang kelas baru bagi siswa SMK Negeri 5 Kupang.
Melalui program “Belajar Sambil Mengabdi”, siswa tidak lagi hanya belajar memperbaiki peralatan di laboratorium sekolah, tetapi turun langsung ke tengah masyarakat untuk menghadapi persoalan nyata sekaligus memberikan layanan tanpa biaya jasa.
Terobosan tersebut mendapat apresiasi dan dukungan dari Ketua Forum Guru NTT, Jusup KoeHoea, S.Pd., CPA (JK). Menurutnya, apa yang dilakukan SMKN 5 Kupang merupakan contoh konkret bagaimana pendidikan kejuruan dapat keluar dari pola pembelajaran yang hanya berpusat di ruang kelas dan mulai mengambil peran dalam menjawab kebutuhan masyarakat.
“Saya mendukung penuh program layanan gratis yang dilakukan SMKN 5 Kota Kupang. Ini bukan sekadar pelayanan sosial, tetapi merupakan bentuk pengabdian sekolah kepada masyarakat, sekaligus pembelajaran nyata bagi siswa. Anak-anak tidak hanya belajar teori, tetapi belajar menyelesaikan persoalan masyarakat secara langsung,” ujar JK, (12/9/2026).
Menurut JK, konsep tersebut bahkan dapat dikembangkan lebih jauh. Ia menilai SMK harus dipandang sebagai salah satu kekuatan pembangunan daerah, bukan hanya sebagai lembaga yang bertugas mencetak lulusan.
Rumah Warga Menjadi Kelas Praktik
Program layanan gratis SMKN 5 Kupang mulai dijalankan pada tahun pelajaran 2026/2027 dengan melibatkan empat kompetensi, yakni Teknik Ketenagalistrikan, Teknik Elektronika Industri, Teknik Otomotif, dan Teknik Energi Terbarukan.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala SMK Negeri 5 Kupang, Yakobus Boro Bura, mengatakan program tersebut lahir dari evaluasi sekolah terhadap kemampuan siswa.
“Setelah kita mengevaluasi output keterampilan anak-anak kita di SMK Negeri 5 Kupang, titik lemahnya itu ada di public speaking, kemudian kemampuan praktiknya,” ujar Yakobus saat ditemui media di ruang kerjanya, Rabu, 9 September 2026.
Karena itu, sekolah menghadirkan model pembelajaran yang membuat siswa berhadapan langsung dengan persoalan masyarakat.
Ketika sebuah kipas angin tidak berfungsi, magicom rusak, setrika bermasalah, televisi mati, sepeda motor membutuhkan servis, instalasi listrik perlu diperiksa, atau panel surya membutuhkan pemeliharaan, persoalan tersebut menjadi bagian dari proses belajar siswa.
Rumah warga akhirnya bukan hanya tempat pelayanan, tetapi juga menjadi kelas praktik.
Siswa belajar menerima keluhan, memahami persoalan, menganalisis penyebab kerusakan, menentukan tindakan, melakukan perbaikan, menguji hasil pekerjaan hingga menjelaskan kembali kepada pelanggan.
“Program ini menjadi bagian dari pembelajaran. Tempatnya yang berbeda, ada yang di dalam kelas dan ada yang di luar kelas. Memang itu yang menjadi harapan dari kurikulum, sehingga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pembelajaran,” kata Yakobus.
20 Pekerjaan Sudah Ditangani
Meski baru berjalan sejak pekan sebelumnya, respons masyarakat terhadap layanan tersebut disebut cukup positif.
Sampai dengan hari ini, Sabtu, 12 September 2026 sudah 20 pekerjaan yang ditangani secara gratis.
Pekerjaan tersebut antara lain perbaikan kipas angin, magicom atau rice cooker, setrika, televisi, dinamo, pengelasan, sepeda motor hingga panel surya.
