15 Tahun Tak Benar-Benar Kusut, Usman Husin Temukan Kenangan Saleh Husin di Kokbaun
- account_circle Mario
- calendar_month 22 menit yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

NTT, Jarrakpos.com- Sabtu, 8 Agustus 2026 saat matahari belum terlalu tinggi, perjalanan panjang dari Kota Kupang menuju Kecamatan Kokbaun, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), dimulai.
Sekitar pukul 06.40 WITA, rombongan Anggota Komisi IV DPR RI, Usman Husin, bergerak menembus perjalanan menuju wilayah yang berada jauh dari pusat kota.
Jalan terjal, jembatan, serta medan yang tidak selalu bersahabat harus dilewati dan tiba di lokasi sekita pukul 12:30 WITA.
Hari itu bukan sekadar agenda reses. Ada rangkaian pertemuan dengan masyarakat, mendengar aspirasi, berdiskusi, makan siang bersama warga hingga peninjauan lahan tanaman bawang putih.
Namun, di balik padatnya agenda tersebut, sebuah peristiwa sederhana justru menjadi cerita yang sulit dilupakan.
Usman Husin menemukan kembali sebuah kenangan lama yang ternyata masih melekat di tengah masyarakat Kokbaun.
Kenangan itu hadir dalam bentuk sebuah baju dengan wajah Saleh Husin yang bertuliskan “Saleh Husin Kawanku, Anggota DPR RI”.
Usianya bukan lagi hitungan bulan atau beberapa tahun. Baju itu disebut telah berusia sekitar 15 tahun, tetapi masih disimpan rapi, warna yang tak luntur dan dibawah oleh seorang warga.
Cerita itu bermula ketika Usman hendak melanjutkan perjalanan menuju lokasi kebun bawang putih milik masyarakat.
Di tengah kerumunan warga, terdengar suara memanggil.
“Bapak… Bapak…”
Suara itu semakin jelas. Seorang warga berjalan mendekat, menyusuri kerumunan, kemudian mencoba mendekati Usman.
Tatapannya tertuju kepada Usman.
Lalu ia menyampaikan sesuatu yang membuat suasana seketika berubah menjadi lebih personal.
“Bapak ini baju Pak Saleh Husin yang…”
Baju lama itu ternyata membawa sebuah cerita tentang sosok yang pernah hadir di tengah masyarakat NTT sekitar 15 tahun lalu.
Saleh Husin merupakan adik kandung Usman Husin. Ia pernah menjadi anggota DPR RI periode 2009–2014 dari daerah pemilihan NTT II. Pada periode tersebut, Saleh kemudian dipercaya Presiden Joko Widodo menjadi Menteri Perindustrian pada 2014–2016.
Namun, jauh sebelum menduduki jabatan sebagai menteri, jejak Saleh sebagai anggota DPR RI ternyata masih diingat oleh sebagian masyarakat di pelosok NTT. Salah satunya di Kokbaun.
Maksi Hala adalah warga yang mememgang dab membawa baju tersebut mengaku memiliki kenangan terhadap berbagai bantuan yang pernah disalurkan melalui tim Saleh Husin.
Menurutnya, meski pada saat itu Saleh tidak selalu hadir secara langsung, bantuan dan perhatian yang diberikan melalui timnya tetap dirasakan masyarakat.
“Waktu itu timnya pernah datang memberikan berbagai bantuan lewat timnya. Waktu itu juga dia kirim mobilnya, kami keliling untuk melihat masyarakat,” cerita Maksi.
Bagi Maksi, kebaikan tersebut tidak hilang begitu saja.
Kini, setelah bertahun-tahun berlalu, ia justru bertemu langsung dengan Usman Husin, kakak kandung Saleh.
“Walaupun saat itu beliau tidak pernah datang langsung, tetapi kebaikannya kami masih ingat. Dan hari ini saya bertemu dengan kakak kandungnya,” ujarnya.
Pertemuan itu menjadi semacam jembatan antara masa lalu dan masa kini.
Sebuah baju yang telah berusia sekitar 15 tahun menjadi pengingat bahwa kerja seorang wakil rakyat tidak selalu selesai ketika masa jabatan berakhir. Ada bantuan yang mungkin telah dilupakan oleh pemberinya, tetapi masih tersimpan dalam ingatan masyarakat yang pernah menerimanya.
Menariknya, pertemuan tersebut tidak berhenti pada cerita masa lalu.
Maksi kemudian menyampaikan aspirasi kepada Usman.
Ia berharap kelompok tani yang dipimpinnya di Desa Sabnala dapat segera memperoleh pengukuhan agar dapat lebih mudah mengakses program dan bantuan pemerintah.
“Saya harapkan kelompok tani saya yang belum pengukuhan bisa dikukuhkan, supaya sama seperti lima kelompok lainnya,” katanya.
Aspirasi itu disampaikan di tengah rangkaian kegiatan reses Usman Husin di Kokbaun.
Usman sendiri hari itu tidak hanya duduk mendengarkan masyarakat.
Setelah bertemu warga, ia bergerak menuju lokasi-lokasi yang menjadi sumber aspirasi masyarakat, termasuk meninjau kebun bawang putih yang berada sekitar dua kilometer dari lokasi reses.
Bagi Usman, perjalanan ke Kokbaun bukan sekadar memenuhi agenda reses.
Kehadiran di tengah masyarakat menjadi kesempatan untuk melihat langsung potensi sekaligus persoalan yang dihadapi warga.
Di wilayah tersebut, masyarakat menyampaikan berbagai aspirasi, mulai dari pertanian, pengembangan kelompok tani, hingga kebutuhan dukungan terhadap komoditas lokal.
Salah satu yang menjadi perhatian adalah pengembangan bawang putih.
Usman bahkan menyempatkan diri turun langsung ke kebun masyarakat untuk melihat tanaman bawang putih yang sebelumnya disampaikan warga.
Dari perjalanan itu, Usman dapat melihat langsung bagaimana masyarakat di wilayah pelosok berusaha mengembangkan pertanian dengan segala keterbatasannya.
Di tengah perjalanan panjang itulah, sebuah baju lama berusia 15 tahun mempertemukannya dengan cerita tentang Saleh Husin.
Sebuah cerita sederhana, tetapi menyimpan pesan yang dalam: waktu boleh berjalan, jabatan boleh berganti, tetapi jejak pengabdian yang dirasakan masyarakat dapat bertahan jauh lebih lama.
Baju itu mungkin telah lama melewati masa ketika pertama kali dikenakan.
Tetapi di Kokbaun, baju tersebut ternyata belum benar-benar kusut oleh waktu.
Ia masih menyimpan nama, kenangan, dan cerita tentang seorang anak NTT yang pernah memperjuangkan masyarakatnya.
Dan hari itu, kenangan tersebut kembali hidup ketika Usman Husin datang, berjalan menembus pelosok Kokbaun, lalu bertemu langsung dengan warga yang masih menyimpannya.***
- Penulis: Mario




Saat ini belum ada komentar