Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » NEWS » Kronologi Pembangunan RS Permata yang Dipersoalkan Karena Tidak Memiliki AMDAL, Sikap Bupati Kuningan: Akan Melesat atau Meleset?

Kronologi Pembangunan RS Permata yang Dipersoalkan Karena Tidak Memiliki AMDAL, Sikap Bupati Kuningan: Akan Melesat atau Meleset?

  • account_circle Ghana
  • calendar_month Kamis, 17 Sep 2026
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

KUNINGAN, Jarrakpos.com – Persoalan perizinan pembangunan dan operasional Rumah Sakit Permata Kuningan kembali menjadi perhatian publik. Bukan semata karena keberadaan rumah sakit tersebut, melainkan karena munculnya sejumlah dokumen dan keputusan pemerintah daerah yang menunjukkan adanya persoalan dalam rangkaian proses perizinannya.

Jika kronologi dan dokumen yang ada dibaca secara utuh, pertanyaan besarnya adalah: apakah sejak awal proses perizinan RS Permata telah berjalan sesuai tahapan dan ketentuan yang berlaku?

Pertanyaan tersebut penting dijawab secara terbuka karena menyangkut kepastian hukum, tata ruang, lingkungan hidup, serta kewenangan pemerintah daerah dalam memberikan izin kepada sebuah fasilitas kesehatan berskala besar.

Berawal dari IMB yang Terbit Sebelum Persyaratan Lengkap
Berdasarkan nota dinas hasil rapat Tim Koordinasi Penataan Ruang Daerah (TKPRD) tanggal 29 Oktober 2018, disebutkan bahwa pembangunan Rumah Sakit Permata Kuningan telah memperoleh IMB Rumah Sakit Terpadu pada 4 Desember 2017.

Yang menjadi persoalan, berdasarkan dokumen tersebut, terdapat sejumlah persyaratan yang disebut belum terpenuhi, antara lain dokumen lingkungan dan kajian pertimbangan teknis pertanahan.

Di sinilah persoalan pertama muncul.

Jika benar persyaratan dasar belum lengkap ketika izin diterbitkan, maka patut dipertanyakan atas dasar apa izin tersebut dapat diterbitkan. Bahkan dalam nota dinas tersebut terdapat arahan agar Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kuningan membuat surat kepada DPMPTSP terkait persoalan tersebut sebagai dasar untuk menindaklanjuti izin yang telah diterbitkan.

Publik tentu berhak mendapatkan penjelasan: mengapa izin yang sejak awal disebut bermasalah dalam kelengkapan persyaratannya justru kemudian menjadi dasar bagi proses perizinan berikutnya?

Izin Operasional Muncul, Persoalan Lingkungan Belum Tuntas
Persoalan berikutnya terjadi pada 2 November 2018. DPMPTSP menerbitkan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko kepada RS Permata yang berkaitan dengan izin operasional.

Padahal, berdasarkan kronologi dokumen yang menjadi rujukan tulisan ini, sejumlah persyaratan dasar seperti kesesuaian pemanfaatan ruang dan aspek lingkungan disebut belum terselesaikan.

Kalau demikian, muncul pertanyaan yang sangat sederhana tetapi fundamental:

Bagaimana izin operasional dapat berjalan sementara izin dasar yang menjadi fondasi kegiatan tersebut masih dipersoalkan?

Dalam tata kelola perizinan, tahapan seharusnya bukan sekadar formalitas administratif. Setiap persyaratan memiliki fungsi untuk memastikan bahwa sebuah kegiatan telah memenuhi aspek tata ruang, lingkungan, bangunan, dan persyaratan teknis lainnya.

Karena itu, apabila satu tahapan dilompati, persoalannya bukan hanya soal kelengkapan berkas, tetapi juga menyangkut validitas proses secara keseluruhan.

UKL-UPL dan Pertanyaan tentang Kewajiban AMDAL
Persoalan semakin menarik ketika pada 21 Desember 2018 DLH Kuningan menerbitkan persetujuan rekomendasi UKL-UPL untuk RS Permata.

Di sinilah perdebatan mengenai AMDAL menjadi penting.

Dengan luas bangunan yang disebut mencapai sekitar 10.500 meter persegi, muncul pertanyaan apakah kegiatan tersebut memang cukup menggunakan UKL-UPL atau seharusnya masuk kategori kegiatan yang wajib AMDAL berdasarkan ketentuan lingkungan hidup yang berlaku pada saat proses tersebut dilakukan.