“Sejauh ini semuanya berhasil dan tuntas. Semua yang kita layani dapat tertangani dengan baik dan hasilnya diterima baik oleh pelanggan,” katanya.
Namun, setiap pekerjaan tidak langsung dianggap selesai setelah perbaikan dilakukan.
Peralatan akan diuji kembali untuk memastikan fungsi dan hasilnya sesuai dengan keluhan pelanggan. Jika masih ditemukan persoalan, siswa bersama guru akan melakukan analisis dan perbaikan lanjutan.
Dengan pola tersebut, siswa belajar bahwa pekerjaan teknis bukan hanya soal memperbaiki, tetapi memastikan solusi yang diberikan benar-benar menyelesaikan persoalan pelanggan.
Empat Kompetensi Turun Melayani Warga
Layanan SMKN 5 Kupang mencakup berbagai kebutuhan masyarakat.
Teknik Energi Terbarukan melayani pemasangan dan perawatan panel surya, pemeriksaan instalasi listrik, servis pompa air tenaga surya maupun listrik, edukasi dan konsultasi energi terbarukan serta perawatan peralatan listrik rumah tangga.
Teknik Otomotif memberikan layanan utama berupa servis sepeda motor.
Teknik Elektronika Industri menangani berbagai peralatan elektronik seperti televisi, sound system, kipas angin, rice cooker, dispenser, setrika listrik, running text, dinamo air dan peralatan lainnya.
Sementara Teknik Ketenagalistrikan melayani instalasi baru jaringan listrik rumah tangga, pemeliharaan instalasi listrik serta instalasi kontrol motor pompa air.
Pelayanan dilakukan melalui service center sekolah. Masyarakat menyampaikan keluhan, lokasi dan kebutuhan, kemudian sekolah menentukan tim sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan.
Siswa tidak bekerja sendiri. Guru dari program keahlian terkait mendampingi setiap kegiatan di lapangan.
Jumlah siswa yang diterjunkan disesuaikan dengan tingkat kesulitan pekerjaan. Untuk pekerjaan ringan, minimal dua siswa dari program keahlian terkait dapat dilibatkan.
Selain itu, siswa Desain Komunikasi Visual (DKV) juga dapat bergabung untuk mendokumentasikan kegiatan melalui foto dan video, melakukan wawancara dengan pelanggan dan siswa, kemudian mengolah hasil dokumentasi tersebut di sekolah dengan bimbingan guru.
“Jadi minimal empat orang siswa yang turun dan didampingi gurunya. Misalnya dari program keahlian kelistrikan melakukan perbaikan, kemudian anak-anak DKV bertugas melakukan peliputan, baik video maupun foto,” jelas Yakobus.
Satu pelayanan akhirnya menjadi ruang belajar bagi beberapa kompetensi sekaligus: keterampilan teknis, komunikasi, wawancara, dokumentasi hingga publikasi.
Tidak Hanya Terampil, Siswa Harus Bisa Berkomunikasi
JK menilai salah satu kekuatan program “Belajar Sambil Mengabdi” adalah kemampuannya menggabungkan hard skills dan soft skills.
Menurutnya, lulusan SMK tidak cukup hanya mampu mengoperasikan alat atau memperbaiki kerusakan. Mereka juga harus memiliki mentalitas kerja, kemampuan komunikasi dan etika pelayanan.
Hal tersebut sejalan dengan evaluasi SMKN 5 Kupang.
Yakibus mengatakan kemampuan public speaking menjadi salah satu perhatian sekolah karena hal itu juga menjadi masukan dari perusahaan yang menerima siswa saat PKL.
“Public speaking itu dikeluhkan bukan hanya secara internal kita, tetapi juga perusahaan-perusahaan yang menampung anak kita saat PKL,” ungkapnya.
Karena itu, sebelum turun ke lapangan, siswa diberikan pembekalan mengenai cara memperkenalkan diri, menerima keluhan, menjelaskan persoalan dan melakukan wawancara sederhana.
