Festival Kopi Pacitan 2026, Meracik Cita Rasa Lokal dan Merajut Sinergi untuk Perluas Pasar
- account_circle Yuniardi Sutondo
- calendar_month 5 menit yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

Kepala Dinas Koperasi Usaha Mikro dan Perindustrian Pacitan, M. Ali Mustofa.
Pacitan,JarrakPos.com-Upaya memperkuat potensi kopi lokal sebagai komoditas unggulan daerah terus didorong Pemerintah Kabupaten Pacitan. Melalui Festival Kopi Pacitan 2026, para petani, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), barista, pemilik kedai kopi, komunitas, serta berbagai pemangku kepentingan dipertemukan dalam satu ruang kolaborasi untuk membangun ekosistem bisnis kopi yang berkelanjutan, dari hulu hingga hilir.
Mengusung tema “Meracik Kopi, Merajut Sinergi”, festival yang digelar selama dua hari, 8–9 Oktober 2026, di PLUT KUMKM Pacitan tersebut menjadi momentum untuk memperkenalkan kekayaan cita rasa kopi Pacitan sekaligus memperluas jejaring usaha dan akses pemasaran produk lokal.
Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro dan Perindustrian Kabupaten Pacitan, Muhammad Ali Mustofa, menyampaikan bahwa pengembangan kopi lokal membutuhkan kerja sama lintas sektor. Potensi kopi Pacitan, menurutnya, perlu didukung dengan peningkatan kualitas dan kuantitas produksi, penguatan identitas produk, serta perluasan pasar agar mampu memberikan nilai tambah bagi petani dan pelaku usaha.
“Festival ini pun tidak sekadar menjadi ajang perayaan kopi, tetapi juga ruang pertemuan antara produsen, pengolah, pelaku UMKM, konsumen, pemerintah, perguruan tinggi, dan mitra usaha untuk menyatukan langkah dalam memajukan kopi daerah,” katanya, Jumat (9/10) .
Beragam Kegiatan, Menguatkan Ekosistem Kopi Pacitan
Semarak Festival Kopi Pacitan 2026 diwarnai berbagai kegiatan yang memadukan kompetisi, promosi produk, edukasi, hiburan, dan diskusi pengembangan usaha.
Salah satu agenda yang menarik perhatian ialah Pacitan Fun Brewing Competition, kompetisi meracik kopi menggunakan metode V60 yang diikuti 48 peserta. Sebanyak 12 peserta di antaranya berasal dari luar daerah. “Kompetisi ini menjadi ruang bagi para peracik kopi untuk mengasah keterampilan, kreativitas, sekaligus memperluas pengalaman dalam menyajikan kopi berkualitas,” jelasnya.
Kreativitas generasi muda turut mendapat panggung melalui Acousteen Competition, yang diikuti 13 grup musik dari kalangan pelajar SMP dan SMA. Kehadiran kompetisi tersebut menambah warna festival dengan memadukan budaya kopi dan ekspresi seni anak muda.
Di sisi lain, bazar UMKM menghadirkan sembilan stan yang terdiri atas dua stan gabungan kelompok tani (gapoktan) kopi yang menampilkan komoditas biji kopi, dua stan UMKM pengolah kopi yang memperkenalkan proses pengolahan dan produk kopi kemasan, serta lima stan kedai kopi lokal.
Bazar tersebut menjadi sarana promosi sekaligus kesempatan bagi masyarakat untuk mengenal lebih dekat perjalanan kopi Pacitan, mulai dari komoditas hasil pertanian hingga produk siap dinikmati.
Antusiasme juga terlihat dalam Brew Battle antarkepala organisasi perangkat daerah (OPD) dan pimpinan lembaga jasa keuangan (LJK). Sebanyak 38 peserta, termasuk pejabat eselon II dan para camat, ambil bagian dalam kompetisi menyajikan kopi tersebut. Sekretaris Daerah Kabupaten Pacitan turut berpartisipasi sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan kopi lokal.