Permen LH Nomor 05 Tahun 2012 mengenai jenis rencana usaha dan/atau kegiatan yang wajib memiliki AMDAL menjadi salah satu regulasi yang perlu dilihat secara serius dalam persoalan ini.

Artinya, persoalan yang harus dijawab bukan sekadar “RS Permata memiliki UKL-UPL atau tidak?”, tetapi terlebih dahulu:

“Apakah UKL-UPL memang merupakan instrumen lingkungan yang tepat untuk kegiatan dengan karakteristik dan skala pembangunan RS Permata?”

Jika ternyata kegiatan tersebut masuk kategori wajib AMDAL, maka penerbitan UKL-UPL patut mendapatkan penjelasan dan pemeriksaan lebih lanjut dari instansi yang berwenang.

Perubahan IMB Membuka Persoalan Baru
Kejadian berikutnya terjadi pada 31 Desember 2018 ketika DPMPTSP menerbitkan persetujuan IMB kepada Rokmat Ardiyan atas nama PT Kuningan Kampung Sehat.

IMB tersebut berkaitan dengan permohonan perubahan IMB yang diajukan sebelumnya pada 10 September 2018.

Dari dokumen yang menjadi dasar kronologi ini, perubahan tersebut cukup signifikan. IMB pertama dengan nomor 654/KPTS 425-IMB/XII/2017 disebut diperuntukkan bagi Rumah Sakit Terpadu, Sekolah, Perumahan, Toko dan Masjid.

Kemudian peruntukannya berubah menjadi Rumah Sakit Permata dengan fasilitas ruko dan masjid.

Perubahan tersebut mengakibatkan IMB sebelumnya dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

Sekali lagi, publik berhak bertanya: mengapa sebuah izin yang sebelumnya telah diterbitkan kemudian berubah secara mendasar peruntukannya?

Dan yang lebih penting, apakah seluruh persyaratan yang seharusnya mengikuti perubahan fungsi dan skala bangunan tersebut telah dipenuhi sebelum izin baru diterbitkan?

Tahun 2020: Izin Operasional Kembali Diperkuat
Persoalan belum berhenti.

DPMPTSP kemudian menerbitkan Persetujuan Pemenuhan Komitmen Izin Operasional/Komersial Nomor 503/KPTS.002-SIRS/DPMPTSP/X/2020 kepada PT Kuningan Kampung Sehat atau RS Permata, yang berlaku selama lima tahun sejak tanggal ditetapkan.

Pada titik ini, persoalan yang muncul adalah konsistensi antara izin operasional dengan pemenuhan persyaratan dasar, terutama aspek lingkungan.

Jika sebuah rumah sakit dengan luas bangunan sekitar 10.500 meter persegi memang memerlukan rangkaian persyaratan tertentu sebelum dapat beroperasi, maka seluruh tahapan tersebut semestinya dapat ditunjukkan secara transparan kepada publik.

Dokumen apa yang menjadi dasar? Persetujuan lingkungannya di mana? AMDAL-nya di mana, jika memang kegiatan tersebut diwajibkan AMDAL?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut seharusnya tidak dianggap sebagai upaya menghambat investasi atau pelayanan kesehatan. Justru sebaliknya, kepastian hukum diperlukan agar keberadaan rumah sakit tidak terus-menerus dibayangi persoalan administratif dan lingkungan.

Sanksi Administratif 2026 Semakin Memperkuat Pertanyaan
Persoalan menjadi semakin serius setelah DLH Kuningan diketahui menerbitkan Keputusan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Nomor 600.4.6.1/KPTS.756-DLH/III/2026 tentang Penerapan Paksaan Pemerintah dan Denda Administratif kepada RS Permata.

Keputusan tersebut, berdasarkan informasi yang menjadi dasar tulisan ini, berkaitan dengan hasil pengawasan penataan lingkungan hidup dan laporan Pejabat Pengawas Lingkungan Hidup yang menemukan persoalan berupa RS Permata belum memiliki Persetujuan Lingkungan meskipun telah memiliki Perizinan Berusaha.

Jika fakta tersebut benar, maka ada persoalan mendasar yang tidak boleh dianggap remeh.

Sebab Persetujuan Lingkungan merupakan bagian penting dalam rezim perizinan lingkungan. Sementara AMDAL, apabila suatu kegiatan memang diwajibkan AMDAL, merupakan salah satu instrumen yang menjadi bagian dari proses untuk memperoleh persetujuan lingkungan.