Latihan tersebut dilakukan dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris.
SMK Bukan Sekadar Mencetak Lulusan
JK menilai konsep yang dilakukan SMKN 5 Kupang sejalan dengan kebutuhan pembangunan NTT.
Menurutnya, pembangunan daerah tidak selalu harus dimulai dengan program besar dan rumit. Banyak potensi yang sebenarnya sudah tersedia di sekolah, perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas dan lembaga pemerintah.
“Membangun NTT itu tidak sulit. Kita hanya membutuhkan pemimpin yang cerdas, inovatif dan kolaboratif, yang mampu melihat potensi yang sudah tersedia dan menggerakkannya secara bersama-sama,” kata JK.
Ia menilai tantangannya adalah bagaimana berbagai potensi tersebut dikonsolidasikan menjadi kekuatan pembangunan.
“Negara sudah menyiapkan berbagai instrumen pendidikan dan anggaran. Yang kita perlukan adalah eksekutor yang mampu menerjemahkan kebijakan dan anggaran tersebut menjadi program nyata yang dirasakan masyarakat,” ujarnya.
Krena itu, ia mendorong Pemerintah Provinsi NTT agar menjadikan SMA dan SMK sebagai bagian dari ekosistem pembangunan daerah.
“Kalau anak SMK belajar teknik bangunan, mengapa praktiknya hanya membuat tugas di sekolah? Mengapa tidak sekaligus membantu masyarakat yang membutuhkan? Kalau anak belajar kelistrikan, mengapa tidak dilibatkan dalam pemetaan dan perbaikan instalasi listrik yang memenuhi standar? Kalau belajar otomotif, mengapa tidak membantu masyarakat melalui bengkel pelayanan sekolah?” katanya.
Namun, JK menegaskan keterlibatan SMK dalam pelayanan masyarakat bukan untuk menggantikan tenaga profesional atau mematikan usaha yang sudah berjalan.
Sebaliknya, kegiatan tersebut harus menjadi pembelajaran berbasis proyek dan pengabdian masyarakat, dengan tetap memperhatikan kompetensi siswa, keselamatan kerja, pendampingan guru dan ketentuan yang berlaku.
Bengkel dan Teknisi Lokal Bisa Jadi Mitra
Menurut JK, keberadaan layanan sekolah justru dapat membuka ruang kolaborasi dengan pelaku usaha lokal.
Bengkel maupun teknisi lokal dapat dilibatkan sebagai mentor lapangan atau mitra rujukan apabila terdapat kerusakan yang terlalu berat untuk ditangani siswa.
Dengan demikian, program tersebut tidak menjadi pesaing usaha servis masyarakat.
Sebaliknya, sekolah, siswa, teknisi lokal dan dunia usaha dapat membangun ekosistem keterampilan yang saling menguatkan.
“Program pengabdian masyarakat ini bukan untuk bersaing atau mematikan roda ekonomi usaha servis lokal, melainkan murni laboratorium pembelajaran sosial berbasis kebutuhan edukasi,” tegas JK.
Bedah Rumah Bisa Jadi Laboratorium SMK
Gagasan JK tidak berhenti pada layanan servis.
Ia menawarkan konsep bedah rumah sederhana bagi masyarakat kurang mampu yang melibatkan berbagai kompetensi SMK.
Siswa bidang konstruksi dapat belajar melakukan pengukuran, perencanaan sederhana, pekerjaan struktur dan finishing dengan pendampingan guru dan tenaga profesional.
Sementara siswa bidang kelistrikan dapat membantu merencanakan atau memperbaiki instalasi listrik rumah dengan memperhatikan standar keselamatan.
Bahkan, siswa desain dan multimedia dapat terlibat dalam dokumentasi serta publikasi.
“Bayangkan kalau satu program bedah rumah melibatkan beberapa kompetensi SMK sekaligus. Ada anak bangunan, kelistrikan, desain, bahkan multimedia untuk mendokumentasikan dan mempublikasikan prosesnya. Di situ terjadi pembelajaran, pengabdian dan pemberdayaan masyarakat secara bersamaan,” ujarnya.
