ASITA Bali Buka Jalan Paket Wisata Bali–Vietnam
- account_circle Putu Gede Sudiatmika
- calendar_month Jumat, 10 Jul 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ketua ASITA Bali, I Putu Winastra, bersama jajaran Pemerintah Provinsi Lâm Đồng, Vietnam, dan pelaku industri pariwisata kedua negara saat mengikuti forum promosi pariwisata dan business matching di Lâm Đồng, Vietnam. (Ket.Foto : Ist/Jp).
LAM DONG, jarrakpos.com – Di tengah ketatnya persaingan destinasi wisata dunia, Bali memilih mengambil langkah yang berbeda. Bukan berlomba merebut wisatawan sendirian, tetapi mengajak tetangga di Asia Tenggara untuk tumbuh bersama. Dari dataran tinggi Lâm Đồng yang berhawa sejuk hingga pesona Pulau Dewata yang mendunia, lahirlah sebuah gagasan besar: menghadirkan pengalaman perjalanan lintas negara yang lebih kaya, lebih panjang, dan lebih berkesan bagi wisatawan internasional.
Komitmen tersebut mengemuka dalam forum promosi pariwisata dan business matching yang mempertemukan Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) Bali dengan Pemerintah Provinsi Lâm Đồng, Vietnam. Pertemuan itu menjadi titik awal lahirnya berbagai peluang kerja sama, mulai dari penyusunan paket wisata bersama, promosi terpadu, hingga penguatan konektivitas antara Indonesia dan Vietnam.
Bagi ASITA Bali, kerja sama ini bukan sekadar agenda diplomasi pariwisata, melainkan strategi nyata menghadapi perubahan tren perjalanan global yang kini lebih mengedepankan pengalaman lintas destinasi.
“Kerja sama jauh lebih bernilai dibandingkan persaingan. Daripada bertanya berapa banyak wisatawan yang bisa kita tarik sendiri, lebih baik kita mencari cara untuk tumbuh bersama dengan menciptakan pengalaman perjalanan yang lebih menarik bagi wisatawan internasional,” ujar Ketua ASITA Bali, I Putu Winastra.
Menurut Winastra, Bali dan Lâm Đồng justru memiliki karakter yang saling melengkapi. Bali telah lama dikenal sebagai destinasi kelas dunia dengan kekuatan budaya, wellness tourism, pantai, resor mewah, hingga industri kreatif. Di sisi lain, Lâm Đồng menawarkan suasana pegunungan yang sejuk, perkebunan kopi, wisata petualangan, serta kekayaan budaya khas Vietnam.
Perbedaan itulah yang diyakini menjadi kekuatan untuk melahirkan produk wisata baru yang mampu menarik minat wisatawan internasional, khususnya mereka yang ingin menikmati dua negara dalam satu perjalanan.
“Kami melihat peluang besar untuk menghadirkan paket perjalanan lintas negara yang menggabungkan pesona Bali dengan keindahan Da Lat dan Lâm Đồng,” kata Winastra.
Tak berhenti pada penyusunan paket wisata, ASITA Bali juga menawarkan berbagai bentuk kolaborasi konkret. Mulai dari memperluas jaringan business to business (B2B), pertukaran informasi pasar, penyelenggaraan familiarization trip bagi agen perjalanan, media dan kreator konten, hingga promosi bersama melalui berbagai pameran pariwisata internasional dan kampanye digital.
ASITA juga menilai peningkatan konektivitas penerbangan menjadi faktor penting untuk mempercepat pertumbuhan kunjungan wisatawan di kedua negara.
“Kami berharap pertemuan ini tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi awal kerja sama jangka panjang yang dibangun atas dasar kepercayaan, persahabatan, dan saling menguntungkan,” tegas Winastra.
Optimisme serupa datang dari Pemerintah Provinsi Lâm Đồng. Wakil Direktur Dinas Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Provinsi Lâm Đồng, Nguyễn Lan Ngọc, menyebut Indonesia sebagai salah satu pasar wisata internasional prioritas yang masih memiliki ruang pertumbuhan sangat besar.
Saat ini wisatawan Indonesia baru berkontribusi sekitar 0,4 persen dari total kunjungan wisatawan mancanegara ke Lâm Đồng. Angka itu justru dipandang sebagai peluang untuk memperluas pasar melalui promosi bersama, pengembangan produk wisata, peningkatan kualitas layanan, hingga penyediaan fasilitas ramah wisatawan Muslim atau wisata halal.
Sebelum forum berlangsung, delegasi ASITA Bali bersama pelaku industri pariwisata Indonesia telah melakukan kunjungan lapangan ke berbagai destinasi unggulan di Lâm Đồng pada 6–9 Juli 2026. Kunjungan tersebut bertujuan memetakan potensi destinasi yang dinilai sesuai dengan karakter wisatawan Indonesia sekaligus menjadi fondasi penyusunan paket wisata bersama.
Di balik pertemuan bisnis itu, tersimpan sebuah pesan yang lebih besar dari sekadar angka kunjungan wisatawan. Bali dan Lâm Đồng sedang membangun sebuah jembatan baru bukan dari beton atau baja, melainkan dari kepercayaan, persahabatan, dan visi yang sama untuk menghadirkan pariwisata yang berkualitas serta berkelanjutan.
Jika langkah ini berjalan sesuai harapan, maka suatu hari nanti wisatawan dunia tak lagi hanya memilih Bali atau Vietnam. Mereka akan menikmati keduanya dalam satu perjalanan, membawa pulang lebih banyak cerita, sekaligus membuka lebih banyak peluang ekonomi bagi masyarakat di kedua negara.(JP).
- Penulis: Putu Gede Sudiatmika




Saat ini belum ada komentar