Karena itu, keberadaan sanksi administratif tersebut justru menimbulkan pertanyaan yang lebih besar:

Bagaimana mungkin sebuah kegiatan telah memiliki Perizinan Berusaha tetapi persoalan Persetujuan Lingkungannya baru ditindak secara administratif kemudian?

Inilah yang perlu dijelaskan pemerintah kepada masyarakat secara terbuka.

Pembangunan Lahan Parkir Juga Dipersoalkan
Belum selesai persoalan lingkungan, muncul pula Berita Acara Pembinaan dari Satpol PP Kuningan tertanggal 17 Juli 2026 yang berkaitan dengan aktivitas pembangunan lahan parkir RS Permata.

Dokumen tersebut, berdasarkan informasi yang saya peroleh, berkaitan dengan dugaan pelanggaran ketentuan daerah mengenai pembangunan bangunan yang wajib memiliki izin dari Bupati.

Jika satu kegiatan pembangunan baru kembali dipersoalkan pada 2026, maka wajar apabila publik mempertanyakan efektivitas pengawasan pemerintah terhadap aktivitas pembangunan dan operasional RS Permata selama ini.

Lebih jauh lagi, temuan tersebut juga layak dikaitkan dengan pertanyaan mengenai apakah dokumen lingkungan yang pernah diterbitkan sebelumnya benar-benar dijalankan dan menjadi pedoman dalam setiap aktivitas pembangunan.

Ini Bukan Lagi Sekadar Persoalan Administrasi
Rangkaian peristiwa tersebut menurut saya menunjukkan bahwa persoalan RS Permata tidak tepat jika hanya dipandang sebagai masalah administratif biasa.

Ada setidaknya tiga persoalan besar yang perlu dijelaskan pemerintah:

Apakah seluruh izin diterbitkan melalui tahapan dan persyaratan yang benar?

Apakah instrumen lingkungan yang digunakan sudah sesuai dengan skala dan karakteristik kegiatan RS Permata?

Bagaimana sebuah fasilitas dapat memiliki Perizinan Berusaha ketika Persetujuan Lingkungannya masih menjadi persoalan?

Tiga pertanyaan tersebut seharusnya dijawab dengan dokumen, bukan sekadar pernyataan.

Publik tidak membutuhkan saling menyalahkan. Publik membutuhkan transparansi.

Bupati Kuningan Kini Diuji
Pada akhirnya, bola berada di tangan pemerintah daerah, khususnya Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar.

Ini bukan semata-mata soal apakah Bupati akan menghentikan atau mempertahankan operasional RS Permata. Yang jauh lebih penting adalah apakah pemerintah daerah berani melakukan audit dan pemeriksaan menyeluruh terhadap seluruh rangkaian perizinan RS Permata sejak awal.

Jika seluruh izin memang telah diterbitkan sesuai ketentuan, tunjukkan dokumennya kepada publik.

Jika ditemukan kekeliruan, lakukan koreksi sesuai mekanisme hukum.

Jika terdapat pelanggaran lingkungan, tegakkan aturan.

Dan jika ada persoalan kewenangan yang berada di tingkat pemerintah provinsi atau pusat, pemerintah daerah harus menyampaikannya secara terbuka.

Jangan sampai masyarakat terus disuguhi polemik perizinan yang tidak pernah benar-benar selesai.

Karena pada akhirnya, persoalan RS Permata bukan hanya tentang sebuah rumah sakit. Ini adalah ujian terhadap kepastian hukum, konsistensi pemerintah dalam menegakkan aturan, serta keberanian pejabat publik mengambil keputusan berdasarkan dokumen dan regulasi.

Maka pertanyaan yang kini layak diajukan kepada Bupati Kuningan adalah:

Akankah sikap tegas itu melesat untuk menyelesaikan persoalan perizinan RS Permata, atau justru meleset sehingga persoalan yang sama kembali berlarut-larut?

Kuningan, 16 September 2026

Uha Juhana
Ketua LSM Frontal

  • Penulis: Ghana

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Inilah Juru Kunci Gunung Tidar yang Baru

    Inilah Juru Kunci Gunung Tidar yang Baru

    • calendar_month Kamis, 11 Des 2025
    • account_circle Feri Taufiandi
    • visibility 316
    • 0Komentar

    KOTA MAGELANG,JARRAKPOS.COM – Imam Budi Prasetyo, resmi dikukuhkan sebagai Juru Kunci ke-IV Gunung Tidar, Kota Magelang. Ia menggantikan ibunya, Sutijah, yang wafat belum lama. Proses pengukuhan digelar secara adat di area parkiran atas Gunung Tidar, Kamis, (11/12/2025), oleh Wali Kota Magelang Damar Prasetyono. Suasana haru menyelimuti prosesi yang disaksikan para sesepuh, tokoh masyarakat, serta warga […]

