Kursi Renta yang Menyimpan Amanah, Filosofi Pendidikan Dr. Ririh Enggar Murwati
- account_circle Yuniardi Sutondo
- calendar_month Selasa, 29 Sep 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Sekretaris Dinas Pendidikan Pacitan, Dr. Hj. Ririh Enggar Murwati.
Pacitan,JarrakPos.com-Sebuah kursi mungkin tampak sebagai benda sederhana. Empat kaki, sebuah sandaran, lalu ruang untuk seseorang duduk dan beristirahat. Namun di ruang-ruang pendidikan, kursi tidak selalu sekadar tempat untuk melepas lelah.
Ada cerita yang tumbuh di atasnya. Ada cita-cita yang ditulis dari sana. Ada anak-anak yang setiap pagi datang membawa buku, mimpi, dan harapan, lalu menghabiskan sebagian masa kecilnya di atas kursi yang sama.
Bagi Sekretaris Dinas Pendidikan Pacitan, Dr. Ririh Enggar Murwati, kursi di lingkungan pendidikan memiliki makna yang jauh lebih panjang daripada sekadar benda.
Kursi adalah bagian kecil dari ekosistem belajar. Di atasnya, seorang anak mengenal huruf, merangkai kata, menghitung angka, bertanya tentang dunia, bahkan perlahan menemukan dirinya sendiri.
“Kursi itu bukan hanya tempat duduk. Di sana ada proses belajar, ada interaksi, ada harapan anak-anak untuk masa depannya,” ujar Ririh, Selasa (29/9).
Kalimat itu terdengar sederhana. Tetapi jika ditarik lebih jauh, sebuah kursi di ruang kelas sebenarnya menyimpan tanggung jawab yang besar.

Sebab ketika seorang anak duduk di sana, yang sedang dipertaruhkan bukan hanya satu jam pelajaran. Ada masa depan yang sedang dibentuk sedikit demi sedikit.
Guru hadir di depan kelas. Buku terbuka di atas meja. Papan tulis menjadi ruang untuk menorehkan pengetahuan. Dan kursi menjadi tempat seorang anak menjalani proses panjang itu—dari belum tahu menjadi tahu, dari ragu menjadi percaya diri.
Di sanalah pendidikan bekerja dalam bentuknya yang paling sederhana.
Bukan selalu melalui gedung yang megah atau teknologi yang canggih, tetapi melalui ruang kelas, seorang guru, dan anak-anak yang duduk dengan mata penuh rasa ingin tahu.
Bagi Ririh, perhatian terhadap sarana pendidikan juga tidak dapat dilepaskan dari upaya menghadirkan proses pembelajaran yang layak dan nyaman bagi peserta didik.
Karena setiap fasilitas, sekecil apa pun, pada akhirnya bermuara pada satu tujuan: memastikan anak-anak mendapatkan ruang yang pantas untuk belajar dan tumbuh.
Kursi pun menjadi semacam metafora.
Ia mengajarkan bahwa sesuatu yang tampak biasa bisa memiliki arti luar biasa ketika ditempatkan dalam konteks pengabdian.
Sebuah kursi diduduki. Tetapi sebuah amanah dijalankan.
Dan di balik kursi-kursi yang berjajar di ruang kelas sekolah-sekolah Pacitan, ada ribuan cerita anak yang sedang ditulis.
Mungkin kelak, ketika mereka telah dewasa dan melangkah jauh meninggalkan ruang kelas, mereka tidak lagi mengingat bentuk kursinya.
Namun dari kursi itulah, sebagian perjalanan hidup mereka pernah dimulai.
Sebab pendidikan memang sering kali bekerja secara sunyi.
Ia tumbuh dari hal-hal kecil yang dilakukan berulang-ulang: seorang guru yang datang mengajar, seorang anak yang tekun belajar, sebuah buku yang dibuka, dan sebuah kursi yang setiap pagi kembali terisi.
Di situlah makna sebuah kursi menjadi lebih dalam.
Ia bukan sekadar tempat untuk duduk. Ia adalah ruang kecil tempat masa depan pernah menunggu untuk dibentuk.(Red/yun).
- Penulis: Yuniardi Sutondo




Saat ini belum ada komentar