Suasana festival semakin semarak melalui kegiatan seduh gratis 1.000 cangkir kopi Pacitan, penampilan musik, serta kehadiran Larka Rahadi Riyanto, penggiat kopi sekaligus kreator konten, yang berbagi inspirasi mengenai pengembangan dan promosi kopi.
Sementara itu, forum Rembug Kopi Pacitan mengangkat tema “Menyatukan Rasa, Meracik Masa Depan Kopi Pacitan”. Forum ini menjadi ruang bertukar gagasan untuk merumuskan langkah bersama dalam memperkuat daya saing kopi lokal dan membangun kemitraan yang saling menguntungkan.
Etalase Kopi Pacitan, Jembatan antara Petani dan Pasar
Salah satu langkah strategis yang diperkenalkan dalam rangkaian festival ialah pembukaan Etalase Kopi Pacitan di PLUT KUMKM Pacitan. Inisiatif tersebut hadir untuk menjawab kebutuhan akan ruang terpadu yang menyediakan beragam produk kopi lokal sekaligus menjadi sarana edukasi, promosi, dan pemasaran.
Melalui etalase ini, masyarakat dapat mengenal dan memperoleh berbagai produk kopi Pacitan, mulai dari biji kopi mentah (green bean), biji kopi sangrai (roasted bean), hingga kopi dalam kemasan.
Lebih dari sekadar tempat memajang produk, Etalase Kopi Pacitan dirancang sebagai penghubung antara pembeli dari kalangan industri dengan petani dan UMKM pengolah kopi. Dengan demikian, peluang kemitraan dan perluasan pasar diharapkan semakin terbuka, sementara pelaku usaha lokal memperoleh ruang yang lebih kuat untuk memperkenalkan produknya.
Kehadiran etalase tersebut sekaligus mempertegas peran PLUT KUMKM Pacitan sebagai pusat layanan pendampingan dan pengembangan UMKM, tidak hanya dalam peningkatan kapasitas usaha, tetapi juga dalam mempertemukan produk lokal dengan pasar yang lebih luas.
Membangun Komitmen, Menumbuhkan Kebanggaan terhadap Kopi Lokal
Festival Kopi Pacitan 2026 juga diarahkan untuk menumbuhkan kebanggaan masyarakat terhadap produk daerahnya sendiri. Penguatan identitas dan pencitraan merek kopi Pacitan dinilai penting agar produk lokal semakin dikenal, memiliki daya saing, serta mampu menjangkau konsumen di luar daerah.
Komitmen tersebut akan diperkuat melalui penandatanganan kesepakatan bersama penggunaan dan promosi kopi lokal Pacitan, yang diawali setelah arahan Bupati Pacitan. Langkah ini diharapkan mendorong pemanfaatan kopi lokal di lingkungan instansi pemerintahan, perkantoran, kedai kopi, tempat usaha, hingga berbagai kegiatan masyarakat.
Dukungan nyata dari seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci agar gerakan mencintai kopi lokal tidak berhenti pada momentum festival. Konsistensi dalam menggunakan, mengenalkan, dan mempromosikan produk daerah diharapkan mampu menciptakan permintaan pasar yang berkelanjutan.
Pada akhirnya, Festival Kopi Pacitan 2026 membawa pesan bahwa kemajuan kopi daerah tidak hanya ditentukan oleh kualitas biji dan keterampilan meracik, tetapi juga oleh kuatnya kolaborasi, kesinambungan kemitraan, serta keberanian membuka akses pasar baru.
Dari kebun petani hingga cangkir penikmat kopi, setiap mata rantai memiliki peran penting dalam menciptakan nilai tambah. Melalui semangat “Meracik Kopi, Merajut Sinergi”, Pacitan berupaya menjadikan kopi lokal bukan sekadar minuman kebanggaan, melainkan juga penggerak ekonomi masyarakat yang mampu mendukung terwujudnya Pacitan yang semakin sejahtera dan bahagia.(Red/yun).
