Stunting di Kaur Tersisa 40 Anak, Turun dari Tahun Sebelumnya
- account_circle Sepriyanita
- calendar_month Jumat, 23 Okt 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Bupati Kaur Gusril Pausi saat memberikan makanan tambahan untuk anak-anak yang berisiko stunting. Foto : Dok/jarrakpos.com
KAUR, jarrakpos.com – Upaya percepatan penurunan angka stunting di Kabupaten Kaur menunjukkan hasil positif. Jumlah anak yang mengalami stunting kini tersisa 40 anak, menurun dibandingkan tahun sebelumnya.
Capaian tersebut merupakan hasil kerja sama berbagai pihak, mulai dari Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS), Dinas Kesehatan Kabupaten Kaur, Puskesmas, hingga pemerintah desa melalui berbagai program intervensi gizi dan pendampingan terhadap anak serta keluarga berisiko stunting.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Kaur, Yosep Pratama, mengatakan penurunan jumlah anak stunting menjadi dorongan bagi seluruh pihak untuk terus memperkuat program pencegahan dan penanganan stunting.
Menurutnya, meskipun jumlah anak stunting mengalami penurunan, upaya penanganan tetap harus dilakukan secara berkelanjutan agar seluruh anak mendapatkan perhatian dan pelayanan kesehatan sesuai kebutuhannya.
“Penurunan jumlah anak stunting ini menjadi capaian yang patut kita syukuri bersama. Namun, kita tidak boleh berpuas diri karena masih ada anak yang membutuhkan perhatian, pendampingan, dan penanganan secara berkelanjutan,” ujar Yosep Pratama.
Ia menjelaskan, Dinkes Kaur terus melakukan berbagai upaya untuk menekan angka stunting, di antaranya melalui pemantauan tumbuh kembang anak, pemberian makanan tambahan sesuai kebutuhan, serta edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya pemenuhan gizi sejak masa kehamilan.
Selain itu, edukasi tentang 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) juga terus diperkuat. Periode sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun merupakan masa penting untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak secara optimal.
Yosep menegaskan, pencegahan stunting tidak hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan, tetapi juga membutuhkan peran aktif keluarga dan lingkungan sekitar. Orang tua diharapkan memperhatikan asupan gizi anak, menerapkan pola asuh yang baik, serta rutin membawa anak ke Posyandu untuk memantau pertumbuhan dan perkembangannya.
“Pendampingan harus terus dilakukan, mulai dari pemantauan pertumbuhan anak, pemenuhan kebutuhan gizi, hingga peningkatan pemahaman orang tua tentang pola asuh dan kesehatan. Kolaborasi antara tenaga kesehatan, pemerintah desa, dan keluarga sangat penting agar penanganan stunting berjalan optimal,” jelasnya.
Ia menambahkan, sinergi lintas sektor menjadi salah satu faktor penting dalam mempercepat penurunan stunting. Melalui koordinasi yang berkelanjutan, anak-anak yang membutuhkan perhatian khusus diharapkan dapat teridentifikasi dan memperoleh penanganan yang sesuai.
Dengan jumlah anak stunting yang kini tersisa 40 anak, Kabupaten Kaur optimistis dapat terus menekan angka stunting hingga mencapai target zero stunting atau nol kasus stunting.
Meski demikian, Dinkes Kaur menegaskan bahwa upaya tersebut membutuhkan konsistensi program, pemantauan secara berkala, serta keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
“Kami berharap seluruh pihak terus bekerja sama dan meningkatkan kepedulian terhadap pemenuhan gizi anak. Target kita bukan hanya menurunkan angka stunting, tetapi juga memastikan anak-anak di Kabupaten Kaur dapat tumbuh sehat dan berkembang secara optimal,” tutup Yosep.
Melalui berbagai upaya tersebut, Pemerintah Kabupaten Kaur bersama Dinkes, Puskesmas, pemerintah desa, dan masyarakat diharapkan dapat terus memperkuat langkah pencegahan serta penanganan stunting demi mewujudkan generasi yang sehat dan berkualitas.
Penulis: Dahlan
- Penulis: Sepriyanita





Saat ini belum ada komentar