98 Persen Warga di Desa-Desa Dapil NTT II Petani, Usman Husin Soroti Keterbatasan Air dan Minimnya Bantuan Pertanian
- account_circle Mario
- calendar_month 22 menit yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

NTT, Jarrakpos.com- Di balik luasnya lahan pertanian di Nusa Tenggara Timur (NTT), masih banyak petani di pelosok desa yang berjuang dengan keterbatasan sarana produksi dan sumber air. Bahkan, sebagian besar dari mereka hanya bisa mengolah lahan ketika musim hujan tiba.
Kondisi inilah yang menjadi perhatian Anggota DPR RI Komisi IV Fraksi PKB Daerah Pemilihan NTT II, Usman Husin. Ia menegaskan akan terus memperjuangkan agar bantuan pemerintah benar-benar menjangkau petani, terutama mereka yang tinggal di wilayah pedesaan dan selama ini belum banyak tersentuh program pertanian.
Usman mengatakan, di sejumlah desa dalam wilayah Dapil NTT II yang meliputi daratan Timor, Sumba, Rote, dan Sabu, lebih dari 98 persen penduduknya merupakan petani.
Namun, besarnya jumlah masyarakat yang menggantungkan hidup pada sektor pertanian belum sepenuhnya diikuti pemerataan bantuan dan dukungan pemerintah.
“Di Dapil NTT II ada desa-desa di daratan Timor, Sumba, Rote, dan Sabu yang lebih dari 98 persen penduduknya adalah petani. Tetapi, masih banyak petani di pelosok pedesaan yang jarang tersentuh bantuan pertanian dari pemerintah,” ungkap Usman.
Berangkat dari kondisi tersebut, ia berkomitmen memperkuat koordinasi dengan Kementerian Pertanian agar program bantuan tidak hanya menjangkau kelompok tani di wilayah yang mudah diakses, tetapi juga menyentuh petani di desa-desa terpencil.
“Saya akan terus berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian. Saya fokus mendorong agar bantuan-bantuan pertanian benar-benar tersentuh langsung oleh petani di pelosok-pelosok pedesaan di Dapil NTT II,” tegasnya.
Sumber Air, Persoalan yang Terus Disuarakan Petani
Tidak hanya persoalan bantuan alat dan sarana pertanian, Usman juga menyoroti masalah ketersediaan air yang hingga kini masih menjadi tantangan besar bagi petani di NTT.
Pengalaman turun langsung ke berbagai desa membuatnya mendengar sendiri keluhan masyarakat. Salah satu aspirasi yang paling sering disampaikan adalah kebutuhan sumber air untuk mendukung kegiatan pertanian.
Menurutnya, banyak petani masih mengandalkan lahan kering. Mereka baru bisa mengolah dan menanami lahan ketika musim hujan datang. Akibatnya, aktivitas pertanian sangat bergantung pada kondisi cuaca dan ketersediaan air.
“Karena saya sering turun ke desa-desa di pelosok, banyak petani menyampaikan langsung kepada saya bahwa sumber air untuk sektor pertanian perlu mendapat perhatian. Banyak petani kita yang bertani di lahan-lahan kering dan baru bisa bertani ketika musim hujan,” jelasnya, (7/11/2026).
Bagi Usman, persoalan ini tidak bisa dibiarkan terus berulang. Petani membutuhkan lebih dari sekadar bantuan alat pertanian. Ketersediaan sumber air, pembangunan sarana irigasi, serta dukungan infrastruktur pertanian harus menjadi bagian dari perhatian pemerintah.
Sebab, ketika air sulit diperoleh, lahan pertanian tidak dapat dimanfaatkan secara optimal. Potensi produksi pun menjadi terbatas, sementara petani harus menunggu datangnya musim hujan untuk kembali bercocok tanam.
Karena itu, Usman ingin agar koordinasi dengan Kementerian Pertanian terus diperkuat sehingga kebutuhan nyata petani di lapangan menjadi dasar dalam mendorong program bantuan dan pembangunan sektor pertanian.
Ia berharap perhatian terhadap petani tidak berhenti pada wilayah perkotaan atau desa yang mudah dijangkau. Petani di pelosok Timor, Sumba, Rote, dan Sabu juga berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk berkembang, meningkatkan produksi, dan memperbaiki kesejahteraan keluarga melalui sektor pertanian.***
- Penulis: Mario





Saat ini belum ada komentar