Prayitno Hadiri Manaqib Kubro dan Haul Masyayikh Pacitan, Perkuat Sinergi Ulama-Umara untuk Pacitan yang Berkah
- account_circle Yuniardi Sutondo
- calendar_month 0 menit yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

Staf Ahli Bupati Pacitan Bidang Pembangunan, Ekonomi dan Keuangan, Prayitno.
Pacitan,JarrakPos.com-Merawat tradisi, meneguhkan spiritualitas, dan merajut persatuan umat. Semangat inilah yang mengemuka dalam kegiatan Manaqib Kubro Sulthonal Anbiya’ Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani dan Haul Masyayikh Pacitan yang digelar Idarah Syu’biyyah Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah (JATMAN) Kabupaten Pacitan di Pondok Pesantren Nahdlatussubban, Jumat (9/10).
Hadir mewakili Bupati Pacitan, Staf Ahli Bupati Bidang Pembangunan, Ekonomi dan Keuangan, Prayitno, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan yang tidak hanya menjadi bagian dari tradisi keagamaan, tetapi juga memiliki makna mendalam dalam memperkuat keimanan, menumbuhkan kecintaan kepada ulama dan auliya, serta merawat nilai-nilai luhur warisan para masyayikh.
Dalam sambutannya, Prayitno menegaskan bahwa manaqib dan haul bukan sekadar ritual seremonial. Lebih dari itu, keduanya menjadi ruang refleksi untuk mengenang perjuangan para ulama sekaligus meneladani akhlak, kebijaksanaan, dan pengabdian mereka dalam kehidupan bermasyarakat.
Nilai-nilai keteladanan tersebut, menurutnya, perlu terus dihidupkan agar tidak berhenti sebagai kisah masa lalu, melainkan menjadi pedoman dalam membangun kehidupan yang religius, harmonis, dan penuh kepedulian.
“Merawat tradisi berarti menjaga mata rantai keteladanan. Dari para ulama, kita belajar tentang keikhlasan, akhlak mulia, dan pengabdian yang manfaatnya dirasakan umat,”ujarnya.
Memperkuat Ukhuwah, Merajut Sinergi Ulama dan Umara
Lebih jauh, Prayitno mengajak seluruh jamaah menjadikan momentum Manaqib Kubro dan Haul Masyayikh Pacitan sebagai sarana mempererat ukhuwah Islamiyah, menjaga kerukunan, serta memperkokoh persatuan di tengah masyarakat.
Ia juga menekankan pentingnya sinergi antara ulama, umara, dan masyarakat sebagai fondasi dalam mewujudkan Kabupaten Pacitan yang religius, aman, harmonis, dan sejahtera.
Kolaborasi tersebut dinilai penting karena pembangunan daerah tidak hanya bertumpu pada aspek fisik dan ekonomi, tetapi juga membutuhkan kekuatan moral, spiritualitas, serta kehidupan sosial yang rukun dan saling menguatkan.
Ulama memiliki peran strategis dalam membimbing umat dan menjaga nilai-nilai moral, sementara pemerintah bertanggung jawab menghadirkan kebijakan dan pelayanan yang berpihak pada kesejahteraan masyarakat. Ketika keduanya berjalan beriringan bersama partisipasi masyarakat, cita-cita membangun Pacitan yang lebih baik akan semakin kokoh.
Pesantren dan JATMAN, Penjaga Tradisi dan Akhlakul Karimah
Pemerintah Kabupaten Pacitan turut mengapresiasi kontribusi JATMAN dan pondok pesantren dalam menjaga tradisi keagamaan Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyyah, membina kehidupan umat, serta menanamkan nilai-nilai spiritual dan akhlakul karimah.
Di tengah dinamika kehidupan modern, pesantren dan para ulama tetap memiliki posisi penting dalam membentuk karakter masyarakat, memperkuat moderasi beragama, serta menanamkan semangat persaudaraan dan kepedulian sosial.
Kegiatan manaqib dan haul pun menjadi pengingat bahwa kemajuan daerah idealnya berjalan seiring dengan penguatan iman, keluhuran budi pekerti, dan terpeliharanya harmoni sosial.
Bukan semata mengenang jasa para pendahulu, melainkan melanjutkan perjuangan mereka melalui tindakan nyata: menjaga persatuan, merawat kerukunan, dan menghadirkan manfaat bagi sesama.
Mengetuk Keberkahan untuk Pacitan
Menutup rangkaian pesan dalam kegiatan tersebut, harapan dan doa dipanjatkan agar seluruh jamaah senantiasa memperoleh keberkahan, semakin teguh dalam mencintai Allah SWT dan Rasulullah SAW, serta mendapatkan limpahan rahmat-Nya.
Doa juga mengiringi harapan agar Kabupaten Pacitan senantiasa dianugerahi keamanan, kedamaian, kemakmuran, dan keberkahan dalam setiap langkah pembangunan.
Semangat pengabdian itu terangkum dalam filosofi Jawa, “Sepi ing pamrih, rame ing gawe”—bekerja dengan tulus tanpa mengedepankan kepentingan pribadi, serta terus menghadirkan karya dan manfaat bagi masyarakat.
Dengan semangat kebersamaan antara ulama, umara, dan seluruh elemen masyarakat, Pacitan diharapkan terus tumbuh menjadi daerah yang tidak hanya maju dalam pembangunan, tetapi juga kuat dalam nilai-nilai keagamaan, kokoh dalam persatuan, dan sejahtera dalam kehidupan.
Sebab, pembangunan yang berakar pada spiritualitas, persaudaraan, dan ketulusan pengabdian akan menjadi fondasi penting bagi terwujudnya Pacitan yang religius, rukun, dan sejahtera bahagia.(Red/yun).
- Penulis: Yuniardi Sutondo




Saat ini belum ada komentar