Pacitan,JarrakPos.com-Upaya memperkuat potensi kopi lokal sebagai komoditas unggulan daerah terus didorong Pemerintah Kabupaten Pacitan. Melalui Festival Kopi Pacitan 2026, para petani, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), barista, pemilik kedai kopi, komunitas, serta berbagai pemangku kepentingan dipertemukan dalam satu ruang kolaborasi untuk membangun ekosistem bisnis kopi yang berkelanjutan, dari hulu hingga hilir.
Mengusung tema “Meracik Kopi, Merajut Sinergi”, festival yang digelar selama dua hari, 8–9 Oktober 2026, di PLUT KUMKM Pacitan tersebut menjadi momentum untuk memperkenalkan kekayaan cita rasa kopi Pacitan sekaligus memperluas jejaring usaha dan akses pemasaran produk lokal.
Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro dan Perindustrian Kabupaten Pacitan, Muhammad Ali Mustofa, menyampaikan bahwa pengembangan kopi lokal membutuhkan kerja sama lintas sektor. Potensi kopi Pacitan, menurutnya, perlu didukung dengan peningkatan kualitas dan kuantitas produksi, penguatan identitas produk, serta perluasan pasar agar mampu memberikan nilai tambah bagi petani dan pelaku usaha.
“Festival ini pun tidak sekadar menjadi ajang perayaan kopi, tetapi juga ruang pertemuan antara produsen, pengolah, pelaku UMKM, konsumen, pemerintah, perguruan tinggi, dan mitra usaha untuk menyatukan langkah dalam memajukan kopi daerah,” katanya, Jumat (9/10) .
Beragam Kegiatan, Menguatkan Ekosistem Kopi Pacitan
Semarak Festival Kopi Pacitan 2026 diwarnai berbagai kegiatan yang memadukan kompetisi, promosi produk, edukasi, hiburan, dan diskusi pengembangan usaha.
Salah satu agenda yang menarik perhatian ialah Pacitan Fun Brewing Competition, kompetisi meracik kopi menggunakan metode V60 yang diikuti 48 peserta. Sebanyak 12 peserta di antaranya berasal dari luar daerah. “Kompetisi ini menjadi ruang bagi para peracik kopi untuk mengasah keterampilan, kreativitas, sekaligus memperluas pengalaman dalam menyajikan kopi berkualitas,” jelasnya.
Kreativitas generasi muda turut mendapat panggung melalui Acousteen Competition, yang diikuti 13 grup musik dari kalangan pelajar SMP dan SMA. Kehadiran kompetisi tersebut menambah warna festival dengan memadukan budaya kopi dan ekspresi seni anak muda.
Di sisi lain, bazar UMKM menghadirkan sembilan stan yang terdiri atas dua stan gabungan kelompok tani (gapoktan) kopi yang menampilkan komoditas biji kopi, dua stan UMKM pengolah kopi yang memperkenalkan proses pengolahan dan produk kopi kemasan, serta lima stan kedai kopi lokal.
Bazar tersebut menjadi sarana promosi sekaligus kesempatan bagi masyarakat untuk mengenal lebih dekat perjalanan kopi Pacitan, mulai dari komoditas hasil pertanian hingga produk siap dinikmati.
Antusiasme juga terlihat dalam Brew Battle antarkepala organisasi perangkat daerah (OPD) dan pimpinan lembaga jasa keuangan (LJK). Sebanyak 38 peserta, termasuk pejabat eselon II dan para camat, ambil bagian dalam kompetisi menyajikan kopi tersebut. Sekretaris Daerah Kabupaten Pacitan turut berpartisipasi sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan kopi lokal.
