Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » DAERAH » Jejak Beras SPHP Menembus Ombak NTT, Perjuangan BULOG Menjaga Pangan hingga Pulau Terluar

Jejak Beras SPHP Menembus Ombak NTT, Perjuangan BULOG Menjaga Pangan hingga Pulau Terluar

  • account_circle Mario
  • calendar_month Senin, 18 Mei 2026
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

NTT, Jarrakpos.com- Di Nusa Tenggara Timur, perjalanan beras tidak selalu dimulai dari jalan raya. Di Flores Timur, Adonara, Solor, hingga Lembata, perjalanan pangan dimulai dari dermaga kecil, laut yang tak selalu bersahabat, serta kapal-kapal pengangkut yang harus menembus ombak demi memastikan masyarakat tetap bisa makan dengan harga terjangkau.

Di wilayah kepulauan seperti ini, distribusi pangan bukan sekadar urusan logistik. Ini adalah perjuangan menjaga kehidupan.

Hamparan laut yang memisahkan pulau-pulau di NTT menjadikan distribusi pangan jauh lebih rumit dibanding daerah daratan. Gelombang tinggi, arus laut, cuaca ekstrem, hingga keterbatasan transportasi menjadi tantangan yang dihadapi setiap hari.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Nusa Tenggara Timur, Joaz Billy Oemboe Wanda mengatakan, kondisi geografis NTT membuat distribusi pangan sangat bergantung pada jalur laut.

“Wilayah NTT merupakan daerah kepulauan sehingga distribusi pangan sangat bergantung pada transportasi laut. Tantangan utama yang dihadapi adalah cuaca ekstrem, gelombang tinggi, arus laut, hingga keterbatasan sarana pelabuhan dan transportasi di wilayah tujuan,” ujarnya, (18/5/2026).

Menurutnya, kondisi tersebut membuat peran Perum BULOG menjadi sangat penting dalam menjaga stabilitas pangan masyarakat melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).

“Program SPHP sangat membantu masyarakat karena menjaga ketersediaan beras dan keterjangkauan harga, terutama bagi masyarakat di wilayah kepulauan dan daerah terpencil yang sangat bergantung pada distribusi laut,” katanya.

Ia mengakui perjuangan distribusi pangan di wilayah kepulauan bukan pekerjaan mudah. Saat cuaca buruk datang, distribusi tetap harus berjalan karena menyangkut kebutuhan dasar masyarakat.

“Kami melihat bagaimana petugas di lapangan tetap berupaya memastikan distribusi berjalan meskipun menghadapi gelombang tinggi dan kondisi cuaca yang tidak menentu. Ini bukan pekerjaan mudah karena menyangkut kebutuhan dasar masyarakat,” tambahnya.

Menurut Joaz, ketahanan pangan bukan hanya soal stok beras tersedia di gudang, tetapi bagaimana pangan bisa sampai tepat waktu dan tetap terjangkau hingga ke masyarakat di pulau-pulau kecil.

“Ketahanan pangan bukan hanya soal ketersediaan beras, tetapi bagaimana pangan itu bisa sampai kepada masyarakat tepat waktu dan dengan harga yang terjangkau. Karena itu distribusi hingga ke pulau terluar menjadi bagian penting dari upaya menjaga kesejahteraan masyarakat dan masa depan daerah,” ujarnya.

Perjuangan itu dirasakan langsung oleh para pelaku logistik di lapangan. Kosmas Simalaya, pelaku logistik di Kabupaten Flores Timur, mengatakan tantangan terbesar dalam pengiriman pangan adalah cuaca, arus laut, dan ombak.

“Yang kami alami setiap pengantaran logistik di laut pertama adalah cuaca, kedua arus dan ombak. Kadang juga terhambat karena keadaan pelabuhan yang penuh sehingga tidak bisa kami drop,” katanya, (9/5/2026).

Menurutnya, kondisi pelabuhan di Adonara dan Solor sebenarnya cukup baik. Namun saat air pasang surut, proses bongkar muat menjadi sangat sulit.