Menurutnya, model tersebut memberikan dua manfaat sekaligus: masyarakat memperoleh bantuan, sementara siswa mendapatkan pengalaman kerja yang jauh lebih nyata.
SMK Juga Bisa Hadir Saat Pascabencana
JK juga melihat potensi besar SMK dalam mendukung pemulihan pascabencana.
NTT memiliki wilayah yang menghadapi berbagai risiko bencana, termasuk gempa dan bencana hidrometeorologi.
Karena itu, ia mendorong adanya sistem kolaborasi antarsekolah kejuruan yang dapat membantu proses pemulihan dengan tetap melibatkan tenaga ahli dan instansi teknis.
“Ketika terjadi bencana dan banyak rumah atau fasilitas masyarakat terdampak, jangan melihat SMK hanya sebagai tempat anak belajar. Lihat SMK sebagai sumber daya manusia yang memiliki kompetensi teknis. Pemerintah bisa menggerakkan SMK yang relevan untuk membantu proses pemulihan, tentu dengan standar keselamatan dan pendampingan yang benar,” katanya.
Konsep tersebut dapat dikembangkan menjadi “SMK Mengabdi untuk NTT”, dengan pemetaan kompetensi setiap SMK berdasarkan wilayah dan program keahliannya.
Dari Kota Kupang Menuju Desa
Semangat memperluas manfaat juga menjadi cita-cita SMKN 5 Kupang.
Yakobus ingin layanan yang saat ini difokuskan bagi masyarakat Kota Kupang nantinya dapat menjangkau desa-desa.
“Saya punya mimpi begini, untuk sementara SMK Negeri 5 Kupang berdampak untuk Kota Kupang. Tapi saatnya SMK Negeri 5 Kupang membangun desa,” tegasnya.
Sekolah nantinya dapat melakukan survei untuk menentukan desa yang membutuhkan pelayanan, berkoordinasi dengan pemerintah desa, kemudian menghimpun kebutuhan masyarakat melalui RT dan warga.
Kerusakan magicom, rice cooker, setrika, televisi, kipas angin, instalasi listrik hingga kebutuhan energi terbarukan dapat didata sesuai kompetensi yang tersedia.
Dengan begitu, siswa mendapatkan ruang praktik baru, sementara masyarakat memperoleh manfaat langsung.
Kolaborasi dengan Pemerintah
Pengembangan program juga mulai diarahkan pada pemeliharaan fasilitas energi terbarukan.
Yakobus mengatakan pihak sekolah telah berkomunikasi dengan Pemerintah Provinsi NTT melalui Biro Umum terkait rencana kolaborasi pemeliharaan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Kantor Gubernur NTT dan Kantor DPRD Provinsi NTT.
SMKN 5 Kupang juga berencana berkolaborasi dalam pemeliharaan PLTS di SMK Negeri 3 Kupang.
Sekolah berharap Dinas ESDM Provinsi NTT dapat membantu memetakan lokasi PLTS yang dapat menjadi tempat praktik sekaligus pelayanan siswa.
Ke depan, dukungan dunia industri, termasuk PLN, juga dapat memperkuat program melalui pendampingan teknis, peningkatan kompetensi, keselamatan kerja, praktik industri maupun pengenalan standar kerja ketenagalistrikan.
SMK Harus Menjadi Laboratorium Pembangunan NTT
Bagi JK, apa yang dilakukan SMKN 5 Kupang harus menjadi inspirasi bagi sekolah kejuruan lainnya.
Ia menilai model pembelajaran seperti ini dapat menjadi jembatan konkret antara pendidikan dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI).
Siswa memperoleh pengalaman, portofolio nyata, kemampuan komunikasi, kematangan mental dan etos kerja sebelum benar-benar masuk ke dunia kerja.
