Napak Tilas Jejak Perjuangan Jenderal Sudirman, Bupati Aji Titipkan Pesan Patriotisme kepada 1.914 Taruna TNI-Polri
- account_circle Yuniardi Sutondo
- calendar_month 2 menit yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

Bupati Pacitan, KRT Indrata Nur Bayuaji Reksonagoro saat upacara penyerahan tandu duplikat dalam rangka Latihan Rute Panglima Besar (RPS) Diksar Integratif Taruna Akademi TNI dan Akademi Kepolisian Tahun Pendidikan 2026.
Pacitan,JarrakPos-Kabupaten Pacitan kembali menjadi bagian penting dalam perjalanan pembentukan karakter calon pemimpin bangsa.
Kali ini, bumi yang dikenal dengan bentang alam karst dan jejak sejarah perjuangannya menjadi tempat pelaksanaan upacara penyerahan tandu duplikat dalam rangka Latihan Rute Panglima Besar (RPS) Diksar Integratif Taruna Akademi TNI dan Akademi Kepolisian Tahun Pendidikan 2026.
Upacara yang berlangsung di Lapangan Den Lanud Pacitan, Jumat (6/11) tersebut dipimpin langsung oleh Bupati Pacitan, Kanjeng Raden Tumenggung Indrata Nur Bayuaji Reksonagoro, selaku inspektur upacara. Kegiatan ini diikuti sebanyak 1.914 prabhatar atau prajurit taruna, bersama jajaran pelatih, pengasuh, serta unsur pendukung lainnya.
Kehadiran para taruna dari Akademi TNI dan Akademi Kepolisian bukan sekadar agenda latihan pendidikan militer. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi kehormatan sekaligus kebanggaan karena Pacitan dipercaya menjadi bagian dari proses pendidikan dan pembentukan karakter calon pemimpin bangsa melalui napak tilas rute perjuangan Panglima Besar Jenderal Sudirman.
Dalam amanatnya, Bupati Indrata Nur Bayuaji menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada jajaran Akademi TNI, Polri, serta seluruh prajurit taruna yang telah melaksanakan kegiatan di Kabupaten Pacitan.
“Atas nama Pemerintah dan masyarakat Kabupaten Pacitan, dengan penuh rasa hormat dan bangga, kami menyampaikan terima kasih kepada jajaran Akademi TNI dan Polri, serta seluruh prajurit taruna atas pelaksanaan kegiatan di Kabupaten Pacitan. Selamat datang di Pacitan, bumi yang indah, diukir oleh ombak Samudra Hindia sepanjang 70 mil dan dipayungi perbukitan karst purba,” tutur Bupati.
Ia mengajak para taruna untuk melihat Pacitan bukan hanya sebagai wilayah dengan keindahan alam, melainkan juga ruang yang menyimpan jejak panjang peradaban dan sejarah perjuangan bangsa.
Pacitan, menurutnya, merupakan salah satu tempat manusia purba pernah berdiri tegak dan membangun peradaban. Tanah ini juga menjadi saksi perjuangan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia, termasuk jejak perjuangan Panglima Besar Jenderal Sudirman.
Dari Pacitan pula lahir seorang putra terbaik bangsa yang pernah memimpin Indonesia, yakni Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, lulusan terbaik Akademi Militer tahun 1973.
Sosok tersebut, kata Bupati, menjadi mercusuar inspirasi bagi anak-anak Pacitan sekaligus teladan bagi para taruna yang tengah menempuh pendidikan untuk mengabdikan diri kepada bangsa dan negara.
Lebih jauh, Bupati menegaskan bahwa napak tilas rute perjuangan Jenderal Sudirman bukan sekadar perjalanan menyusuri kembali jejak masa lalu. Kegiatan tersebut harus dimaknai sebagai momentum untuk membangkitkan semangat perjuangan, keteguhan hati, dan jiwa pengabdian generasi penerus bangsa.
Melalui perjalanan itu, para taruna diajak mengenang sosok pemimpin sejati yang tetap teguh di tengah keterbatasan, terus melangkah dalam penderitaan, dan tidak pernah menyerah meskipun harus menghadapi himpitan keadaan.
“Inilah teladan kepemimpinan yang sesungguhnya. Bahwa kekuatan seorang prajurit tidak hanya terletak pada ketangguhan fisik dan kemampuan militer, tetapi juga pada keteguhan hati serta kesungguhan dalam mengabdi kepada bangsa dan negara,” tegasnya.
Seorang prajurit, sambung Bupati, tidak cukup hanya memiliki kemampuan dan kekuatan fisik. Integritas, kedisiplinan, keteguhan prinsip, serta keberanian untuk berkorban merupakan fondasi penting dalam menjalankan tugas pengabdian.
Kepada seluruh prajurit taruna TNI dan Polri, Bupati berharap setiap rangkaian kegiatan napak tilas dapat diikuti dengan penuh kesungguhan. Setiap tantangan hendaknya dijadikan sarana memperkuat mental, membentuk karakter, sekaligus menempa jiwa kepemimpinan.
Ia pun menitipkan pesan khusus agar para taruna tumbuh menjadi prajurit yang tangguh, berintegritas, disiplin, dan memiliki jiwa patriotisme yang kuat.
“Jadilah prajurit yang tangguh, berintegritas, disiplin, dan berjiwa patriot. Milikilah daya juang yang tinggi, pantang menyerah, rela berkorban demi kepentingan bangsa dan negara, serta senantiasa berpegang teguh pada nilai-nilai keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa,” pesannya.
Di sisi lain, Bupati Indrata juga berharap kegiatan napak tilas tersebut membawa manfaat lebih luas bagi Kabupaten Pacitan, khususnya dalam memperkenalkan potensi sejarah, wisata sejarah, dan wisata edukasi kepada masyarakat nasional maupun internasional.
Menurutnya, jejak perjuangan Jenderal Sudirman merupakan kekayaan sejarah yang tidak hanya penting untuk dikenang, tetapi juga dapat menjadi sarana pembelajaran bagi generasi muda sekaligus memperkuat daya tarik wisata berbasis sejarah di Pacitan.
Kegiatan pendidikan dan latihan yang melibatkan ribuan taruna tersebut diharapkan tidak hanya memberikan pengalaman pembentukan karakter bagi peserta, tetapi juga turut memperkenalkan identitas dan kekayaan sejarah daerah.
Bupati berharap seluruh rangkaian Latihan RPS Diksar Integratif Taruna Akademi TNI dan Akademi Kepolisian Tahun Pendidikan 2026 dapat berjalan lancar, aman, dan sukses.
Menutup amanatnya, ia kembali menyampaikan pesan penuh kebanggaan kepada para taruna agar senantiasa menjaga kehormatan diri dan institusi, sekaligus menjadi kebanggaan keluarga.
“Selamat berjuang para taruna. Jadilah kebanggaan orang tua, jaga kehormatan institusi, dan terus tegakkan jiwa patriotisme,” pungkasnya.
Di tanah yang pernah merekam jejak perjuangan Panglima Besar Jenderal Sudirman itu, ribuan taruna kini bersiap melanjutkan perjalanan sejarah dengan semangat pengabdian yang sama: keteguhan, keberanian, disiplin, dan kesediaan berkorban demi bangsa dan negara.(Red/yun).
- Penulis: Yuniardi Sutondo





Saat ini belum ada komentar