TKW Asal Bandung Barat Diduga Disekap di Dubai Usai Kabur Dari Majikan, Berangkat Tanpa Jalur Resmi
- account_circle Derry Rachman
- calendar_month 3 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

JARRAKPOS.COM – Nasib Sri Nurhaida Pratiwi, tenaga kerja wanita (TKW) asal Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, mengundang keprihatinan. Sri diduga menjadi korban penyekapan di Dubai, Uni Emirat Arab (UEA), setelah kabur dari rumah majikannya yang baru ditempati selama tiga hari.
Keluarga kini diliputi kecemasan karena belum mendapatkan kabar terbaru mengenai keberadaan dan keselamatan Sri sejak komunikasi terakhir pada akhir September 2026. Mereka mendesak pemerintah turun tangan untuk menelusuri keberadaan Sri sekaligus memastikan dirinya mendapat perlindungan.
Laporan dugaan penyekapan tersebut telah disampaikan kepada Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Bandung Barat. Keluarga juga telah berkomunikasi dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Dubai untuk meminta bantuan.
Kepala Desa Cililin, Tedy Kusniadi, membenarkan bahwa Sri merupakan warganya yang tinggal di Kampung Sukatani, RT 03/RW 05, Desa Cililin.
Menurut Tedy, keluarga Sri telah berupaya menempuh berbagai jalur untuk mendapatkan pertolongan dan mengupayakan kepulangan korban ke Indonesia.
“Pihak keluarga sudah menyampaikan kronologinya. Mereka juga telah membuat laporan ke Disnaker Bandung Barat dan berkomunikasi dengan KBRI di Dubai,” kata Tedy saat dikonfirmasi, Senin (12/10/2026).
Kabur dari Majikan, Berujung Dugaan Penyekapan
Tedy menjelaskan, berdasarkan keterangan keluarga, peristiwa tersebut bermula ketika Sri memutuskan kabur dari rumah majikannya di Dubai. Keputusan itu diduga dipicu perlakuan majikan yang dinilai keras, padahal Sri baru tiga hari bekerja di tempat tersebut.
Namun, pelarian itu justru diduga membawanya ke situasi yang lebih mengkhawatirkan. Dalam perjalanan, Sri disebut bertemu dengan seseorang asal Cianjur yang kini diduga berkaitan dengan kasus tersebut.
Berdasarkan informasi yang diterima Tedy dari keluarga, ponsel milik Sri kemudian diambil oleh orang tersebut. Kondisi ini semakin menyulitkan keluarga untuk berkomunikasi dan mengetahui keadaan Sri secara langsung.
“Pas kabur, korban kemudian bertemu dengan orang asal Cianjur ini. HP sudah diambil sama orang tersebut,” ungkap Tedy.
Ia menduga orang tersebut berperan sebagai muncikari atau agen penyalur tenaga kerja ilegal. Meski demikian, dugaan keterlibatan maupun peran orang tersebut masih perlu ditelusuri dan dibuktikan oleh pihak berwenang.
Pesan Terakhir Picu Kekhawatiran
Kecemasan keluarga semakin meningkat setelah beredar tangkapan layar percakapan antara Sri dan keluarganya di media sosial. Dalam percakapan tersebut, Sri disebut sempat mengancam akan mengakhiri hidupnya apabila dirinya diperjualbelikan.
Pesan tersebut menambah kekhawatiran keluarga terhadap kemungkinan Sri mengalami tekanan atau berada dalam situasi yang membahayakan keselamatannya.
Tedy juga menyebut keluarga merasakan perubahan gaya bahasa Sri dalam komunikasi terakhir mereka. Perubahan itu memunculkan dugaan bahwa Sri mungkin sedang berada dalam tekanan atau tidak leluasa berkomunikasi.
Meski demikian, kondisi tersebut belum dapat dipastikan tanpa pemeriksaan dan konfirmasi langsung terhadap Sri.
“Terakhir kontak akhir bulan September,” jelas Tedy.
Terputusnya komunikasi selama beberapa waktu membuat keluarga semakin mendesak adanya tindakan konkret untuk menemukan Sri, memastikan keselamatannya, serta menyelidiki dugaan tindak pidana yang mungkin terjadi.
Selain melapor ke Disnaker KBB dan berkomunikasi dengan KBRI di Dubai, keluarga Sri juga berupaya meminta bantuan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dan Bupati Bandung Barat Jeje Ritchie Ismail.
Keluarga berharap pemerintah daerah dapat mengoordinasikan penanganan kasus tersebut dengan instansi terkait, termasuk perwakilan pemerintah Indonesia di Uni Emirat Arab.
Langkah itu dinilai penting agar keberadaan Sri segera diketahui, dugaan pelanggaran yang dialaminya dapat diusut, dan proses pemulangan ke Tanah Air bisa diupayakan apabila situasi memungkinkan.
“Sudah melaporkan ke Disnaker, berupaya untuk ke KDM (Dedi Mulyadi), sudah lapor ke Bupati (Kabupaten Bandung Barat) juga,” pungkas Tedy.
Hingga Senin (12/10/2026), berdasarkan keterangan yang disampaikan Tedy, keluarga masih menantikan kepastian mengenai keberadaan dan keselamatan Sri. Belum ada informasi terkonfirmasi yang memastikan kondisi terkini korban.
Kasus ini membutuhkan penelusuran serius dari pihak berwenang, baik di Indonesia maupun di Uni Emirat Arab. Selain memastikan keselamatan Sri, penanganan juga diperlukan untuk mengungkap dugaan penyekapan, menelusuri pihak-pihak yang diduga terlibat, serta memastikan korban memperoleh perlindungan yang semestinya.
Keluarga kini hanya berharap satu hal: Sri segera ditemukan dalam keadaan selamat dan dapat kembali berkumpul bersama keluarga di kampung halaman.***
- Penulis: Derry Rachman




Saat ini belum ada komentar