“Anak-anak kita tidak cukup hanya pintar menjawab soal. Mereka harus mampu menyelesaikan persoalan. Mereka harus memiliki skill, karakter, komunikasi, kreativitas dan kemampuan bekerja sama,” tegasnya.
JK mengatakan NTT memang membutuhkan orang-orang pintar, tetapi pada saat yang sama membutuhkan lebih banyak manusia terampil yang mampu menerapkan pengetahuan untuk menyelesaikan persoalan daerah.
“NTT membutuhkan orang pintar, tetapi NTT juga sangat membutuhkan orang terampil. Karena kondisi geografis kita berbeda dengan daerah lain. Kita membutuhkan pendidikan yang menghasilkan manusia yang mampu bekerja, menciptakan solusi dan mengembangkan potensi daerah,” katanya.
Karena itu, lulusan SMK menurutnya tidak boleh berhenti pada ijazah.
Mereka harus diberi ruang untuk melanjutkan pendidikan vokasi dan pendidikan terapan yang lebih tinggi agar kompetensinya terus berkembang.
“Jangan sampai anak-anak kita setelah tamat SMK hanya menjadi pencari kerja. Kita harus mendorong mereka menjadi tenaga terampil, profesional, wirausahawan, inovator bahkan pencipta lapangan kerja,” ujarnya.
Jika Semua SMK Bergerak, Dampaknya Besar
JK berharap pemerintah membangun ekosistem kolaborasi yang melibatkan Pemerintah Provinsi, Dinas Pendidikan, SMK, perguruan tinggi, dunia usaha dan industri, pemerintah desa/kelurahan serta masyarakat.
Ia mengusulkan berbagai program konkret, antara lain SMK Mengabdi untuk Masyarakat, Bedah Rumah Layak Huni, SMK Peduli Listrik dan Energi, SMK Peduli Otomotif, SMK Peduli Teknologi Tepat Guna, SMK Tanggap Bencana, SMK Membangun Desa serta SMK Wirausaha dan Inovasi Daerah.
“Kita tidak boleh lagi memisahkan sekolah dengan kehidupan masyarakat. Sekolah harus hadir di tengah masyarakat, dan masyarakat harus menjadi bagian dari proses pendidikan. Inilah pendidikan yang berdampak,” katanya.
Menurut JK, program SMKN 5 Kupang menunjukkan bahwa pendidikan dapat memberi manfaat langsung tanpa harus menunggu siswa lulus.
Apa yang dipelajari hari ini dapat langsung digunakan untuk membantu masyarakat.
Karena itu, ia berharap “Belajar Sambil Mengabdi” tidak berhenti sebagai program satu sekolah.
“Saya berharap program ini bukan hanya menjadi program satu sekolah. Jadikan ini sebagai gerakan bersama. Kalau satu SMK bisa memberi dampak kepada masyarakat, bayangkan kalau seluruh SMK di NTT bergerak sesuai kompetensinya. Kita tidak hanya sedang mendidik anak-anak, tetapi sedang membangun NTT melalui tangan-tangan generasi muda kita sendiri,” pungkas Jusup KoeHoea.
Sementara itu, masyarakat Kota Kupang yang membutuhkan layanan dari SMKN 5 Kupang dapat menghubungi 0851-6999-1181 pada jam pelayanan 08.00–14.00 WITA.
Layanan mencakup Teknik Ketenagalistrikan, Teknik Elektronika Industri, Teknik Otomotif dan Teknik Energi Terbarukan.
Dengan menjadikan rumah warga sebagai kelas, persoalan masyarakat sebagai bahan belajar, dan keterampilan siswa sebagai bagian dari solusi, SMKN 5 Kupang menunjukkan satu hal sederhana: sekolah tidak harus menunggu lulusan untuk membangun daerah sekolah bisa mulai membangun NTT sejak hari ini.***
- Penulis: Mario




Saat ini belum ada komentar