Atas Aspirasi Usman Husin: Hari Ini Tim BBWS Nusa Tenggara II Telah Turun ke Embung Livuhanik Rote, Akan Ada Perbaikan
- account_circle Mario
- calendar_month 25 menit yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

NTT, Jarrakpos.com- Aspirasi masyarakat Desa Lanteran, Kabupaten Rote Ndao, terkait kondisi Embung Livuhanik yang kering total dan mengalami kerusakan pintu air mulai mendapat tindak lanjut. Setelah menerima keluhan masyarakat, Anggota DPR RI Fraksi PKB Komisi IV, Usman Husin, bergerak cepat membangun koordinasi dengan kementerian terkait. Hasilnya, Kementerian Pekerjaan Umum melalui Balai Besar Wilayah Sungai Nusa Tenggara II (BBWS NT II) turun langsung ke lokasi pada Rabu, 21 Oktober 2026, untuk melakukan pengecekan dan identifikasi kondisi embung.
Langkah ini menjadi kabar yang dinantikan masyarakat. Embung yang telah ada sejak 1983 tersebut memiliki peran penting bagi sektor pertanian di wilayah itu, terutama sebagai sumber pengairan bagi 442 hektare lahan pertanian.
Namun, kondisi embung yang dilaporkan kering total, ditambah kerusakan pintu air dan persoalan sedimentasi, membuat masyarakat berharap adanya penanganan serius dari pemerintah agar fungsi embung dapat kembali dimanfaatkan secara optimal.
Bernadetha Tea, pejabat di lingkungan Balai Besar Wilayah Sungai Nusa Tenggara II (BBWS NT II), mengonfirmasi bahwa tim di Rote telah melakukan pengecekan dan peninjauan langsung ke Embung Livuhanik pada Rabu, 21 Oktober 2026.
Peninjauan tersebut dilakukan untuk melihat secara langsung kondisi embung sekaligus mengidentifikasi persoalan yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Hasil pemeriksaan lapangan diharapkan menjadi dasar untuk menentukan langkah penanganan yang tepat, termasuk rencana pengerukan sedimen guna mendukung pemulihan fungsi embung bagi kebutuhan pengairan lahan pertanian masyarakat.
Turunnya tim BBWS NT II menjadi tahapan penting dalam menindaklanjuti keluhan warga. Masyarakat kini berharap hasil identifikasi tersebut segera ditindaklanjuti dengan langkah konkret, sehingga persoalan yang selama ini membebani petani tidak berlarut-larut.
Usman Husin Bergerak Cepat Kawal Aspirasi Masyarakat
Mendengar keluhan masyarakat, Usman Husin tidak ingin aspirasi tersebut berhenti sebatas penyampaian persoalan. Ia langsung membangun koordinasi dengan kementerian terkait, termasuk mendorong perhatian Kementerian Pekerjaan Umum terhadap kondisi Embung Livuhanik.
Langkah tersebut kemudian mendapat respons melalui BBWS Nusa Tenggara II yang melakukan identifikasi langsung di lapangan.
Sebelumnya, Bernadetha Tea menyampaikan kepada media pada Selasa malam, 20 Oktober 2026, bahwa tim di Rote akan melakukan identifikasi lebih lanjut keesokan harinya.
“Besok teman-teman yang di Rote akan melakukan identifikasi lebih lanjut,” demikian keterangan Bernadetha Tea melalui pesan singkat kepada media.
Pernyataan tersebut kini ditindaklanjuti dengan pengecekan langsung ke lokasi. Perkembangan ini menjadi langkah awal yang diharapkan membuka jalan bagi penanganan kerusakan Embung Livuhanik.
Pengerukan Sedimen Disiapkan, Petani Menanti Perbaikan
Salah satu upaya penanganan yang disiapkan adalah pengerukan sedimen untuk membantu memulihkan fungsi embung. Langkah ini diharapkan menjadi bagian dari penanganan berdasarkan hasil identifikasi teknis di lapangan.
Selain persoalan sedimentasi, kondisi pintu air yang dilaporkan rusak juga menjadi perhatian karena berkaitan dengan fungsi pengaturan dan penyaluran air bagi lahan pertanian.
Masyarakat berharap peninjauan tersebut tidak berhenti pada pendataan. Mereka menginginkan langkah nyata untuk memperbaiki infrastruktur pengairan yang memiliki peran penting dalam mendukung kehidupan petani.
Keluhan masyarakat itu turut disuarakan Anggota DPRD Kabupaten Rote Ndao dari Fraksi PKB, Melkianus Frans Haning. Ia menyoroti pentingnya fungsi embung bagi pengairan 442 hektare lahan pertanian dan berharap persoalan tersebut mendapat perhatian serius dari pemerintah.
Embung Sejak 1983, Harapan Petani untuk 442 Hektare Lahan
Sejak dibangun pada 1983, Embung Livuhanik telah menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Desa Lanteran. Karena itu, pemulihan fungsinya menjadi harapan besar bagi petani yang membutuhkan dukungan infrastruktur air untuk menjalankan usaha pertanian.
Dengan turunnya BBWS Nusa Tenggara II ke lokasi, masyarakat berharap pemerintah dapat menindaklanjuti hasil pemeriksaan teknis melalui pengerukan sedimen dan penanganan pintu air yang rusak.
Melalui aspirasi yang dikawal Usman Husin, masyarakat berharap pemerintah pusat menghadirkan solusi yang berkelanjutan bagi Embung Livuhanik.
Bagi petani, persoalan ini bukan sekadar kerusakan bangunan. Ada 442 hektare lahan pertanian dan harapan banyak keluarga yang bergantung pada keberfungsian sumber pengairan tersebut.
Kini, setelah keluhan disampaikan dan tim BBWS turun langsung, masyarakat menanti agar langkah awal ini benar-benar berujung pada perbaikan Embung Livuhanik demi keberlangsungan pertanian dan kesejahteraan petani di Rote Ndao.***
- Penulis: Mario





Saat ini belum ada komentar