Menjaga Bumi dari Genangan: Kepala DLH Pacitan, Cicik Ajak Warga Bikin Biopori di Awal Musim Penghujan
- account_circle Yuniardi Sutondo
- calendar_month 2 menit yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Pacitan, Hj. Cicik Roudlotul Jannah.
Pacitan,JarrakPos-Memasuki pancaroba jelang musim penghujan, kesadaran ekologis warga kian diuji.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Pacitan menyerukan pentingnya aksi nyata dari pekarangan rumah masing-masing melalui pembuatan Lubang Resapan Biopori (LRB). Langkah sederhana ini dinilai efektif tidak hanya untuk mengelola sampah organik, tetapi juga menjadi benteng pertahanan alami terhadap ancaman genangan air.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Pacitan, Cicik Roudlotul Jannah, menjelaskan bahwa momentum awal musim penghujan merupakan waktu paling tepat bagi masyarakat untuk mulai mencangkul dan membuat lubang biopori di halaman rumah maupun area terbuka hijau.
“Pembuatan lubang biopori di awal musim penghujan ini sangat krusial. Selain berfungsi sebagai wadah penampung sampah organik seperti daun-daun kering, biopori adalah investasi ekologis jangka panjang untuk mempercepat peresapan air hujan agar tidak menjadi genangan, sekaligus menabung cadangan air bersih di dalam perut bumi,” ujar Cicik, Sabtu (7/11).
Lebih lanjut, Cicik menambahkan bahwa lubang vertikal berdiameter kecil ini bekerja ganda. Di satu sisi, sampah organik yang dimasukkan ke dalam lubang—mulai dari sisa sayuran, buah, hingga potongan rumput—akan terurai secara alami oleh mikroorganisme dan fauna tanah. Proses biologis ini secara otomatis menyuburkan tanah sekaligus memperbaiki struktur dan porositasnya.
Masifnya pembuatan biopori di setiap pekarangan warga Pacitan, DLH optimis risiko genangan air permukaan dapat ditekan secara signifikan.
“Air hujan yang biasanya terbuang sia-sia akan dapat meresap sempurna ke dalam tanah, menjaga ketersediaan akuifer air tanah, serta mewujudkan lingkungan permukiman yang lebih sehat, asri, dan tangguh bencana hidrometeorologi,” tukasnya. (Red/yun).
- Penulis: Yuniardi Sutondo





Saat ini belum ada komentar