Wali Kota Bengkulu Soroti Kasus Bullying Siswi SMA, Tekankan Pentingnya Pendidikan Moral Sejak Dini
- account_circle Sepriyanita
- calendar_month Jumat, 6 Feb 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

BENGKULU, Jarrakpos.com – Wali Kota Bengkulu, Dedy Wahyudi, menanggapi serius kasus perundungan atau pengeroyokan terhadap seorang siswi SMA di Kota Bengkulu yang sempat viral di media sosial. Ia menilai kejadian tersebut menjadi pekerjaan rumah bersama, termasuk bagi dirinya sebagai kepala daerah karena peristiwa itu terjadi di wilayah yang dipimpinnya.
Menurut Dedy, pengawasan terhadap anak harus diperkuat oleh semua pihak, terutama orang tua dan tenaga pendidik. Ia meminta para guru mulai dari tingkat PAUD, TK, RA, hingga SD dan SMP untuk lebih memperhatikan perkembangan siswa serta menanamkan nilai moral dan pendidikan agama sejak dini.
Hal itu disampaikan Dedy saat menghadiri kegiatan Diseminasi Pendekatan Metode Montessori dalam Penguatan Mutu Raudhatul Athfal yang digelar di Mercure Hotel Bengkulu, Jumat (6/2/2026).
“Belum lama ini ada kejadian siswi SMA yang menjadi korban pengeroyokan hingga digigit dan diinjak-injak. Ini menjadi tanggung jawab kita bersama. Sebagai wali kota, saya juga merasa memiliki tanggung jawab besar karena peristiwa itu terjadi di Kota Bengkulu,” ujar Dedy dalam sambutannya.
Ia menegaskan bahwa pembinaan karakter anak tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah, tetapi juga peran utama keluarga. Menurutnya, orang tua perlu lebih aktif menanamkan nilai agama dan moral agar anak tidak mudah terjerumus ke perilaku negatif.
Dedy juga menyoroti fenomena kenakalan remaja yang belakangan marak terjadi, seperti aksi geng motor hingga perilaku remaja yang mengonsumsi lem hingga mabuk di jalanan.
“Ada anak usia belasan tahun yang menghirup lem sampai sempoyongan di jalan. Ada juga kelompok geng motor yang kadang melakukan kekerasan hanya karena merasa itu kebanggaan. Ini menunjukkan adanya kemerosotan moral yang harus kita tangani bersama,” tegasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Dedy menyampaikan harapan agar lembaga pendidikan Raudhatul Athfal (RA) mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki akhlak dan moral yang baik.
Kegiatan diseminasi bertema “Dari Bengkulu untuk Indonesia” tersebut turut dihadiri Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Bengkulu Nopian Gustari, Pembina Humaira Madrasahku Rodok Suryo Nugroho, Ketua Jurusan Tarbiyah UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu Azizah Ayati, serta Founder Humaira Madrasahku Dr. Rina Rafflesia.
Dedy juga memberikan apresiasi terhadap penerapan metode pendidikan Montessori yang diperkenalkan oleh Dr. Rina. Ia berharap ke depan akan muncul inovasi metode pembelajaran baru yang dapat dikembangkan sendiri oleh para praktisi pendidikan di Indonesia.
Sementara itu, Dr. Rina Rafflesia menjelaskan bahwa Humaira Madrasahku terus melakukan pembaruan metode pembelajaran selama 13 tahun terakhir. Awalnya lembaga tersebut menggunakan pendekatan metode kelompok, kemudian berkembang ke pendekatan BCCT (Beyond Center and Circle Time), hingga akhirnya mengembangkan metode Montessori yang disesuaikan dengan nilai-nilai Islam.
Ia mengungkapkan bahwa riset terkait metode Montessori telah dilakukan sejak 2017 oleh tim Humaira Madrasahku, termasuk melakukan studi ke Jepang untuk mempelajari langsung penerapan metode tersebut.
“Tim kami melakukan penelitian di Jepang, kemudian melanjutkan riset ke Eropa, termasuk Finlandia di Helsinki University untuk mengikuti program SWOT Course dan mendapatkan wawasan dari pakar pendidikan dunia,” jelasnya.
Riset tersebut sempat terhenti akibat pandemi Covid-19, namun kembali dilanjutkan setelah situasi membaik. Pengembangan metode juga dilakukan di Belanda dan Swedia sebelum akhirnya kembali dimatangkan di Jepang pada 2025 bersama para pakar Montessori di Fuji Scholar Montessori.
Sementara itu, Kepala Kantor Kemenag Kota Bengkulu, Nopian Gustari, menyampaikan apresiasinya terhadap upaya Humaira Madrasahku dalam mengembangkan metode pendidikan yang inovatif bagi RA.
Menurutnya, dunia pendidikan membutuhkan transformasi dan inovasi berkelanjutan agar kualitas pembelajaran semakin meningkat.
“Metode Montessori tidak cukup hanya dipahami secara teori. Guru juga harus dibekali ilmu yang memadai agar mampu menerapkannya dengan baik. Humaira telah membuka ruang belajar yang sangat besar bagi para guru RA,” ujarnya.
Ia berharap inovasi pendidikan yang lahir dari Bengkulu tersebut dapat memberikan kontribusi lebih luas, tidak hanya bagi daerah, tetapi juga bagi perkembangan pendidikan di Indonesia bahkan dunia.
- Penulis: Sepriyanita




Saat ini belum ada komentar