Imigrasi Gandeng ITB Bangun “Pagar Digital” Jaga Perbatasan Indonesia
- account_circle Tude
- calendar_month Kamis, 2 Jul 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Direktur Jenderal Imigrasi Hendarsam Marantoko bersama jajaran Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara ITB menggelar pembahasan pengembangan program "Pagar Digital", sistem pengawasan perbatasan berbasis drone untuk memperkuat keamanan wilayah Indonesia.(Ket.Foto : Ist/Jp).
JAKARTA, jarrakpos.com – Batas negara tidak lagi hanya dijaga dengan pos penjagaan dan patroli darat. Di tengah luasnya wilayah perbatasan Indonesia, teknologi mulai mengambil peran sebagai mata yang mampu mengawasi tanpa henti. Gagasan itulah yang kini diwujudkan Direktorat Jenderal Imigrasi melalui kolaborasi dengan Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara Institut Teknologi Bandung (FTMD ITB). Program bertajuk “Pagar Digital” menjadi langkah awal menghadirkan sistem pengawasan berbasis drone karya anak bangsa untuk memperkuat pengamanan kawasan perbatasan.
Inisiatif tersebut mengemuka dalam pertemuan antara Direktorat Jenderal Imigrasi dan tim FTMD ITB di Gedung Direktorat Jenderal Imigrasi, Jakarta, Selasa (30/6/2026). Kolaborasi ini lahir dari keinginan menghadirkan solusi teknologi nasional yang mampu menjawab tantangan pengawasan wilayah perbatasan Indonesia yang mencapai ribuan kilometer.
“Saya melihat berbagai teknologi pengamanan perbatasan di luar negeri. Dari situ muncul pertanyaan, mengapa belum banyak teknologi sejenis yang lahir dari karya anak bangsa. Padahal sumber daya manusia kita memiliki kemampuan yang sangat baik,” ujar Direktur Jenderal Imigrasi, Hendarsam Marantoko.
Indonesia memiliki garis perbatasan darat sepanjang sekitar 3.111 kilometer yang membentang di Kalimantan, Papua, hingga Nusa Tenggara Timur. Pada wilayah seluas itu hanya terdapat 18 Pos Lintas Batas Negara (PLBN) dan 38 Pos Lintas Batas (PLB), sementara sebagian di antaranya belum beroperasi secara optimal. Kondisi tersebut menghadirkan tantangan besar dalam mengawasi jalur tidak resmi yang kerap dimanfaatkan untuk aktivitas ilegal.
“Tantangan terbesar kami bukan hanya mengawasi pelintas resmi, tetapi juga jalur-jalur tikus yang rawan dimanfaatkan untuk tindak pidana perdagangan orang, penyelundupan manusia, maupun penyelundupan barang,” kata Hendarsam.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Imigrasi akan memanfaatkan teknologi drone hasil pengembangan ITB bersama PT Dirgantara Indonesia yang telah dikembangkan sejak 2019. Sistem ini menggabungkan drone High Altitude Long Endurance (HALE) yang mampu terbang selama 24 jam di ketinggian sekitar 1.000 meter dengan drone Mantis yang bergerak lebih dekat untuk melakukan identifikasi visual terhadap objek yang terdeteksi.
Kedua drone bekerja sebagai satu sistem terpadu. Saat drone HALE menemukan aktivitas mencurigakan di kawasan perbatasan, koordinat lokasi langsung diteruskan secara real time sehingga petugas dapat segera melakukan langkah pengamanan.
“Pagar Digital memang tidak menghentikan orang secara fisik. Sistem ini memberikan situational awareness secara real time sehingga waktu respons petugas dapat dipangkas secara signifikan,” jelas Hendarsam.
Pendekatan berbasis teknologi ini juga dinilai mampu meningkatkan efektivitas pengawasan sekaligus menghemat biaya operasional. Dengan dukungan tenaga surya sebagai sumber energi, drone dapat menjalankan patroli udara secara berkelanjutan tanpa harus mengandalkan pesawat berawak yang membutuhkan biaya jauh lebih besar.
Keberadaan “mata di udara” tersebut juga memberikan perlindungan tambahan bagi personel yang bertugas di kawasan dengan tingkat risiko keamanan tinggi maupun wilayah yang sulit dijangkau melalui patroli konvensional.
“Drone memperluas daya jangkau petugas kami. Data awal yang akurat membuat tim di lapangan dapat bergerak lebih cepat dan lebih tepat sasaran,” ungkap Hendarsam.
Lebih dari sekadar menghadirkan teknologi pengawasan, Pagar Digital diproyeksikan menjadi bagian dari upaya membangun kemandirian teknologi nasional dalam menjaga kedaulatan negara. Sinergi antara Direktorat Jenderal Imigrasi, FTMD ITB, dan PT Dirgantara Indonesia memperlihatkan bagaimana inovasi dalam negeri dapat menjawab kebutuhan strategis bangsa. Di tengah tantangan kejahatan lintas batas yang terus berkembang, langkah ini menjadi ikhtiar menghadirkan sistem pengawasan yang lebih cerdas, responsif, dan berkelanjutan dengan mengandalkan kemampuan putra putri Indonesia sendiri.(Jp).
- Penulis: Tude




Saat ini belum ada komentar