Dari Kursi-Meja hingga Rak Bunga, Siswa SMKN 2 Kupang Belajar Berkarya Lewat OSOP dengan Semangat DDBSB
- account_circle Mario
- calendar_month 1 menit yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

NTT, Jarrakpos.com– Pembelajaran di SMK Negeri 2 Kupang tidak hanya berlangsung di dalam kelas. Di ruang praktik, tangan para siswa dilatih untuk mengubah pengetahuan dan keterampilan menjadi karya nyata yang dapat digunakan, bahkan memiliki nilai ekonomi.
Mulai dari membuat kursi dan meja, teralis, tangga, tower, kanopi hingga rak bunga, siswa didorong untuk menghasilkan produk melalui pembelajaran berbasis praktik dan proyek.
Menariknya, kreativitas itu juga diterapkan dalam memanfaatkan sisa material. Potongan besi dari proses pengerjaan yang masih dapat digunakan tidak serta-merta dibuang, tetapi dimanfaatkan menjadi bagian alas atau tatakan rak bunga.
Semangat tersebut menjadi bagian dari visi SMKN 2 Kupang untuk menjadi SMK unggul yang “Berkarya”.
Kepala SMKN 2 Kupang, Hebner Dakabesy, menjelaskan bahwa kata “Berkarya” memiliki makna Berkarakter, Relevan, Kompeten, Adaptif dan Berdampak.
Menurutnya, pembelajaran di SMK harus memiliki keterkaitan dengan dunia kerja dan kebutuhan nyata. Karena itu, siswa tidak hanya dibekali hard skill, tetapi juga soft skill, kemampuan beradaptasi serta pengalaman menghasilkan sesuatu yang dapat dimanfaatkan.
“Pembelajaran kita harus relevan dengan dunia kerja. Anak-anak harus punya soft skill, hard skill, kompeten dan adaptif terhadap industri,” kata Hebner ketika ditemui media pada Selasa, 22 September 2026.
SMKN 2 Kupang sendiri memiliki 11 program keahlian. Masing-masing didorong untuk menghasilkan karya maupun layanan sesuai kompetensi yang dimiliki.
Pada Program Keahlian Teknik Konstruksi dan Perumahan, misalnya, siswa diarahkan menghasilkan berbagai material maupun produk mebel. Sementara Program Keahlian Teknik Pengelasan dan Fabrikasi Logam menghasilkan berbagai produk berbahan logam, seperti teralis, tangga, tower, rak bunga, kursi dan meja.
Sementara Program Broadcasting dan Perfilman tidak hanya belajar secara teoritis, tetapi juga memberikan layanan seperti live streaming dan peliputan kegiatan pemerintah, swasta maupun masyarakat.
Ketua Program Keahlian Teknik Pengelasan dan Fabrikasi Logam SMKN 2 Kupang, Noch Hati, mengatakan proses menghasilkan sebuah produk dilakukan secara bertahap.
Sebelum membuat produk seperti meja dan kursi, siswa terlebih dahulu dilatih menguasai teknik dasar pengelasan, terutama membuat sambungan.
Dari proses tersebut, guru dapat melihat kemampuan masing-masing siswa sebelum mereka diarahkan ke tahap pengerjaan produk berikutnya.
“Kalau mau membuat kursi atau meja, kami harus melatih anak-anak membuat sambungan dulu. Dari situ kami lihat anak-anak mana yang bagus, baru lanjut ke proses berikutnya,” jelas Noch.
Pengerjaan produk dilakukan oleh siswa Teknik Pengelasan dan Fabrikasi Logam sesuai pembelajaran dan mata pelajaran pilihan yang mereka ikuti.
Menurut Noch, keterampilan siswa juga dapat terlihat dari kemampuan mereka memanfaatkan material yang tersisa.
Potongan dari proses pengerjaan maupun sisa hasil gerinda dapat dimanfaatkan untuk membuat bagian tertentu pada rak bunga, terutama sebagai alas atau tatakan.
“Limbah seperti ini kalau orang yang tidak kreatif pasti dibuang, tetapi di tangan orang yang kreatif akan mengolah menjadi sesuatu yang bermanfaat,” ujar Noch.
Pembelajaran berbasis produk tersebut kemudian diarahkan untuk mendukung program One School One Product (OSOP) yang dicanangkan Pemerintah Provinsi NTT.
