Anak-anak Panti Louis Demonfor Jual Kangkung Rp5 Ribu untuk Bertahan dan Wujudkan Mimpi
- account_circle Mario
- calendar_month Rabu, 20 Mei 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

NTT, Jarrakpos.com — Di balik hijaunya hamparan kangkung yang tumbuh subur di halaman Panti Asuhan Louis Demonfor, tersimpan kisah perjuangan puluhan anak-anak yang belajar bertahan hidup dengan tangan mereka sendiri.
Di tengah keterbatasan kasih keluarga dan ekonomi, mereka memilih menanam harapan lewat kebun kecil yang kini menjadi sumber penghidupan sekaligus sekolah kehidupan.
Berlokasi di kawasan Sikumana, Kota Kupang, panti asuhan yang berada di bawah asuhan para suster Tarekat Putri Regna Rosari itu saat ini tengah memanen kangkung dalam jumlah melimpah. Namun hingga kini, delapan bedeng kangkung yang siap dipanen belum seluruhnya terjual.
Dengan harga hanya Rp5.000 per ikat, anak-anak panti berharap ada masyarakat yang tergerak hati untuk membeli hasil kerja keras mereka.
“Kami berharap ada bapak, ibu, atau siapa saja yang berkenan membantu membeli sayur kangkung ini,” ungkap Dani, salah satu anak asuh, saat ditemui media ini, Selasa 19 Mei 2026.
Bagi Dani, panti asuhan itu bukan sekadar tempat tinggal. Tempat itu adalah rumah satu-satunya yang ia kenal sejak masih bayi.
Ia berkisah, dirinya ditinggalkan sang ibu kandung ketika masih berusia sekitar satu tahun. Sejak saat itu, ia tumbuh besar bersama para suster dan anak-anak panti lainnya.
“Saya ditinggalkan ibu kandung saat masih kecil sekali. Sampai sekarang ayah dan ibu saya belum pernah datang menemui saya lagi,” tutur Dani lirih.
Meski tumbuh tanpa orang tua, Dani mengaku tetap merasakan kasih sayang dari para suster yang membesarkannya. Kini, ia telah berstatus mahasiswa dan seluruh biaya pendidikannya ditanggung penuh oleh para suster PRR.
Diketahui, Tarekat Putri Regna Rosari merupakan tarekat yang didirikan oleh MGR. Gabriel Manek.
Panti Asuhan Louis Demonfor sendiri menjadi salah satu panti terbesar di Kota Kupang dengan jumlah penghuni lebih dari 70 anak, yang mayoritas berasal dari Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS).
Pengelola Panti Asuhan Louis Demonfor, Suster Stanisia, menjelaskan bahwa kegiatan berkebun yang dilakukan anak-anak bukan sekadar untuk memenuhi kebutuhan pangan, tetapi juga bagian dari pendidikan karakter dan pembentukan kemandirian.
“Kami ingin anak-anak ini belajar bekerja dan berkarya sejak dini. Mereka harus siap mandiri karena suatu saat nanti mereka akan hidup di tengah masyarakat dengan pilihan jalan hidup masing-masing,” jelasnya.
Menurutnya, kebun sayur menjadi ruang belajar nyata bagi anak-anak untuk memahami arti tanggung jawab, kerja keras, dan nilai dari setiap hasil yang diperoleh dengan usaha sendiri.
Salah satu anak asuh lainnya mengaku, uang hasil penjualan kangkung biasanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan pribadi mereka sehari-hari.
“Hasil jual sayur ini kami pakai beli sepatu, sandal, dan pakaian supaya kami juga bisa tampil rapi seperti anak-anak lain yang punya orang tua berkecukupan,” ujarnya polos.
Dengan penuh harap, ia pun mengajak masyarakat Kota Kupang untuk ikut membantu perjuangan mereka.
“Kami berharap Bapak dan Ibu bisa membeli sayur kami. Semoga Tuhan membalas semua kebaikan dengan kesehatan dan rezeki berlimpah,” katanya.
Kini, delapan bedeng kangkung segar masih menanti pembeli di halaman panti yang berada di samping Paroki Sta. Familia Sikumana.
Bagi anak-anak di sana, setiap ikat kangkung yang terjual bukan hanya soal uang, tetapi tentang harapan yang terus hidup. Tentang mimpi-mimpi kecil yang perlahan dibangun dari tanah, keringat, dan doa-doa sederhana yang dipanjatkan dengan tulus.***
- Penulis: Mario




Saat ini belum ada komentar