Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Tak Berkategori » Menguatkan Kurikulum Muatan Lokal Gunung Ciremai (MLGC) Sebagai Ekosistem Pembelajaran Lintas Jenjang

Menguatkan Kurikulum Muatan Lokal Gunung Ciremai (MLGC) Sebagai Ekosistem Pembelajaran Lintas Jenjang

  • account_circle Ghana
  • calendar_month Sabtu, 11 Apr 2026
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

KUNINGAN, Jarrakpos.com – Pendidikan tidak hanya mengajarkan tentang apa yang ada dalam buku, ia harus menjawab pertanyaan yang lebih mendasar: untuk apa pengetahuan itu dipelajari, dan bagaimana ia terhubung dengan kehidupan nyata peserta didik? Karena dalam praktiknya, pembelajaran di sekolah masih belum banyak menyentuh soal realitas sosial, budaya, dan lingkungan tempat mereka tinggal.

Sehingga proses pembelajaran hanya dijadikan sebagai pemahaman tanpa dimaknai secara holistik. Padahal sudah jauh hari Ki Hadjar Dewantara menyatakan bahwa pendidikan bukanlah persiapan untuk hidup, pendidikan merupakan kehidupan itu sendiri.

Dalam konteks inilah kurikulum muatan lokal menemukan relevansinya. Seperti yang pernah ditegaskan oleh Mulyasa, bahwa muatan lokal merupakan kerangka kurikulum yang dikembangkan sesuai dengan potensi dan karakteristik suatu daerah. Gagasan serupa juga dikemukakan oleh Oemar Hamalik yang mengaitkan pendidikan muatan lokal yang diintegrasikan dengan keadaan lingkungan alam, sosial, dan budaya daerah. Dengan demikian, kurikulum tidak lagi berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakatnya.

Dalam kerangka tersebut, tentu kehadiran Kurikulum Muatan Lokal Gunung Ciremai (MLGC) merupakan langkah strategis dari Pemerintah Daerah Kabupaten Kuningan dalam mengintegrasikan nilai ekologis, sosial dan budaya lokal ke dalam praktik pembelajaran.

Muatan Lokal gunung Ciremai diharapkan menjadi ruang bagi peserta didik agar tidak hanya belajar tentang lingkungannya saja, tetapi juga menggunakan lingkungan tempat mereka tinggal sebagai sarana dan sumber belajar secara kontekstual. Sehingga proses pembelajaran yang dilakukan dapat menghubungkan antara teori dengan kegiatan praktik di lapangan.

Dari Kebijakan ke Praktik: Dinamika Implementasi di Sekolah 

Kekuatan kurikulum tidak hanya terletak pada desainnya, melainkan bagaimana ia diimplementasikan secara nyata diruang kelas. Apa yang tertulis dalam dokumen kebijakan seringkali mengalami perubahan ketika dihadapkan pada realitas implementasinya. Hal tersebut menunjukkan bagaimana aktor di tingkat sekolah secara aktif menafsirkan, mengadaptasi dan menerapkan kebijakan dalam praktik nyata di lapangan.

Pandangan ini sejalan dengan pemikiran Stephen J. Ball yang menegaskan bahwa implementasi kurikulum tidak berjalan linear dengan kebijakan, melainkan ditafsirkan dan diterjemahkan secara dinamis ke dalam praktik nyata berdasarkan konteks institusionalnya.

Dalam konteks ini, kepala sekolah dan guru memiliki peran strategis dalam menerjemahkan kebijakan menjadi praktik pembelajaran dan menentukan kualitas implementasi kurikulum. Oleh karena itu, kompetensi kepemimpinan pedagogis serta profesionalisme kepala sekolah dan guru menjadi sangat krusial agar pengalaman belajar yang dibangun relevan dengan kehidupan nyata peserta didik.

MLGC: Menghubungkan Sekolah dengan Kehidupan

Kurikulum muatan lokal memiliki kekuatan menghadirkan pembelajaran kontekstual yang menghubungkan peserta didik dengan nilai sosial, budaya serta lingkungannya.