Suasana festival semakin semarak melalui kegiatan seduh gratis 1.000 cangkir kopi Pacitan, penampilan musik, serta kehadiran Larka Rahadi Riyanto, penggiat kopi sekaligus kreator konten, yang berbagi inspirasi mengenai pengembangan dan promosi kopi.
Sementara itu, forum Rembug Kopi Pacitan mengangkat tema “Menyatukan Rasa, Meracik Masa Depan Kopi Pacitan”. Forum ini menjadi ruang bertukar gagasan untuk merumuskan langkah bersama dalam memperkuat daya saing kopi lokal dan membangun kemitraan yang saling menguntungkan.
Etalase Kopi Pacitan, Jembatan antara Petani dan Pasar
Salah satu langkah strategis yang diperkenalkan dalam rangkaian festival ialah pembukaan Etalase Kopi Pacitan di PLUT KUMKM Pacitan. Inisiatif tersebut hadir untuk menjawab kebutuhan akan ruang terpadu yang menyediakan beragam produk kopi lokal sekaligus menjadi sarana edukasi, promosi, dan pemasaran.
Melalui etalase ini, masyarakat dapat mengenal dan memperoleh berbagai produk kopi Pacitan, mulai dari biji kopi mentah (green bean), biji kopi sangrai (roasted bean), hingga kopi dalam kemasan.
Lebih dari sekadar tempat memajang produk, Etalase Kopi Pacitan dirancang sebagai penghubung antara pembeli dari kalangan industri dengan petani dan UMKM pengolah kopi. Dengan demikian, peluang kemitraan dan perluasan pasar diharapkan semakin terbuka, sementara pelaku usaha lokal memperoleh ruang yang lebih kuat untuk memperkenalkan produknya.
Kehadiran etalase tersebut sekaligus mempertegas peran PLUT KUMKM Pacitan sebagai pusat layanan pendampingan dan pengembangan UMKM, tidak hanya dalam peningkatan kapasitas usaha, tetapi juga dalam mempertemukan produk lokal dengan pasar yang lebih luas.
Membangun Komitmen, Menumbuhkan Kebanggaan terhadap Kopi Lokal
Festival Kopi Pacitan 2026 juga diarahkan untuk menumbuhkan kebanggaan masyarakat terhadap produk daerahnya sendiri. Penguatan identitas dan pencitraan merek kopi Pacitan dinilai penting agar produk lokal semakin dikenal, memiliki daya saing, serta mampu menjangkau konsumen di luar daerah.
Komitmen tersebut akan diperkuat melalui penandatanganan kesepakatan bersama penggunaan dan promosi kopi lokal Pacitan, yang diawali setelah arahan Bupati Pacitan. Langkah ini diharapkan mendorong pemanfaatan kopi lokal di lingkungan instansi pemerintahan, perkantoran, kedai kopi, tempat usaha, hingga berbagai kegiatan masyarakat.
Dukungan nyata dari seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci agar gerakan mencintai kopi lokal tidak berhenti pada momentum festival. Konsistensi dalam menggunakan, mengenalkan, dan mempromosikan produk daerah diharapkan mampu menciptakan permintaan pasar yang berkelanjutan.
Pada akhirnya, Festival Kopi Pacitan 2026 membawa pesan bahwa kemajuan kopi daerah tidak hanya ditentukan oleh kualitas biji dan keterampilan meracik, tetapi juga oleh kuatnya kolaborasi, kesinambungan kemitraan, serta keberanian membuka akses pasar baru.
Dari kebun petani hingga cangkir penikmat kopi, setiap mata rantai memiliki peran penting dalam menciptakan nilai tambah. Melalui semangat “Meracik Kopi, Merajut Sinergi”, Pacitan berupaya menjadikan kopi lokal bukan sekadar minuman kebanggaan, melainkan juga penggerak ekonomi masyarakat yang mampu mendukung terwujudnya Pacitan yang semakin sejahtera dan bahagia.(Red/yun).
- Penulis: Yuniardi Sutondo




Saat ini belum ada komentar