BMKG Prediksi Fenomena El Nino Berpotensi Muncul di Indonesia
- account_circle Feri Taufiandi
- calendar_month Senin, 16 Mar 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

MAGELANG,JARRAKPOS.COM – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi fenomena El Nino berpotensi muncul di Indonesia pada pertengahan hingga akhir tahun 2026. Fenomena ini diperkirakan akan membuat kondisi cuaca menjadi lebih panas dan kering di berbagai wilayah.
BMKG menjelaskan, potensi kemunculan El Nino terjadi setelah berakhirnya fenomena La Niña lemah pada Februari 2026. Saat ini kondisi iklim global berada pada fase netral dengan indeks El Niño–Southern Oscillation (ENSO) sekitar -0,28. Senin,(16/3/2026)
Kondisi netral tersebut diperkirakan akan bertahan hingga Juni 2026 sebelum kemungkinan berkembang menuju fase El Nino.
Selain itu, BMKG juga memprediksi musim kemarau tahun 2026 akan datang lebih cepat dibandingkan rata-rata klimatologinya di banyak wilayah Indonesia.
Sekitar 114 Zona Musim atau sekitar 16,3 persen wilayah diperkirakan mulai memasuki musim kemarau pada April 2026. Wilayah tersebut meliputi pesisir utara Jawa bagian barat, sebagian besar wilayah di Jawa Tengah hingga Jawa Timur, serta beberapa daerah di Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan sebagian wilayah Kalimantan serta Sulawesi.
Memasuki Mei hingga Juni 2026, jumlah wilayah yang mengalami musim kemarau diperkirakan akan terus bertambah hingga mencakup hampir separuh wilayah Indonesia.
Sementara itu, puncak musim kemarau diproyeksikan terjadi pada Agustus 2026 dan berpotensi melanda sekitar 61,4 persen wilayah Indonesia.
Kondisi kering diperkirakan akan mendominasi wilayah Sumatra bagian tengah dan selatan, wilayah Jawa Tengah hingga Jawa Timur, sebagian besar Kalimantan dan Sulawesi, serta seluruh Bali dan wilayah Nusa Tenggara.
BMKG mengingatkan pemerintah daerah dan masyarakat untuk melakukan langkah antisipasi sejak dini, terutama di sektor pangan dan sumber daya air.
Upaya yang dapat dilakukan antara lain menyesuaikan pola tanam, memilih varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kekeringan, serta memperkuat pengelolaan cadangan air guna menghadapi potensi musim kemarau yang lebih kering tahun ini.
Editor: Feri
Sumber: BMKG
- Penulis: Feri Taufiandi




Saat ini belum ada komentar