Uskup Agung Kupang Akan Disambut Adat Lamaholot di Puncak HUT Paroki Tarus & Hari Pangan Sedunia 2025
- account_circle Mario
- calendar_month Rabu, 29 Okt 2025
- comment 0 komentar
- print Cetak

NTT, Jarrakpos.com — Suasana penuh sukacita dan kearifan lokal akan mewarnai Acara Puncak HUT Paroki St. Simon Petrus Tarus yang dirangkai dengan Perayaan Hari Pangan Sedunia Tahun 2025, Rabu (29/10/2025).
Momentum ini tak sekadar perayaan iman, tetapi juga wujud nyata syukur atas berkat alam dan hasil kerja keras umat dalam menjaga pangan dan lingkungan.
Puncak acara akan diawali pada pukul 16.00 WITA dengan penyambutan Yang Mulia Uskup Agung Kupang, Mgr. Hironimus Pakaenoni, beserta rombongan.
Nuansa budaya kental akan terasa sejak awal kedatangan, ketika sapaan adat dari etnis Lamaholot menggema, diiringi tarian Hedung dan tarian Sokaseleng yang melambangkan penghormatan, kegembiraan, dan persaudaraan.
Setelah penyambutan, Mgr. Hironimus Pakaenoni dijadwalkan mengunjungi kebun mini paroki, sebuah simbol kepedulian terhadap pangan lokal dan ketahanan hidup umat.
Dalam kunjungan ini, beliau akan melakukan tanam dan panen simbolis, di mana hasil panen tersebut akan digunakan sebagai bahan persembahan dalam misa.
Uskup juga akan mengunjungi stan pameran hasil karya umat, kemudian diarak menuju gereja dengan iringan tarian tradisional yang penuh makna dan semangat kebersamaan.
Sekitar pukul 17.00 WITA, suasana khidmat akan menyelimuti Paroki St. Simon Petrus Tarus saat Misa Penutupan Hari Pangan Sedunia 2025 dimulai.
Momen ini menjadi puncak refleksi spiritual bagi seluruh umat untuk terus bersyukur dan berkomitmen menjaga bumi sebagai sumber kehidupan yang berkelanjutan.
Seluruh sambutan dan pesan akan disampaikan di akhir misa sebelum berkat penutup, menandai penutupan perayaan yang sarat nilai iman, budaya, dan kepedulian sosial.
Setelah misa, acara akan dilanjutkan dengan makan malam bersama, ramah tamah, dan sayonara sebagai ungkapan syukur dan persaudaraan yang mengakar dalam kehidupan umat.
Perayaan tahun ini menjadi cerminan bagaimana iman, budaya, dan tanggung jawab atas pangan dapat berpadu indah, memperkuat semangat hidup berkelanjutan dan solidaritas di tengah arus perubahan zaman.***
- Penulis: Mario




Saat ini belum ada komentar