Hebner mengatakan OSOP menjadi salah satu program strategis yang didukung melalui kegiatan pembelajaran di SMKN 2 Kupang.
Sekolah telah menyiapkan NTT Mart by OSOP sebagai ruang untuk menampilkan dan memasarkan berbagai produk yang dihasilkan siswa.
Dengan demikian, hasil pembelajaran tidak berhenti sebagai tugas praktik. Produk yang dibuat siswa memiliki peluang untuk dimanfaatkan dan diperkenalkan kepada masyarakat.
“Ilmu yang anak-anak dapat, keterampilan yang dia dapat, kemudian ada hasil yang bisa dimanfaatkan,” ujar Hebner.
Bagi Hebner, pola tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kewirausahaan kepada siswa sejak berada di bangku sekolah.
OSOP, kata dia, dapat menjadi semacam laboratorium kecil bagi siswa untuk belajar berwirausaha. Siswa tidak hanya terlibat ketika produk selesai dibuat, tetapi dapat dilibatkan sejak menentukan produk yang akan dihasilkan hingga proses produksinya.
“OSOP ini menjadi laboratorium mini pengembangan kewirausahaan. Anak-anak dilibatkan mulai dari perencanaan, produk apa yang mau mereka hasilkan, sampai produksinya,” jelasnya.
Hebner menekankan bahwa pembelajaran praktik di SMK membutuhkan biaya, terutama untuk penyediaan bahan dan material.
Karena itu, sekolah berupaya agar hasil praktik siswa tidak menjadi barang yang tidak terpakai. Produk yang dihasilkan sebisa mungkin memiliki manfaat, baik untuk kebutuhan sekolah maupun untuk dipasarkan.
Misalnya, produk berupa meja dan kursi yang dihasilkan dari program keahlian tertentu dapat dimanfaatkan untuk menunjang kebutuhan ruang belajar.
Dengan cara itu, pembelajaran memberikan manfaat ganda. Siswa mendapatkan pengalaman nyata dalam menghasilkan produk, sementara sekolah juga dapat memanfaatkan hasil karya tersebut.
“Kami dorong agar praktik anak-anak itu tidak menghasilkan sesuatu yang kemudian menjadi sampah. Karena bahan praktik itu membutuhkan biaya, maka hasilnya harus bisa berdampak bagi pengembangan sekolah,” katanya.
Lebih jauh, Hebner berharap semangat OSOP dapat berkembang dari One School One Product menjadi One Student One Product.
Artinya, setiap siswa nantinya tidak hanya memiliki kompetensi, tetapi juga memiliki pengalaman menghasilkan sebuah produk yang dapat dimanfaatkan atau dikembangkan menjadi peluang usaha.
Menurutnya, keterampilan yang diperoleh siswa selama berada di sekolah harus mampu menjadi bekal ketika mereka memasuki dunia kerja maupun ketika memilih menjadi wirausahawan.
“Harapan kami ke depan bukan hanya One School One Product, tetapi bisa menjadi One Student One Product,” ujarnya.
Seluruh proses tersebut kemudian dirangkum SMKN 2 Kupang dalam semangat DDBSB, yakni “Dari Dasar, Bersahaja, Berusaha Sampai Bermutu.”
Semangat itu menggambarkan proses pendidikan kejuruan yang dimulai dari kemampuan dasar, dilakukan secara sederhana dan bertahap, kemudian terus dikembangkan melalui usaha hingga menghasilkan karya yang bermutu.
Bagi SMKN 2 Kupang, karya siswa bukan sekadar hasil akhir dari sebuah praktik. Di balik sebuah kursi, meja, rak bunga atau produk lainnya, terdapat proses belajar tentang ketelitian, keterampilan, kreativitas, tanggung jawab dan keberanian untuk menghasilkan sesuatu.
Dari ruang praktik, siswa belajar bahwa keterampilan memiliki nilai ketika mampu menghasilkan karya yang bermanfaat.
Dan melalui OSOP, karya-karya tersebut diharapkan tidak berhenti di lingkungan sekolah, tetapi dapat diperkenalkan dan dimanfaatkan oleh masyarakat melalui NTT Mart by OSOP.
Semangatnya sederhana: berawal dari dasar, dikerjakan dengan bersahaja, terus berusaha, hingga menghasilkan karya yang bermutu.***
- Penulis: Mario




Saat ini belum ada komentar