HPMI 2025 di Desa Silu: Menanam 1.800 Bibit, Kolaborasi 35 Tahun untuk Masa Depan Hijau NTT
- account_circle Mario
- calendar_month Rabu, 26 Nov 2025
- comment 0 komentar
- print Cetak

NTT, Jarrakpos.com- Suasana Nusa Tenggara Timur hari ini terasa lebih hidup dan penuh harapan. Pada Selasa, 25 November 2035 ratusan tangan bergerak menanam, merawat, dan meneguhkan komitmen baru terhadap bumi, tepat pada peringatan Hari Menanam Pohon Indonesia (HPMI) 2025 yang dibarengi dengan Launching Agroforestry Pangan Perhutanan Sosial (FAPE-PS) di seluruh wilayah NTT.
Sebanyak 1.800 bibit, terdiri dari jambu mete dan kemiri ditanam sebagai simbol awal perjalanan panjang pemulihan ekologi dan penguatan ekonomi desa.
Mewakili Gubernur NTT Melki Laka Lena, Kepala Dinas LHK Provinsi NTT, Ondy Christian Siagian, menyampaikan sambutan pembuka dengan penuh syukur.
Namun perayaan ini tidak berdiri di ruang hampa. NTT sedang menghadapi tantangan besar: 577.638,90 hektare lahan kritis, atau 12% dari luas provinsi, baik di dalam kawasan hutan maupun di luar kawasan hutan.
Lahan kritis tersebut muncul karena tekanan pemanfaatan yang tidak berkelanjutan: tebas bakar, penggembalaan bebas, dan pembukaan lahan tanpa memperhatikan keseimbangan lingkungan.
“Dampaknya tidak kecil: tutupan vegetasi berkurang, hidrologi melemah, risiko banjir, longsor, dan kekeringan meningkat,” tegas Ondy. “NTT perlu kerja bersama agar selamat dari bencana ekologis.”
Selaras dengan Asta Cita Presiden: Pembangunan Hijau dari Desa
Rehabilitasi hutan dan lahan menjadi kunci mengurangi lahan kritis. Upaya ini sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto yang menekankan kemandirian pangan, energi, dan air; ekonomi hijau; serta pembangunan dari desa.
Penanaman pohon, khususnya yang produktif dan berbasis agroforestri, diyakini mampu menjadi penopang ekonomi desa sekaligus memperkuat ketahanan masyarakat terhadap perubahan iklim. Ini juga menjadi bagian dari target nasional menuju FOLU Net Sink 2030, sebuah komitmen menjadikan sektor kehutanan sebagai penyerap emisi karbon bersih.
“Menanam Itu Mudah. Merawat Itu Ibadah Lingkungan.”
Dalam sambutannya, Ondy menekankan bahwa penanaman hari ini bukan seremoni semata.
“Bibit yang kita tanam harus dirawat, dijaga, dan dibesarkan. Pohon-pohon ini adalah penyangga kehidupan, pelindung dari bencana, penyedia air, dan warisan untuk generasi mendatang,” ungkapnya.
Dengan memohon berkat Tuhan, Ondy secara resmi membuka penanaman pohon serentak HPMI 2025 di seluruh NTT.
Perhutanan Sosial: Izin 35 Tahun yang Membuka Ruang Harapan
Kepala Balai Perhutanan Sosial Kupang, Erwin, menjelaskan bahwa masyarakat kini diberikan izin mengelola lahan hingga 35 tahun melalui kelompok tani hutan yang dibentuk oleh desa.
“Kami memfasilitasi pemberdayaan pangan dan energi untuk menjawab Dasa Cita Presiden. Tujuannya jelas: meningkatkan produktivitas lahan, menjaga ketahanan pangan, dan tetap melestarikan hutan,” kata Erwin.
Ia berharap momentum HPMI menjadi pengingat bahwa lahan produktif dan hutan lestari harus berjalan seimbang.
BPDAS Benain Noelmina: Kolaborasi adalah Kekuatan Ekologi Bangsa
Kepala BPDAS Benain Noelmina, Kludolfus Tuames, menyampaikan pesan kuat tentang kolaborasi.
“Bumi ini hanya satu. Kelebihan kami melengkapi kekurangan kelompok tani, dan kelebihan mereka dilengkapi pemerintah desa serta kabupaten. Semua harus disinergikan,” ujarnya.
Bibit yang ditanam hari ini merupakan hasil produksi persemaian permanen BPDAS Noelmina dan dibagikan secara gratis.
Program ini terintegrasi bersama Balai Perhutanan Sosial Kupang serta didukung pendampingan teknis dari KPH Kupang, Kabupaten Kupang, dan Sabu Raijua.
Selain bibit, diserahkan pula alat-alat produktif untuk mendorong proses bisnis jangka panjang masyarakat desa.
“Ekonomi itu penting, tapi ekologi adalah pemangku kehidupan. Keduanya harus berjalan seimbang,” tegas Kludolfus.
Kegiatan ini menanam: 1.000 bibit jambu mete dan 800 bibit kemiri
Jenis ini dipilih karena bernilai ekonomi tinggi, tahan iklim kering, dan memiliki fungsi ekologis yang kuat.
Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan SDM Kabupaten Kupang, Kain Maus, menyampaikan apresiasinya atas pelaksanaan HPMI di Desa Silu.
Ia menegaskan bahwa Kabupaten Kupang memiliki banyak wilayah yang rentan, sehingga pendampingan kepada kelompok tani menjadi sangat penting.
“Dengan pendampingan yang terus-menerus, para petani akan semakin sadar dan melanjutkan penanaman, bukan hanya seremoni sehari. Kami akan memperkuat koordinasi melalui dinas terkait. Kami bangga karena dari seluruh kabupaten/kota di NTT, Kabupaten Kupang terpilih sebagai lokasi penanaman pada momen ini,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Desa Silu, Mikhael Takel, menekankan bahwa wilayahnya merupakan kawasan pah Atoni Meto yang identik dengan lahan kering dan lahan kritis.
“Masyarakat di sini hidup dan beraktivitas di wilayah yang memang membutuhkan penghijauan. Karena itu, kami sangat bangga dan berterima kasih kepada kementerian serta dinas terkait yang telah mendorong gerakan ini. Ini memotivasi petani untuk menghijaukan kembali desa kami,” katanya.
Ia juga berkomitmen akan makin memperkuat gerakan kelompok tani hutan di desanya.
Penanaman pohon di Desa Silu turut dihadiri tokoh adat dan tokoh masyarakat setempat, menambah kuatnya dukungan komunitas dalam gerakan penghijauan ini.
HPMI 2025 dan launching FAPE-PS menjadi simbol bahwa NTT bukan hanya memulihkan alam, tetapi juga menanam harapan baru untuk kesejahteraan desa dan ketahanan ekologis.***
- Penulis: Mario




Saat ini belum ada komentar