Mereka tidak hanya menerima informasi dari guru dikelas, tetapi juga terlibat secara aktif untuk memahami realitas lingkungan yang ada di sekitarnya. Pembelajaran seperti ini akan lebih mudah dipahami karena memiliki kedekatan dengan kehidupan peserta didik sendiri.

Dalam praktiknya, Gunung Ciremai dapat menjadi sumber belajar yang kaya: mulai dari aspek ekologi lingkungan, budaya masyarakat, hingga potensi ekonomi lokal. Ketika hal ini diintegrasikan dalam pembelajaran, maka proses belajar tidak lagi bersifat abstrak, melainkan menjadi lebih konkret dan bermakna.
Lebih dari itu, pembelajaran berbasis kearifan lokal seperti MLGC juga berperan dalam membangun kesadaran identitas dan rasa peduli terhadap lingkungannya.

Ketika peserta didik terlibat langsung dalam mempelajari potensi serta permasalahan daerahnya, mereka tidak hanya memiliki kemampuan secara konginitf saja, tetapi juga mengasah sikap peduli dan rasa tanggung jawab terhadap lingkungan sosial. Hal ini menjadikan proses pembelajaran yang tidak hanya fokus pada aspek pengetahuan saja, melainkan sebuah upaya untuk membentuk generasi yang dapat membaca realitas dan berkontribusi nyata dalam kehidupan masyarakatnya.

Tantangan: Terputusnya Pembelajaran Antar Jenjang 

Berdasarkan hasil pengamatan, penerapan Kurikulum Muatan Lokal Gunung Ciremai (MLGC) pada jenjang PAUD, SD dan SMP sejatinya telah berjalan dengan cukup baik. Peserta didik telah ditanamkan nilai-nilai kearifan lokal sejak usia dini sampai jenjang pendidikan menengah pertama. Namun yang jadi pertanyaan adalah bagaimana dengan peserta didik yang ada di jenjang SMA dan mahasiswa di perguruan tinggi? apakah hal ini hanya karena adanya pembagian kewenangan pengelolaan pendidikan antara pemerintah kabupaten/kota, provinsi dan pemerintah pusat sehingga menimbulkan jarak kebijakan antar jenjang yang signifikan?
Tidak adanya kesinambungan antar jenjang ini pada akhirnya berdampak pada hilangnya potensi penguatan pembelajaran yang seharusnya mampu berkembang secara bertahap.

Pengetahuan dan pengalaman yang telah dibangun pada jenjang sebelumnya tidak sepenuhnya dilanjutkan, sehingga besar kemungkinan peserta didik akan mulai dari titik yang berbeda tanpa adanya kesinambungan yang jelas. Oleh karena itu, diperlukan sebuah upaya untuk membangun kebijakan lanjutan sebagai penghubung lintas jenjang pendidikan dan institusi pemerintah, baik melalui penyelarasan kurikulum atau dengan kolaborasi antar pemangku kepentingan. Hal ini bertujuan agar proses pembelajaran dapat berjalan secara utuh, terarah dan berkelanjutan.

Saya berkeyakinan bahwa kurikulum yang baik tentu harus memiliki prinsip kesinambungan (continuity) antar lintas jenjang pendidikan, sehingga peserta didik sebagai subjek utama pembelajaran mampu berkembang secara bertahap dan terarah sesuai dengan tujuan kurikulumnya. Oleh karenanya, MLGC memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai sebuah “ekosistem pembelajaran berbasis kearifan lokal berkelanjutan” yang tidak hanya berhenti pada jenjang pendidikan dasar, melainkan terintegrasi hingga ke perguruan tinggi.

MLGC sebagai Ekosistem Pembelajaran Lintas Jenjang 

Dalam konteks ini kita memerlukan perspektif baru dalam memandang Muatan Lokal Gunung Ciremai. Kurikulum ini tidak cukup diposisikan sebagai “mata pelajaran baru”, tetapi sesuatu yang harus ditransformasikan sebagai “sebuah ekosistem pembelajaran lintas jenjang pendidikan”.
Sebagai ekosistem, MLGC sejatinya menghubungkan berbagai jenjang pendidikan dalam satu alur pembelajaran yang berkelanjutan. Bisa kita bayangkan, jika pada jenjang Usia Dini dan Sekolah Dasar peserta didik mulai diperkenalkan pada kesadaran lingkungan dan nilai-nilai lokal, kemudian di jenjang SMP diarahkan pada pemahaman yang lebih mendalam tentang konteks gunung ciremai.

