Disnaker KBB libatkan Pemerintah Pusat Soal TKW asal Cililin Hilang Kontak di Dubai Hingga Dugaan Penyekapan
- account_circle Derry Rachman
- calendar_month 1 menit yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

TKW Asal Bandung Barat Diduga Minta Diselamatkan dari Dubai
BANDUNG BARAT — Nasib Siti Nurhaida Pratiwi, perempuan asal Kampung Sukatani, RT 03/RW 05, Desa Cililin, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, hingga kini belum diketahui.
Pekerja migran Indonesia yang berangkat ke Dubai, Uni Emirat Arab (UEA), pada 14 September 2026 itu kehilangan kontak dengan keluarga setelah muncul pesan yang diduga berisi permintaan pertolongan.
Keluarga kini diliputi kecemasan. Pesan yang beredar di media sosial menyebut Siti diduga meminta bantuan karena mengalami situasi berbahaya dan mengaku sedang disekap. Namun, kebenaran dugaan tersebut, termasuk keberadaan dan kondisi terkini Siti, masih belum dapat dipastikan.
Orang tua Siti pun meminta bantuan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, agar pemerintah turun tangan menelusuri keberadaan anaknya. Keluarga berharap upaya lintas instansi dapat segera memberikan kepastian mengenai keselamatan Siti, sekaligus membuka jalan pemulangan apabila memang diperlukan.
Laporan mengenai hilangnya komunikasi dengan Siti telah diterima Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Bandung Barat pada Senin (12/10/2026). Pemerintah daerah menyatakan tengah menindaklanjuti laporan keluarga melalui koordinasi dengan instansi yang memiliki kewenangan menangani persoalan pekerja migran Indonesia di luar negeri.
Berangkat ke Dubai, komunikasi keluarga terputus
Kepala Disnaker KBB, Yoppie Indrawan, melalui Kepala Bidang Pelatihan, Produktivitas, Penempatan Tenaga Kerja, dan Transmigrasi (P3TKT), Dewi Andani, membenarkan bahwa keluarga Siti telah mendatangi kantor dinas untuk meminta bantuan.
Menurut Dewi, keluarga menyampaikan kronologi keberangkatan Siti hingga komunikasi dengan perempuan tersebut terputus. Mereka berharap pemerintah daerah dapat membantu melacak keberadaannya dan memfasilitasi kepulangannya jika situasi mengharuskan.
“Pihak keluarga datang ke sini dan menceritakan kronologi keberangkatan anggota keluarganya sampai kehilangan kontak. Mereka meminta bantuan kami agar yang bersangkutan bisa kembali lagi ke rumahnya,” kata Dewi saat dikonfirmasi, Selasa (13/10/2026).
Berdasarkan informasi yang disampaikan keluarga kepada dinas, Siti berangkat ke Dubai pada 14 September 2026 untuk bekerja. Dalam proses keberangkatannya, terdapat sejumlah pihak yang disebut turut membantu. Namun, identitas, peran, dan legalitas pihak-pihak tersebut belum dipastikan.
Kelengkapan dokumen keberangkatan serta jalur penempatan kerjanya juga menjadi bagian yang perlu ditelusuri untuk memperoleh gambaran utuh mengenai kasus tersebut.
Pada awal berada di Dubai, Siti disebut masih dapat berkomunikasi dengan keluarganya. Situasi kemudian berubah setelah keluarga menerima informasi bahwa perempuan itu mengalami persoalan di tempat kerja dan ingin meninggalkan lokasi tempatnya bekerja.
Keluarga juga mengaku sempat melihat luka pada tubuh Siti melalui komunikasi yang mereka terima. Akan tetapi, penyebab luka tersebut belum diketahui secara pasti karena keluarga tidak menyaksikan langsung kejadian yang diduga berkaitan dengan kondisi itu.
“Informasi terakhir yang diterima keluarga, Siti sudah tidak berada di tempat kerja sebelumnya. Setelah itu, komunikasi terputus dan keberadaan maupun kondisi terkininya belum diketahui secara pasti,” ujar Dewi.
Terputusnya komunikasi setelah muncul informasi mengenai persoalan di tempat kerja itulah yang membuat keluarga semakin khawatir terhadap keselamatan Siti.
