Di Era AI dan Influencer, Wali Kota Kupang Minta Pers Utamakan Kualitas dan Kepercayaan
- account_circle Mario
- calendar_month 5 menit yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

NTT, Jarrakpos.com- Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, mengingatkan insan pers agar tidak terjebak dalam perlombaan mengejar viralitas, jumlah penonton (viewer), maupun popularitas di media sosial.
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), dan menjamurnya influencer, menurutnya, kepercayaan publik tetap menjadi aset paling berharga yang dimiliki media.
Pesan tersebut disampaikan saat membuka Pelatihan Jurnalistik yang digelar Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) di Kota Kupang, Rabu.
Dalam sambutannya, Christian menegaskan bahwa tantangan dunia pers akan terus berubah mengikuti perkembangan zaman. Namun, ada satu hal yang tidak akan pernah kehilangan relevansinya, yakni kemampuan media menjaga kepercayaan masyarakat.
“Tantangan terbesar pers itu bukan hanya AI, bukan hanya influencer, bukan hanya hoaks. Bagi saya, tantangan terbesar yang tidak akan lekang oleh waktu adalah kepercayaan publik,” tegasnya, (5/8/2026).
Menurutnya, secanggih apa pun teknologi berkembang, masyarakat akan tetap membutuhkan media yang menyajikan informasi secara akurat, berimbang, dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Kalau pers bisa menjaga kepercayaan publik, jurnalisme akan selalu dibutuhkan. Mau ada AI, mau ada influencer, atau teknologi apa pun, masyarakat tetap mencari media yang mereka percaya,” ujarnya.
Christian menilai banyak media maupun akun media sosial saat ini terlalu fokus mengejar tingginya jumlah viewer, pengikut, maupun interaksi di platform digital. Padahal, tingginya angka tersebut belum tentu mencerminkan kualitas dan kredibilitas sebuah media.
Ia mencontohkan, tidak sedikit konten yang memperoleh jutaan penonton hanya karena menyajikan sensasi, gosip, atau informasi yang belum tentu benar.
“Jangan pikir viewer kita 10 ribu atau satu juta berarti kita sudah sukses menjadi media yang terpercaya. Belum tentu. Bisa saja orang menonton hanya karena penasaran atau ingin melihat hoaks apa lagi yang muncul,” katanya.
Karena itu, ia mengajak seluruh insan pers mengubah orientasi dari sekadar mengejar popularitas menjadi membangun kepercayaan yang berkelanjutan.
“Kesuksesan sebuah tulisan bukan diukur dari berapa banyak yang melihat, tetapi berapa banyak orang yang percaya terhadap tulisan itu. Quality over quantity. Kualitas jauh lebih penting daripada kuantitas,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Christian juga menyoroti pentingnya peran media sebagai penghubung antara pemerintah dan masyarakat. Menurutnya, keberhasilan suatu program pembangunan tidak hanya ditentukan oleh kualitas program itu sendiri, tetapi juga oleh cara informasi tersebut disampaikan kepada publik.
Ia mengibaratkan sebuah produk sederhana yang bisa diterima masyarakat karena dikemas dan dikomunikasikan dengan baik.
“Program pemerintah bisa saja bagus, tetapi kalau cara menyampaikannya salah, masyarakat tidak memahami manfaatnya. Di situlah peran pers menjadi sangat penting sebagai jembatan informasi,” jelasnya.
Christian turut memberikan apresiasi kepada SMSI NTT yang dinilainya konsisten meningkatkan kompetensi wartawan melalui pelatihan dan sertifikasi.
Menurutnya, organisasi profesi harus mampu memberikan manfaat nyata bagi anggotanya dan masyarakat, bukan sekadar menjadi wadah berkumpul.
“Kalau kita membentuk organisasi, ujungnya harus selalu bermanfaat bagi masyarakat. Jangan hanya menjadi tempat kumpul-kumpul. SMSI hari ini membuktikan dirinya melalui pelatihan yang meningkatkan kapasitas wartawan,” ujarnya.
Ia kemudian mengibaratkan organisasi sebagai kapal yang diciptakan untuk menghadapi ombak, bukan hanya bersandar di pelabuhan.
“Kapal dibuat bukan untuk ditambatkan di dermaga. Kapal dibuat untuk menghajar ombak. Begitu juga SMSI. Organisasi ini harus hadir menjawab tantangan melalui karya jurnalistik yang berkualitas,” katanya.
Sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan ekosistem pers di Kota Kupang, Christian meminta Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Kupang membuka ruang kolaborasi yang lebih luas dengan SMSI.
Ia mengusulkan agar lima jurnalis SMSI yang telah memiliki kompetensi dan sertifikasi dapat dilibatkan dalam mendukung penyebarluasan informasi mengenai program-program Pemerintah Kota Kupang.
Selain itu, secara pribadi ia juga menyatakan akan menyumbangkan satu unit laptop untuk mendukung operasional Sekretariat SMSI NTT.
“Saya dengar kebutuhan jurnalis salah satunya laptop. Jadi saya secara pribadi ingin menyumbangkan satu laptop untuk sekretariat SMSI. Mudah-mudahan bisa membantu teman-teman dalam bekerja,” ujarnya yang disambut tepuk tangan peserta.
Menutup sambutannya, Christian mengajak seluruh elemen masyarakat terus memperkuat kolaborasi dalam membangun Kota Kupang.
“Saya tidak bisa bekerja sendiri. Saya membutuhkan wartawan, tokoh agama, komunitas, LSM, dan seluruh elemen masyarakat. Datang bersama adalah sebuah permulaan, tetap bersama adalah sebuah kemajuan, dan bekerja bersama adalah sebuah kesuksesan,” pungkasnya.***
- Penulis: Mario




Saat ini belum ada komentar