Tentu hal ini menjadi Langkah yang signifikan dalam merawat akar budaya daerah pada generasi muda di Kabupaten Kuningan.
Lalu pada jenjang SMA, peserta didik mulai diarahkan pada kajian kritis dan analisis tentang fenomena-fenomena yang berkaitan dengan Gunung Ciremai, sehingga pada level Perguruan Tinggi proses pembelajaran dapat diarahkan pada eksplorasi pengetahuan dan pemahaman berbasis riset yang kontekstual dengan kondisi di lapangan.

Jika ekosistem pembelajaran ini sudah terintegrasi sampai perguruan tinggi seperti yang disampaikan, Gunung Ciremai tidak hanya dipandang sebagai kawasan ekologis dan batas wilayah antar daerah, ia telah bertransformasi sebagai landasan pembelajaran kontekstual yang menguatkan kesadaran kolektif para generasi muda dalam menjaga, merawat dan mengembangkan kearifan lokal daerah di tengah arus perubahan zaman.

Menguatkan Sinergi untuk Keberlanjutan
Untuk mewujudkan Muatan Lokal Gunung Ciremai sebagai “ekosistem pembelajaran berbasis kearifan lokal berkelanjutan” tentu membutuhkan dukungan dari berbagai pihak. Pemerintah Daerah, Pemerintah Provinsi, Satuan Pendidikan, hingga Perguruan Tinggi perlu membangun sinergi yang berkelanjutan dalam menentukan arah dari kurikulum ini. Meskipun setiap jenjang pendidikan dan institusi pemerintah memiliki karakteristik dan political will yang berbeda, maka semuanya harus memiliki visi yang sama dalam satu kerangka besar penguatan pendidikan berbasis kearifan lokal Gunung Ciremai.

Sehingga pada akhirnya Mulok Gunung Ciremai telah menunjukkan bahwa pendidikan dapat tumbuh dari akar budaya lokal tanpa kehilangan relevansinya dengan perkembangan zaman. Tantangan kedepan tentu tergantung bagaimana sikap Pemerintah Daerah memperkuat kesinambungan dan memperluas jangkauan implementasinya.

Karena jika hal ini dapat diwujudkan, maka kurikulum Muatan Lokal Gunung Ciremai bukan hanya menjadi pelengkap struktur kurikulum, tetapi menjadi fondasi dalam membangun generasi yang mencintai lingkungannya, menghargai serta merawat budayanya, dan mampu berkontribusi nyata bagi daerah tempat tinggalnya sendiri. (Agh@N)

Penulis: Dadang Setiawan

  • Penulis: Ghana

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Diduga Gudang Beras Oplosan di Kawasan Industri Sekupang

    Diduga Gudang Beras Oplosan di Kawasan Industri Sekupang

    • calendar_month Jumat, 29 Mei 2026
    • account_circle Habil
    • visibility 139
    • 0Komentar

    Batam, Jarrakpos.com | Aktivitas dugaan pengoplosan beras di sebuah gudang kawasan industri Sekupang, Kota Batam, menjadi perhatian publik. Gudang tersebut tidak dilengkapi papan nama perusahaan dan diduga menjadi tempat pengoplosan beras bermerek ternama yang beredar di pasaran. Berdasarkan informasi yang beredar, bangunan yang digunakan sebagai gudang beras itu setiap harinya didatangi puluhan kontainer berisi beras yang […]

  • Wawali Ronny PL Tobing Apresiasi Karya Agung Film Production: Siap Sinergi Kembangkan Potensi Anak Muda Bengkulu

    Wawali Ronny PL Tobing Apresiasi Karya Agung Film Production: Siap Sinergi Kembangkan Potensi Anak Muda Bengkulu