Pesan WhatsApp diduga berisi permintaan pertolongan
Kekhawatiran keluarga meningkat setelah tangkapan layar percakapan WhatsApp yang diduga berasal dari Siti beredar di media sosial. Materi tersebut disebut turut disebarluaskan melalui Instagram pada Minggu (11/10/2026).
Dalam percakapan yang beredar, Siti diduga meminta pertolongan kepada adiknya dan mengaku sedang disekap. Ia juga disebut meminta keluarga menghubungi Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Dubai untuk melaporkan persoalan yang dialaminya.
Pesan tersebut memuat permintaan agar keluarga tidak membalas percakapan untuk sementara waktu. Isi komunikasi itu memunculkan kekhawatiran bahwa Siti mungkin sedang menghadapi situasi yang membuatnya merasa tidak aman untuk berkomunikasi secara terbuka.
Selain meminta bantuan melalui perwakilan Indonesia di Dubai, Siti disebut berharap persoalannya diketahui Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
Meski demikian, tangkapan layar yang beredar belum cukup untuk memastikan bahwa penyekapan benar-benar terjadi. Keaslian percakapan, konteks pesan, serta dugaan peristiwa yang dialami Siti masih memerlukan verifikasi lebih lanjut oleh pihak berwenang.
Informasi tersebut tetap perlu ditelusuri secara serius mengingat menyangkut keselamatan seorang pekerja migran yang keberadaannya belum diketahui.
Dewi mengatakan, berdasarkan keterangan keluarga, mereka sudah tidak dapat menghubungi Siti selama sekitar delapan hari setelah pesan yang diduga berasal darinya beredar. Hingga kini, keluarga masih menunggu kepastian mengenai kondisi perempuan tersebut.
Disnaker KBB libatkan pemerintah pusat
Menindaklanjuti laporan keluarga, Disnaker KBB menyatakan memprioritaskan penelusuran keberadaan dan kondisi Siti. Koordinasi telah dilakukan dengan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) dan Kementerian Luar Negeri untuk menindaklanjuti informasi yang diterima dari keluarga.
Keterlibatan instansi pemerintah pusat diperlukan untuk membantu penanganan kasus yang berkaitan dengan warga negara Indonesia di luar negeri, termasuk penelusuran informasi melalui jalur resmi sesuai kewenangan masing-masing.
Dewi menegaskan, pihaknya belum dapat menyimpulkan pihak yang bertanggung jawab dalam proses keberangkatan Siti maupun memastikan kebenaran dugaan kejadian yang disampaikan keluarga. Informasi tersebut masih membutuhkan pemeriksaan dan klarifikasi lebih lanjut.
“Fokus kami saat ini adalah membantu memastikan keberadaan, kondisi, dan keselamatan yang bersangkutan. Mengenai pihak-pihak yang disebut dalam keterangan keluarga maupun dugaan kejadian yang dialami korban, kami belum dapat memberikan kesimpulan sebelum ada hasil klarifikasi dan penelusuran dari pihak yang berwenang,” pungkasnya.
Keluarga menunggu kepastian keselamatan Siti
Hingga Selasa (13/10/2026), berdasarkan keterangan yang tersedia, keberadaan dan kondisi terkini Siti Nurhaida Pratiwi belum dapat dipastikan.
Bagi keluarga, persoalan ini bukan sekadar hilangnya komunikasi dengan anggota keluarga yang bekerja di luar negeri. Munculnya pesan yang diduga berisi permintaan pertolongan membuat mereka menghadapi ketidakpastian mengenai keselamatan orang yang mereka cintai.
Keluarga berharap koordinasi antara pemerintah daerah, KP2MI, Kementerian Luar Negeri, dan perwakilan Indonesia di Dubai dapat mempercepat penelusuran. Kepastian mengenai keberadaan Siti menjadi hal paling mendesak, disusul langkah perlindungan dan pemulangan apabila hasil penanganan menunjukkan bahwa hal tersebut diperlukan.
Kasus ini juga menyoroti pentingnya penelusuran jalur keberangkatan dan penempatan pekerja migran ketika muncul persoalan di negara tujuan. Namun, kesimpulan mengenai dugaan pelanggaran maupun pihak yang bertanggung jawab harus menunggu hasil pemeriksaan resmi.
Sampai ada informasi terverifikasi dari instansi berwenang, keselamatan dan keberadaan Siti tetap menjadi pertanyaan utama yang menanti jawaban.***
- Penulis: Derry Rachman




Saat ini belum ada komentar