  • Sengketa Lahan Warga Kampong Cepu Vs PT. Bensuli, Kuasa Hukum Cegat Pengukuran BPN

    Sengketa Lahan Warga Kampong Cepu Vs PT. Bensuli, Kuasa Hukum Cegat Pengukuran BPN

    • calendar_month Kamis, 18 Jun 2026
    • account_circle Rahmad Ariadi
    • visibility 193
    • 0Komentar

    SUBULUSSALAM, jarrakpos.com – Rencana pengukuran ulang tapal batas lahan antara PT Bensuli Salam Makmur (BSM) dan masyarakat Kampong Cepu, Kecamatan Penanggalan, Kota Subulussalam, akhirnya ditunda setelah mendapat keberatan dari kuasa hukum warga. Kuasa hukum masyarakat Kampong Cepu, Adv. Abdul Rani, S.H., C.P.C.L.E., menegaskan penolakannya terhadap pelaksanaan pengukuran ulang yang dijadwalkan pada Rabu (17/6/2026). Menurutnya, pengukuran […]

  • Sukses SGG Simalungun Berlanjut

    Sukses SGG Simalungun Berlanjut

    • calendar_month Kamis, 30 Okt 2025
    • account_circle Syawal
    • visibility 309
    • 0Komentar

    Hasil Livoli Divisi 1 2025 Kamis (30/10/2025) mencatat sejumlah tim unggulan memastikan langkah ke babak 8 besar. Dari sektor putra, SGG Simalungun menjadi tim pertama asal Sumatera Utara yang lolos ke 8 Besar. SGG Simalungun mengalahkan HTJ Lamongan Megilan 3-1 (25-22, 25-20, 23-25, 27-25) yang berlangsung di Lamongan Sukses ini disambut suka cita ketua Pengprov […]

  • Marwan Faza/Aisyah Salsabila Ingin Naikkan Level

    Marwan Faza/Aisyah Salsabila Ingin Naikkan Level

    • calendar_month Minggu, 26 Okt 2025
    • account_circle Syawal
    • visibility 394
    • 0Komentar

    Medan – Ganda campuran Indonesia Marwan Faza/Aisyah Salsabila Putri Pranata mempunyai target. Pasangan ini ingin menembus level super 300 “Target kedepan pingin di level super 300 kita bisa lebih bersaing karena sebelumnya kita belum tembus-tembus kerap kalah di babak 16 besar, jadi kita pingin lebih baik dari itu”, kata Marwan Faza usai pertandingan, Minggu (26/10) […]

  • Dorong Pelayanan Publik Digital, Pemkot Bengkulu Bekali Seluruh Kelurahan Pengelolaan Website

    Dorong Pelayanan Publik Digital, Pemkot Bengkulu Bekali Seluruh Kelurahan Pengelolaan Website

    • calendar_month Sabtu, 25 Okt 2025
    • account_circle admin
    • visibility 1.045
    • 0Komentar

    BENGKULU, jarrakpos.com – Pemerintah Kota Bengkulu melalui Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Bengkulu menggelar kegiatan diskusi dan diseminasi website Kelurahan yang diikuti oleh seluruh Kelurahan se-Kota Bengkulu. Kegiatan ini dilaksanakan di Ruang Hidayah I, Kantor Walikota Bengkulu, Senin (6/10), dengan tujuan utama memperkuat tata kelola informasi publik di tingkat Kelurahan. Staf Ahli Bidang Pemerintahan, […]

  • Pemerintah dan Aparat Hukum Diharap Pikirkan Nasip Ribuan Pekerja Gelper

    Pemerintah dan Aparat Hukum Diharap Pikirkan Nasip Ribuan Pekerja Gelper

    • calendar_month Sabtu, 22 Agt 2026
    • account_circle Habil
    • visibility 81
    • 0Komentar

    BATAM, jarrakpos.com | Ketua DPW Sekretariat Bersama Wartawan Indonesia (SWI) Provinsi Kepulauan Riau,Amran Sihombing,mendukung langkah penegakan hukum yang sedang berproses saat saat ini di kota Batam, tetapi dampak sosial dan ekonomi terhadap pekerja secara khusus pekerja gelper jangan sampai diabaikan. Demikian diutarakan Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Sekretariat Bersama Wartawan Indonesia (SWI ) Provinsi Kepulauan […]

expand_less