Kerja Sama KUB Bank Jatim dan Bank NTT Jadi Tonggak Baru Penguatan Ekonomi Daerah
- account_circle Mario
- calendar_month Jumat, 7 Nov 2025
- comment 0 komentar
- print Cetak

NTT, Jarrakpos.com- Langkah kolaboratif antara Bank Jatim dan Bank NTT kini menjadi tonggak baru dalam sejarah perbankan daerah.
Melalui skema Kelompok Usaha Bank (KUB), kedua bank daerah ini resmi menjalin kerja sama strategis yang diyakini akan memperkuat ketahanan ekonomi, memperluas jangkauan layanan keuangan, serta membangun fondasi ekonomi yang lebih tangguh di kawasan timur Indonesia.
Kerja sama positif ini disampaikan secara khusus dalam kegiatan Misi Dagang dan Investasi antara Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Nusa Tenggara Timur (NTT) di Aston Kupang Hotel & Convention Center, Kamis (6/11/2025).
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa menegaskan bahwa kemitraan antara Bank Jatim dan Bank NTT bukan sekadar kerja sama administratif, melainkan wujud nyata sinergi kelembagaan antarbank pembangunan daerah (BPD) yang telah melalui pengawasan dan regulasi ketat dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
“Regulasi dari OJK itu tidak gampang. Ketika semua syarat terpenuhi, baru bisa dilakukan penandatanganan Kelompok Usaha Bank. Jadi ini bukan merger, bukan subordinasi, ini sinergi dalam satu kelompok usaha,” ujar Khofifah.
Ia menjelaskan, langkah ini merupakan bagian dari komitmen besar Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam memperkuat ekosistem ekonomi regional melalui kolaborasi antarbank daerah.
Menurutnya, kerja sama KUB bukan hanya memperluas jaringan bisnis, tetapi juga meningkatkan kapasitas pembiayaan pembangunan dan mendorong pemerataan ekonomi.
“Kerja sama seperti ini menjadi bukti bahwa antarbank daerah bisa saling memperkuat. Dengan KUB, daya saing meningkat tanpa kehilangan identitas lokal,” tegasnya.
Khofifah menyebut, sebelum dengan Bank NTT, Bank Jatim telah menandatangani kerja sama serupa dengan Bank Lampung dan Bank NTB. Dalam waktu dekat, kolaborasi serupa juga akan dilakukan dengan Bank Sultra dan Bank Banten.
Menurut Gubernur Khofifah, sinergi antara Bank Jatim dan Bank NTT menjadi bagian dari strategi besar untuk membangun jaringan keuangan yang inklusif dan memperkuat daya tahan ekonomi antarwilayah.
Langkah ini juga menjadi bentuk dukungan terhadap visi pemerintah memperkuat peran BPD dalam mendukung pembiayaan pembangunan, terutama di sektor UMKM, pertanian, dan industri kreatif.
“Kekuatan ekonomi Jawa Timur dan NTT ini besar sekali. Jika kita telaten mengenali produk unggulan masing-masing, pasti bisa membangun industri kreatif, perdagangan, dan ekonomi rakyat yang lebih kuat,” ujar Khofifah.
Diketahui, Misi Dagang dan Investasi Jatim – NTT kali ini mencatatkan nilai transaksi sebesar Rp1,8 triliun, angka tertinggi dari 46 kali misi dagang yang pernah dilakukan Pemerintah Provinsi Jawa Timur di berbagai provinsi di Indonesia.
Khofifah menegaskan, capaian ini menunjukkan besarnya potensi sinergi ekonomi lintas wilayah ketika pemerintah, dunia usaha, dan lembaga keuangan bergerak bersama.
“Misi dagang ini diniatkan agar kita tumbuh bersama, maju bersama, dan makmur bersama,” imbuhnya.
Sementara itu, Wakil Gubernur NTT, Johni Asadoma menilai bahwa misi dagang dan investasi ini menjadi langkah konkret dalam memperkuat rantai pasok antarprovinsi dan mengurangi kesenjangan ekonomi antarwilayah.
“Misi Dagang ini bertujuan meningkatkan volume perdagangan, memperluas jaringan pasar, mempercepat perputaran modal, dan menjaga stabilitas pasokan,” ujarnya.
Johni menjelaskan, arus komoditas antara Jawa Timur dan NTT kini saling menopang. Dari NTT, berbagai komoditas unggulan seperti kemiri, kelapa bulat, kopra, porang, jagung biji, mete, rumput laut kering, telur tetas, dan cakalang dikirim ke Jawa Timur. Sementara itu, Jawa Timur menyuplai pakan ternak, dedak gandum, polar, beras, daging ayam beku, dan telur ayam untuk mendukung ketahanan pangan di NTT.
“Perdagangan ini membuka akses pasar bagi petani dan nelayan NTT sekaligus mengintegrasikan produk daerah ke rantai industri nasional,” jelas Johni.
Ia menekankan bahwa hubungan ekonomi semacam ini tidak boleh bersifat kompetitif, melainkan kolaboratif.
“Kita tidak bersaing, tetapi saling membutuhkan. Sinergi ini harus menjadi model ekonomi daerah yang saling menopang,” tambahnya.
Kerja sama Bank Jatim dan Bank NTT dalam skema KUB diharapkan menjadi model kolaborasi perbankan daerah di Indonesia.
Selain memperkuat struktur keuangan antarprovinsi, sinergi ini membuka peluang untuk peningkatan pembiayaan produktif, digitalisasi layanan keuangan, serta akses modal yang lebih luas bagi pelaku usaha kecil dan menengah.
“Potensi ekonomi dan kekuatan fiskal di kedua wilayah ini diharapkan dapat memberikan penguatan signifikan, terutama di sektor UMKM,” tutur Khofifah.***
- Penulis: Mario




Saat ini belum ada komentar