Buku Cerita Bergambar Buayo Kuning Berbasis AR Diluncurkan, Dorong Revitalisasi Bahasa Daerah dan Literasi Anak Usia Dini
- account_circle Sepriyanita
- calendar_month Rabu, 15 Okt 2025
- comment 0 komentar
- print Cetak

Oplus_16908288
BENGKULU, jarrakpos.com – Upaya melestarikan bahasa daerah melalui inovasi teknologi kembali mendapat perhatian nasional setelah tim peneliti Universitas Bengkulu merilis prototipe Buku Cerita Bergambar Buayo Kuning Berbasis Augmented Reality (AR). Program yang didanai Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi ini memadukan cerita rakyat Serawai dengan teknologi interaktif untuk meningkatkan minat baca, pelestarian bahasa daerah, dan literasi budaya sejak usia dini.
Prototipe yang dipimpin oleh Fina Hiasa, MA, bersama tim dosen Emi Agustina, M.Hum. dan Lazfihma, S.S., M.Pd., menghadirkan terobosan baru: cerita rakyat disajikan dalam dua bahasa (Serawai–Indonesia), dilengkapi ilustrasi penuh warna, audio narasi, dan animasi 3D yang muncul melalui pemindaian QR Code menggunakan aplikasi AR berbasis Android.
“Teknologi digital kami manfaatkan untuk membuat bahasa daerah tetap hidup dan relevan bagi generasi muda,” ujar Fina Hiasa. “Dengan menyatukan unsur sastra etnik, ilustrasi visual, dan AR, anak-anak bisa belajar bahasa daerah melalui pengalaman yang menyenangkan.”
Hasil Uji Coba: Efektif Tingkatkan Literasi Budaya
Program uji coba dilakukan di dua lembaga PAUD di Bengkulu dengan total 100 anak. Hasil pengujian menunjukkan peningkatan signifikan antara nilai pretest dan posttest literasi budaya. Uji-t menghasilkan nilai signifikansi 0,00 (<0,05), membuktikan efektivitas buku dalam pembelajaran bahasa dan budaya daerah.
Validasi ahli terhadap konten, media, dan pengalaman pengguna juga menunjukkan skor rata-rata 4,0, masuk kategori Layak–Sangat Layak. Ilustrasi dan desain visual mendapat nilai tertinggi, sementara navigasi aplikasi akan disempurnakan pada tahap berikutnya.
Cerita Rakyat Serawai Hadir dalam Format Modern
Prototipe mengadaptasi dua cerita rakyat etnik Serawai: “Buayo Kuning” dan “Kucing Keciak ngan Tikus Mbak Kulak”. Tim melakukan proses lengkap mulai dari pengumpulan data lapangan, transkripsi, transliterasi, ilustrasi 3D, hingga pengembangan aplikasi berbasis Unity, Vuforia, Blender, dan Flutter.
Dengan sistem penyimpanan konten dinamis yang memanfaatkan server eksternal, aplikasi dapat diperbarui tanpa perlu mengunduh ulang versi baru dari Play Store. Fitur ini membuat konten berpeluang terus berkembang.
Potensi Besar untuk Pendidikan Nasional
Produk ini dinilai memiliki prospek pasar luas karena relevan dengan program revitalisasi bahasa daerah dan Gerakan Literasi Nasional. Target pengguna mencakup:
PAUD, SD, dan sekolah berbasis kearifan lokal
Guru dan komunitas literasi
Orang tua yang ingin mengenalkan budaya daerah
Pemerintah daerah untuk penguatan muatan lokal
Nilai komersialnya mencakup penjualan buku fisik dan digital, lisensi aplikasi, serta peluang kerja sama dengan lembaga pendidikan dan komunitas budaya.
Dukungan Mitra & Implementasi di Lapangan
Ketua PKG Teluk Segara, Masnoni, S.Pd., menyatakan bahwa produk ini telah digunakan dalam pembelajaran dan memberikan dampak positif terhadap minat anak dalam mengenal bahasa daerah. “Media ini membuat anak-anak lebih antusias. Mereka belajar sambil bermain, dan ini sangat membantu guru,” ujarnya. Melanjutkan Pelestarian Budaya Melalui Teknologi Tim peneliti merekomendasikan pengembangan lanjutan berupa peningkatan fitur interaktif, mini games edukatif, dan perluasan implementasi ke lebih banyak sekolah. Mereka juga mendorong pengembangan cerita rakyat etnik Bengkulu lainnya agar warisan budaya dapat ditransformasikan ke media digital yang lebih ramah generasi alfa.
Peluncuran prototipe ini diharapkan menjadi langkah penting dalam menjaga keberlanjutan bahasa daerah sekaligus memperkuat industri kreatif berbasis kearifan lokal di Indonesia.(Isp)
- Penulis: Sepriyanita




Saat ini belum ada komentar