    • calendar_month Sabtu, 25 Okt 2025
    • account_circle admin
    • visibility 356
    • 0Komentar

    BENGKULU, jarrakpos.com — Wakil Walikota Bengkulu, Ronny PL Tobing, menghadiri malam puncak perayaan Anniversary ke-1 Karya Agung Film Production yang digelar meriah di Gedung Teater Taman Budaya Bengkulu pada Sabtu malam (24/5/2025). Dalam sambutannya, Ronny mewakili Pemerintah Kota Bengkulu menyampaikan rasa bangga dan apresiasi setinggi-tingginya kepada Karya Agung Film Production beserta seluruh kru dan anak-anak […]

  • IPW Minta Kadivpropam Memeriksa Penyidik Subdit 2 Dittipideksus Terkait Dugaan Keberpihakan Perkara BSI

    • calendar_month Rabu, 26 Feb 2025
    • account_circle Syawal
    • visibility 1.568
    • 0Komentar

    Jakarta, (JarrakPos)- IPW mendesak Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan (Kadivpropam) Polri, Irjen Abdul Karim memeriksa penyidik subdit 2 Direktorat Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus (Dittipideksus) Bareskrim Polri yang diduga menutupi tindakan kejahatan manajemen BSI Cabang Bengkulu terkait fraud yang dilakukan oleh terdakwa TKD yang merugikan beberapa nasabahnya. Sebab, tindakan berpihak penyidik Subdit 2 Dittipideksus Bareskrim […]

  • Dispora Bengkulu Ajak Swasta Aktif Kembangkan Dunia Olahraga

    Dispora Bengkulu Ajak Swasta Aktif Kembangkan Dunia Olahraga

    • calendar_month Sabtu, 25 Okt 2025
    • account_circle admin
    • visibility 1.093
    • 0Komentar

    BENGKULU,jarrakpos.com – Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Provinsi Bengkulu mendorong perusahaan swasta untuk lebih aktif berkontribusi dalam pengembangan dunia olahraga di Bengkulu. Dispora menilai keterlibatan sektor swasta dapat menjadi kekuatan utama dalam mendukung pembinaan atlet, penyediaan fasilitas olahraga, serta peningkatan event olahraga lokal hingga nasional. Kepala Dispora Bengkulu, Ika Joni Ikhwan, S.Sos., M.M., menegaskan bahwa […]

  • Ketidak Sesuaian Jemput Gratis Angkutan Anak Sekolah Dikeluhkan Siswa

    Ketidak Sesuaian Jemput Gratis Angkutan Anak Sekolah Dikeluhkan Siswa

    • calendar_month Jumat, 19 Jun 2026
    • account_circle Feri Taufiandi
    • visibility 79
    • 0Komentar

    KOTA MAGELANG,JARRAKPOS.COM – Keterbatasan jam operasional dan sempitnya jangkauan rute menjadi sorotan saat evaluasi program angkutan pelajar gratis JEMPOL (Jemput Pelajar Kota Magelang), Jumat, 19 Juni 2026. Layanan transportasi gratis tersebut didesak untuk segera menyesuaikan jadwal pulang siswa tingkat menengah atas yang kerap melebihi pukul 16.00 WIB. Seorang perwakilan pelajar dari SMA Negeri 1 Magelang […]

  • Ratusan Warga Ikuti Upacara HUT ke-80 RI di Kecamatan Air Majunto

    Ratusan Warga Ikuti Upacara HUT ke-80 RI di Kecamatan Air Majunto

    • calendar_month Sabtu, 25 Okt 2025
    • account_circle admin
    • visibility 394
    • 0Komentar

    MUKOMUKO, jarrakpos.com – Suasana khidmat menyelimuti halaman Kantor Camat Air Majunto, Kabupaten Mukomuko, saat ratusan warga dari berbagai elemen mengikuti upacara peringatan detik-detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80, Minggu pagi (17/8/2025). Upacara tahun ini mengusung tema “Bersatu Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju.” Bertindak sebagai inspektur upacara yakni Camat Air Majunto, Dr. M. Fadly, SSTP., M.Si., […]

expand_less