“Kalau air pasang surut, bongkar beras dari kapal ke darat sangat susah. Di desa juga kadang kendaraan kurang dan jalan tidak selalu bagus. Tapi walaupun cuaca di Flores Timur maupun di pulau berat, kami tetap jalan terus dan belum pernah ada penundaan,” ujarnya.

Kapal pengangkut berkapasitas 6 ton

Perjalanan distribusi pangan di wilayah kepulauan ini juga melibatkan kapal pengangkut berkapasitas 6 ton. Kapal itulah yang menjadi penghubung kebutuhan pangan masyarakat di pulau-pulau kecil.

Salmawati, Kepala Cabang PT Elo Mangenre Pusat Larantuka yang selama ini bekerja sama dengan Perum BULOG Kantor Cabang Larantuka dalam distribusi beras ke Solor, Adonara, dan Lembata mengatakan tantangan di laut menjadi bagian dari pekerjaan sehari-hari.

“Tantangan kami di laut itu cuaca, arus, gelombang dan pasang surut. Kadang itu yang membuat pengiriman terkendala. Tapi sejauh ini masih bisa dilayani,” katanya, (9/5/2026).

Baginya, distribusi beras bukan hanya pekerjaan logistik, tetapi juga membantu masyarakat mendapatkan pangan dengan harga yang terjangkau.

“Saya senang bisa membantu mendistribusikan beras karena selain membantu masyarakat, pelayanan juga lebih cepat dan harga tetap terjangkau sampai ke pelosok pulau-pulau terutama Solor, Adonara dan Lembata. Pokoknya semua senang,” ujarnya sambil tersenyum.

Di balik distribusi tersebut, Perum BULOG Kantor Cabang Larantuka menghadapi tantangan yang cukup berat. Meski merupakan kantor cabang kecil, BULOG Larantuka harus membawahi dua kabupaten dengan cakupan distribusi hingga tiga pulau sekaligus.

Jumlah petugas di lapangan juga masih terbatas. Namun kondisi itu tidak membuat pelayanan berhenti.

Demi memastikan penyaluran beras SPHP tetap berjalan sampai ke masyarakat, pimpinan cabang bahkan kerap turun langsung membawa dan menahkodai kapal menuju wilayah kepulauan.

Di daerah yang cukup sering terdampak cuaca ekstrem dan bencana itu, perjuangan distribusi pangan benar-benar membutuhkan tenaga, keberanian, dan pengabdian.

Bagi masyarakat di pulau-pulau kecil, hadirnya beras SPHP sangat berarti. Albina Ledo Punang, ibu rumah tangga berusia 63 tahun, warga Desa Lamalera B, Kabupaten Lembata, mengaku sangat terbantu dengan distribusi beras dari BULOG.

“Kalau cuaca buruk biasanya harga beras cepat naik dan masyarakat susah beli. Jadi kami sangat bersyukur karena BULOG tetap kirim beras sampai ke sini. Kami merasa terbantu sekali karena harga masih bisa dijangkau masyarakat kecil seperti kami,” ujarnya, (10/5/2026).

Guru Besar Bidang Ekonomi Pertanian dan Pemasaran Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Nusa Cendana (Undana), Prof. Dr. Ir. D. Roy Nendissa, M.P., CRA., CRP., C.SEPro menilai tantangan ketahanan pangan di wilayah kepulauan memang jauh lebih berat dibanding daerah daratan.

Menurutnya, persoalan pangan di daerah kepulauan bukan sekadar soal ketersediaan stok, tetapi bagaimana negara mampu menghadirkan pangan hingga ke meja makan masyarakat di pulau-pulau kecil.

“Di wilayah seperti Adonara, Solor dan Lembata, persoalannya bukan hanya apakah stok beras tersedia atau tidak, tetapi bagaimana pangan itu bisa sampai ke masyarakat dengan aman dan tepat waktu,” ujarnya, (16/5/2026).

Ia menilai keterlambatan distribusi pangan akan sangat berdampak terhadap masyarakat kecil.

