Di Balik Gemerlap Marching Parade Pacitan, Sampah Masih Jadi Persoalan
- account_circle Yuniardi Sutondo
- calendar_month 1 menit yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

Malam penutupan Pacitan Night Marching Parade, sampah nampak berserakan di bahu jalan dan trotoar. DLH ingatkan kepedulian bersama.
Pacitan,Jarrakpos.com-Gemerlap Malam Paripurna Pacitan Marching Parade 2026 menyuguhkan kemeriahan yang memikat. Ribuan pasang mata menikmati atraksi dan penampilan yang memenuhi ruang publik dengan semangat serta kebanggaan terhadap kota.
Namun, di balik kemeriahan tersebut, masih tersisa pekerjaan rumah yang tak kalah penting: kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan.
Usai kegiatan, sampah masih terlihat berserakan di sejumlah titik yang menjadi lokasi berkumpulnya penonton. Plastik kemasan, botol minuman, hingga berbagai sampah sisa konsumsi tampak meninggalkan jejak di tengah wajah kota yang seharusnya tetap bersih dan nyaman.
Kondisi tersebut menjadi perhatian Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pacitan. Kepala DLH Pacitan, Cicik Ruhdlotul Jannah, menyayangkan perilaku sebagian masyarakat yang masih membuang sampah sembarangan.
Ia mengingatkan bahwa menjaga kebersihan kota bukan semata-mata menjadi tugas petugas kebersihan. Kebersihan merupakan tanggung jawab bersama, terutama masyarakat yang menikmati ruang publik dan berbagai kegiatan yang digelar di dalamnya.
“Siapa di antara bapak, ibu, kakak, adik yang tega banget mengotori Kota Pacitan yang kita cintai,” ujarnya, Ahad (13/9).
Pernyataan tersebut bukan sekadar teguran. Ada pesan sederhana yang hendak disampaikan: semarak sebuah acara semestinya tidak berakhir dengan meninggalkan sampah.

Menikmati hiburan, menyaksikan parade, maupun berkumpul bersama keluarga dan orang-orang terdekat merupakan hak setiap warga. Tetapi pada saat yang sama, ada tanggung jawab yang melekat, yakni membawa kembali sampah yang dihasilkan atau membuangnya pada tempat yang telah disediakan.
Sebab, wajah kota bukan hanya dibentuk oleh gedung, jalan, taman, atau berbagai ornamen yang mempercantik ruang publik. Wajah kota juga tercermin dari perilaku warganya.
Pacitan yang dikenal dengan keindahan alam dan lingkungan yang asri tentu membutuhkan kepedulian seluruh elemen masyarakat. Kegiatan besar seperti Marching Parade seharusnya tidak hanya menjadi ruang untuk menikmati pertunjukan, tetapi juga menjadi momentum membangun budaya tertib, peduli, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Menjaga kebersihan pada akhirnya bukan perkara besar. Ia bermula dari tindakan kecil: tidak membuang sampah sembarangan, membawa sampah hingga menemukan tempat pembuangan, serta mengingatkan orang di sekitar dengan cara yang baik.
“Jika ribuan penonton melakukan hal sederhana tersebut, kemeriahan sebuah acara tidak harus dibayar dengan kotornya ruang kota,” tegas Cicik.
Marching Parade boleh usai, riuh tepuk tangan boleh reda, dan lampu-lampu pertunjukan boleh dipadamkan. Namun, kepedulian terhadap kebersihan seharusnya tetap menyala.
Karena mencintai Pacitan bukan hanya dengan menikmati keindahannya, tetapi juga dengan ikut menjaganya tetap bersih.(Red/yun).
- Penulis: Yuniardi Sutondo




Saat ini belum ada komentar