HAMI Apresiasi TNI AD Hidupkan 424 Hektar Sawah Sukabumi: Negara Hadir Mengalirkan Harapan
- account_circle admin
- calendar_month Sabtu, 25 Okt 2025
- comment 0 komentar
- print Cetak

JARRAKPOS —Himpunan Aktivis Milenial Indonesia (HAMI) mengapresiasi langkah nyata TNI Angkatan Darat yang berhasil menghidupkan kembali 424 hektar sawah warga di Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Melalui program TNI Manunggal Air, prajurit TNI AD membangun jaringan pipanisasi sepanjang lebih dari 11 kilometer dan mengaktifkan pompa hidram yang membawa air ke lahan pertanian yang sebelumnya terbengkalai akibat kekeringan.
Program ini digagas langsung oleh Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak sebagai bagian dari komitmen memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus menghadirkan solusi konkret atas persoalan rakyat di tingkat akar rumput.
Koordinator Nasional HAMI, Asip Irama, menyebut program tersebut sebagai bentuk keberpihakan negara yang otentik dan membumi. Menurutnya, kehadiran TNI dalam proyek pengairan ini bukan sekadar tugas sosial, tetapi bagian dari amanat konstitusional: melindungi segenap tumpah darah Indonesia—termasuk para petani dan lahan-lahan penghidupan mereka.
“Ketika air mengalir ke sawah petani, sesungguhnya yang sedang dibangun adalah harapan. Negara hadir bukan dengan janji, tapi dengan kerja. Bukan sekadar wacana, tetapi tindakan yang menyentuh tanah dan kehidupan rakyat,” kata Asip dalam keterangan tertulisnya, Rabu (24/7).
Ia menyatakan bahwa inisiatif TNI AD ini menjadi contoh nyata bagaimana kekuatan negara digunakan bukan untuk menakutkan, tapi untuk memberdayakan. Dari desa-desa yang terlupakan, negara menunjukkan bahwa keberpihakan tidak harus diumumkan dengan slogan, cukup ditunjukkan lewat aliran air yang kembali memberi kehidupan.
“Ini bukan sekadar soal pertanian. Ini tentang martabat. Tentang seorang petani yang bisa kembali menanam, tentang seorang anak yang melihat ayahnya tersenyum saat panen tiba, dan tentang sebuah bangsa yang tidak membiarkan rakyatnya berjuang sendirian menghadapi kekeringan,” ujar Asip.
Ia menilai, apa yang dilakukan TNI AD menjadi jawaban atas pertanyaan mendasar rakyat: di mana negara saat kami kesulitan? Dan TNI menjawabnya bukan dengan kata-kata, tapi dengan kerja lapangan yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat.
Menurut Asip, ketahanan pangan bukanlah jargon teknokratis belaka. Ia berakar pada keseharian rakyat yang sangat konkret: akses air, pupuk, dan pasar. Dalam konteks itu, hadirnya TNI bukan hanya menutup celah kelemahan infrastruktur, tapi juga membuka jalan baru bagi kolaborasi lintas sektor antara militer, masyarakat, dan pemerintah daerah.
“Program ini menunjukkan bahwa pertahanan negara tak hanya soal senjata. Ketahanan sejati juga dibangun lewat sawah yang subur, air yang mengalir, dan petani yang berdaya. Itulah wajah baru pertahanan semesta,” katanya.
HAMI mendorong agar program TNI Manunggal Air diperluas ke wilayah-wilayah lain yang mengalami tantangan serupa. Masih banyak daerah di Indonesia yang lahan pertaniannya mati suri karena kekeringan dan minimnya dukungan infrastruktur. Jika pendekatan yang sama diterapkan, bukan mustahil Indonesia dapat memperkuat kedaulatan pangannya dari desa.
Asip juga mengingatkan pentingnya keberlanjutan dari program ini. Menurutnya, keberhasilan teknis harus diikuti dengan keberlanjutan sosial dan ekonomi. Petani perlu didampingi, diberi akses pasar, dan dilibatkan secara aktif dalam pengelolaan sumber air.
“Tugas negara bukan hanya menghadirkan air, tapi memastikan air itu terus mengalir dan memberi manfaat jangka panjang. Dan dalam hal ini, peran TNI sebagai pemantik sangat krusial,” pungkasnya.
Sejak diluncurkan awal 2024, program TNI Manunggal Air telah menjangkau puluhan titik rawan kekeringan di berbagai provinsi. Inisiatif ini menjadi salah satu program unggulan TNI AD dalam menjawab tantangan ketahanan pangan nasional sekaligus memperkuat sinergi antara pertahanan dan pembangunan.
- Penulis: admin




Saat ini belum ada komentar