“Ketika distribusi terlambat, harga pangan langsung naik. Dan yang paling pertama merasakan tekanan adalah nelayan kecil, petani kecil, buruh harian, dan keluarga miskin di pulau-pulau terpencil,” katanya.

Menurut Prof Roy, program SPHP dari BULOG memiliki makna yang jauh lebih besar di wilayah kepulauan.

“SPHP bukan hanya menjaga harga tetap stabil, tetapi menjadi bentuk perlindungan negara bagi masyarakat yang tinggal jauh dari pusat distribusi besar,” ujarnya.

Ia juga menyoroti perjuangan para petugas distribusi pangan yang sering kali tidak terlihat publik.

“Kita menikmati pembahasan soal ketahanan pangan di ruang seminar atau kantor ber-AC, tetapi di lapangan ada orang-orang yang bertaruh dengan cuaca laut demi memastikan masyarakat tetap bisa membeli beras,” katanya.

Menurutnya, perjuangan distribusi pangan di wilayah kepulauan seharusnya menjadi perhatian besar bagi Indonesia sebagai negara maritim.

“Kalau distribusi pangan saja masih sulit menjangkau masyarakat di pulau terluar, maka itu pertanda pembangunan kita belum benar-benar merata,” tegasnya.

Prof Roy menilai persoalan distribusi pangan di wilayah kepulauan tidak bisa dibebankan hanya kepada BULOG. Semua pihak harus ikut terlibat, mulai dari pemerintah, swasta, akademisi hingga masyarakat.

Ia mendorong pemerintah mulai serius membangun sistem logistik maritim pangan, memperkuat dermaga kecil, gudang pangan antarpulau, kapal distribusi khusus, hingga sistem cadangan pangan berbasis musim gelombang.

Selain itu, pangan lokal seperti jagung, ubi, sorgum, pisang, dan hasil laut juga perlu diperkuat agar masyarakat tidak sepenuhnya bergantung pada pasokan dari luar pulau.

Menurutnya, ketahanan pangan bukan berarti semua orang harus selalu makan beras, tetapi bagaimana masyarakat memiliki sumber pangan yang kuat sesuai kondisi daerahnya sendiri.

Di tengah segala keterbatasan itu, perjuangan menjaga pangan di wilayah kepulauan NTT terus berjalan. Kapal-kapal kecil tetap berlayar menembus ombak. Petugas tetap turun ke lapangan meski cuaca tidak bersahabat.

Semua dilakukan demi satu hal sederhana namun paling penting: memastikan masyarakat tetap bisa makan. Karena di pulau-pulau kecil yang jauh dari pusat kota, hadirnya beras bukan hanya soal distribusi pangan. Tetapi tentang hadirnya negara di tengah masyarakatnya.***

  • Penulis: Mario

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Komisi IV DPRD Batam Gelar RDPU, Evaluasi Realisasi Pembangunan Triwulan III Tahun Anggaran 2025

    Komisi IV DPRD Batam Gelar RDPU, Evaluasi Realisasi Pembangunan Triwulan III Tahun Anggaran 2025

    • calendar_month Sabtu, 25 Okt 2025
    • account_circle admin
    • visibility 1.051
    • 0Komentar

    BATAM, Jarrakpos.com | Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Batam melaksanakan fungsi pengawasan terhadap pembangunan dan penggunaan anggaran daerah dengan menggelar Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) bersama Organisasi Perangkat Daerah (OPD) pada Senin, 6 Oktober 2025. RDPU yang berlangsung maraton sejak pukul 09.00 WIB ini difokuskan pada evaluasi realisasi fisik dan serapan anggaran […]

  • Wahyu Hidayah antar Kuningan Masuk Enam Besar PNS Jabar, Melaju di Tingkat Nasional

    • calendar_month Sabtu, 4 Okt 2025
    • account_circle Ghana
    • visibility 741
    • 0Komentar

