Korea Utara Panaskan Situasi Lagi: Uji Rudal Sehari Sebelum Trump Datang ke Seoul
- account_circle Kang Yos
- calendar_month Rabu, 29 Okt 2025
- comment 0 komentar
- print Cetak

Foto: Uji coba rudal balistik antarbenua Hwasong-17 di Bandara Internasional Pyongyang di Pyongyang, Korea Utara, Jumat (18/11/2022). Pemerintah Korea Utara melakukan uji coba rudal balis balistik antarbenua (ICBM) Hwasong-17 yang merupakan rudal terbesar yang dipunyai Korea Utara yang memiliki senjata nuklir, dan merupakan ICBM berbahan bakar cair terbesar di dunia. Rudal yang diluncurkan pada Jumat terbang hampir 1.000 kilometer (621 mil) selama sekitar 69 menit dan mencapai ketinggian maksimum 6.041 kilometer. (Korean Central News Agency/Korea News Service via AP)
SEOUL, 27 Oktober 2025 – Ketegangan di Semenanjung Korea kembali meningkat setelah Korea Utara melakukan uji coba rudal jelajah laut-ke-permukaan pada Selasa (29/10/2025). Momen ini terjadi hanya sehari sebelum Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dijadwalkan mendarat di Seoul dalam rangka kunjungan kenegaraan.
Langkah berani Pyongyang ini kembali mengundang perhatian dunia internasional. Banyak yang menilai aksi tersebut bukan hanya sekadar uji teknologi militer, tapi juga sinyal politik yang dikirim langsung ke Washington — terutama menjelang pembicaraan sensitif soal denuklirisasi yang sempat mandek sejak 2019.
Menurut laporan media pemerintah Korea Utara, KCNA, rudal-rudal itu diluncurkan secara vertikal dari perairan Laut Kuning dan terbang selama lebih dari dua jam sebelum jatuh di area target. Uji coba tersebut disebut sebagai “keberhasilan besar” dalam memperkuat kekuatan nuklir negara itu.
Uji coba kali ini dipimpin oleh pejabat tinggi militer, Pak Jong Chon, yang menegaskan bahwa langkah tersebut menunjukkan kesiapan Korut dalam menghadapi ancaman apa pun dari luar.
“Ini membuktikan kesiapan kami menghadapi setiap bentuk tekanan dan agresi eksternal,” ujar Pak, dikutip dari KCNA.
Menariknya, Pemimpin Tertinggi Kim Jong Un dilaporkan tidak hadir dalam uji coba tersebut, sama seperti saat peluncuran rudal hipersonik pekan lalu. Ketidakhadiran Kim memicu spekulasi bahwa ia tengah memantau situasi dari belakang layar, atau mungkin sedang menunggu momen yang lebih strategis untuk tampil ke publik.
Langkah yang Sarat Pesan Politik
Peluncuran ini dilakukan hanya beberapa jam sebelum Trump dijadwalkan tiba di Seoul dalam kunjungan pertamanya ke Semenanjung Korea pada masa jabatan keduanya. Trump sendiri sempat mengisyaratkan keinginannya untuk bertemu Kim jika Pyongyang bersedia membuka kembali dialog. Namun, sejauh ini belum ada respon resmi dari pihak Korea Utara.
Hubungan antara kedua pemimpin itu sempat mencair pada pertemuan di Zona Demiliterisasi (DMZ) tahun 2019, tapi harapan akan denuklirisasi penuh akhirnya kandas di tengah jalan. Kini, dengan uji coba terbaru ini, banyak pengamat menilai Korut tengah “mengetes air” untuk melihat seberapa besar pengaruh dan respon AS terhadap mereka.
“Peluncuran ini jelas bukan kebetulan,” kata Dr. Lee Sung-hoon, peneliti senior di Korea Institute for Defense Analyses, dikutip Reuters. “Korea Utara ingin memastikan mereka tidak diabaikan dalam perhitungan diplomatik Washington, terutama di tengah dinamika baru antara AS dan Korea Selatan.”
Pesan untuk Dunia
Beberapa analis lain juga menyebut bahwa uji coba ini merupakan bentuk “pesan ganda” dari Pyongyang — untuk AS dan sekutunya di Asia Timur. Di satu sisi, Korut ingin menunjukkan bahwa mereka masih punya taring. Di sisi lain, mereka ingin menegaskan posisi tawar dalam negosiasi internasional.
“Ini bukan hanya tentang rudal, tapi tentang eksistensi politik,” ujar seorang analis pertahanan di Seoul. “Korea Utara sedang mengingatkan dunia bahwa setiap langkah diplomasi di kawasan ini tidak bisa berjalan tanpa mempertimbangkan mereka.”
Dengan Trump yang akan tiba dalam waktu dekat, seluruh perhatian kini tertuju ke Seoul dan Pyongyang. Apakah kunjungan ini akan membuka kembali jalan dialog damai, atau justru memicu babak baru ketegangan — dunia sedang menunggu jawabannya.
Tags: Korea Utara, Donald Trump, Kim Jong Un, Rudal Jelajah, Semenanjung Korea, Denuklirisasi, Politik Internasional, KCNA, Seoul, Washington
- Penulis: Kang Yos
- Sumber: cnbc




Saat ini belum ada komentar