    KUNINGAN, JarrakPos.Com – Dikenal sebagai sosok ASN yang penuh dedikasi, inovatif, dan memiliki daya jejaring luas. Dr. Wahyu Hidayah, M.Si, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Diskatan), Penjabat Sekretaris Daerah (Pj Sekda) Kabupaten Kuningan, tengah menjalani tahap penting dalam kompetisi Pegawai Negeri Sipil (PNS) Berprestasi Jawa Barat 2025. Inovasi bertajuk “Strategi Regenerasi Petani dalam Menjawab […]

  • Walikota Berhentikan Sementara Izin Minimarket Modern, Untuk Lindungi Pedagang Kecil

    Walikota Berhentikan Sementara Izin Minimarket Modern, Untuk Lindungi Pedagang Kecil

    • calendar_month Sabtu, 25 Okt 2025
    • account_circle admin
    • visibility 334
    • 0Komentar

    BENGKULU, jarrakpos.com – Keberadaan minimarket di Kota Bengkulu, Provinsi Bengkulu yang kian menjamur mengancam dan bisa mematikan pedagang kecil. Walikota Bengkulu Dedy Wahyudi menerima laporan banyak warung kecil tutup dan bangkrut karena terlibas dengan jaringan gerai modern yang terus bertumbuh.Maka dari itu, mulai saat ini, ia memastikan tak ada izin penerbitan baru. Pemkot melakukan pemberhentian […]

  • Payabakung United Siapkan 23 Pemain Andal untuk Liga 4 Sumut

    Payabakung United Siapkan 23 Pemain Andal untuk Liga 4 Sumut

    • calendar_month Sabtu, 14 Feb 2026
    • account_circle Syawal
    • visibility 303
    • 0Komentar

    Medan ,- Payabakung United resmi merampungkan proses seleksi untuk kompetisi Liga 4 Sumatera Utara 2025 – 2026. Setelah melalui serangkaian pengujian ketat, tim pelatih telah menetapkan 23 pemain yang akan membela warna tim pada musim kompetisi tahun ini Skuad yang dibentuk merupakan perpaduan sempurna antara pemain berpengalaman dan bibit muda berbakat. Beberapa nama yang telah […]

  • Kepala Dinas Kesehatan Kota Dumai dr Syaiful Kunjungan Monitoring Evaluasi Program di Puskesmas Sungai Sembilan

    Kepala Dinas Kesehatan Kota Dumai dr Syaiful Kunjungan Monitoring Evaluasi Program di Puskesmas Sungai Sembilan

    • calendar_month Rabu, 4 Mar 2026
    • account_circle Diana Ningsih
    • visibility 112
    • 0Komentar

    Jarrakpos. Com Dumai -Kunjungan Monitoring evaluasi di Puskesmas bertujuan agar faskes semakin terintegrasi dan fokus pada kebutuhan masyarakat di setiap fase kehidupan melalui program Integrasi Layanan Primer (ILP).Rabu 4 Maret 2026 Program ini merupakan bagian dari transformasi layanan kesehatan yang diatur dalam Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 2015 Tahun 2023 tentang Integrasi Pelayanan Kesehatan Primer […]

  • Polres Kuningan Targetkan Produksi Bawang Putih Luas Potensial 17 Hektare Lewat Gerakan Tanam Bersama

    Polres Kuningan Targetkan Produksi Bawang Putih Luas Potensial 17 Hektare Lewat Gerakan Tanam Bersama

    • calendar_month 5 jam yang lalu
    • account_circle Ghana
    • visibility 12
    • 0Komentar

    KUNINGAN, Jarrakpos.com — Kepolisian Resor (Polres) Kuningan bersama Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kuningan serta kelompok tani resmi meluncurkan Gerakan Tanam Bawang Putih di Desa Karangsari, Kecamatan Darma, Kabupaten Kuningan, Rabu (19/8/2026). Langkah ini dilakukan untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendongkrak produktivitas sektor pertanian lokal. ​Pelaksanaan tanam perdana dipusatkan di lahan kelompok tani Rumah Tani […]

expand_less