Jejak Kejayaan Kopi Pacitan: Dari Perkebunan Nawangan hingga Meja Elite Eropa
- account_circle Yuniardi Sutondo
- calendar_month 1 menit yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

Pacitan,JarrakPos.com-Di balik bentang perbukitan Pacitan yang tampak tandus, tersimpan kisah panjang tentang kejayaan kopi yang pernah menembus pasar Eropa. Jauh sebelum kopi menjadi komoditas unggulan yang menghidupi petani lokal hingga kini, wilayah di pesisir selatan Jawa Timur ini konon pernah menjadi salah satu sentra industri kopi pada masa pemerintahan kolonial Belanda (VOC).
Jejak sejarah tersebut tidak hanya hidup dalam cerita turun-temurun, tetapi juga dikaitkan dengan keberadaan sejumlah situs peninggalan masa lalu, mulai dari makam kuno, bekas gudang kopi, hingga kawasan perkebunan yang masih bertahan di Kecamatan Nawangan.
Pengamat sejarah Pacitan, Amad Topan, yang akrab disapa Gus Mad, menuturkan bahwa geliat perkebunan kopi di Pacitan memiliki kaitan erat dengan kebijakan kolonial pada sekitar abad ke-18 hingga abad ke-19. Saat itu, pemerintah Hindia Belanda menerapkan sistem tanam paksa atau cultuurstelsel untuk meningkatkan produksi komoditas ekspor, termasuk kopi.
Namun, kebijakan tersebut tidak serta-merta berjalan mulus di Pacitan. Menurut Gus Mad, Bupati pertama Pacitan, Setro Ketipo, menolak keras penerapan tanam paksa kopi karena kedekatannya dengan Sri Sultan Hamengkubuwono I dan sikapnya yang dikenal antipenjajahan Belanda.
“Eyang Adipati Setro Ketipo ini pengikut setia Sri Sultan Hamengkubuwono I yang dikenal sangat anti-Belanda. Maka, tidak heran jika beliau menolak tegas perintah cultuurstelsel untuk perkebunan kopi,” ujar Gus Mad.
Kanjeng Djimat dan Awal Perkebunan Kopi Nawangan
Di tengah perselisihan tersebut, muncul sosok Eyang Djoyo Niman atau yang lebih dikenal sebagai Kanjeng Djimat. Tokoh ini disebut bersedia membuka perkebunan kopi hingga ratusan hektare di wilayah Nawangan, tetapi dengan pendekatan yang berbeda dari sistem tanam paksa.
Alih-alih mengandalkan pemaksaan, pengembangan perkebunan tersebut dikisahkan melibatkan pemberdayaan masyarakat setempat. Dari sinilah Nawangan kemudian dikenal sebagai salah satu kawasan penting dalam sejarah perkopian Pacitan.
“Yang bisa mewujudkan keinginan Belanda adalah Eyang Djoyo Niman alias Kanjeng Djimat. Beliau bersedia menanam kopi di lahan ratusan hektare yang berlokasi di Kecamatan Nawangan. Sehingga lahirlah perkebunan kopi di Nawangan kala itu,” tutur Gus Mad.
Kisah tersebut menempatkan Kanjeng Djimat sebagai salah satu figur penting dalam perjalanan perkebunan kopi Pacitan. Di tengah kepentingan kolonial terhadap komoditas ekspor, keterlibatan masyarakat menjadi bagian dari narasi yang diwariskan mengenai awal berkembangnya perkebunan kopi di kawasan pegunungan tersebut.
Sinder Kopi dan Jalur Ekspor ke Eropa
Seiring berkembangnya perkebunan, pemerintah kolonial disebut membentuk petugas pengawas yang dikenal dengan sebutan Sinder Kopi. Keberadaan mereka menjadi bagian dari tata kelola perkebunan yang diarahkan untuk memenuhi kebutuhan perdagangan kopi.
Jejak keberadaan para pengawas tersebut, menurut Gus Mad, dikaitkan dengan situs makam kuno di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Giri Sampurno dan TPU Kucur.
Pada masa itu, kopi dari Pacitan konon diperdagangkan hingga ke mancanegara melalui jalur Pelabuhan Teleng. Salah satu jenis yang disebut dalam kisah sejarah lokal adalah kopi liberika, yang dikaitkan dengan selera masyarakat Eropa pada masa kolonial.
“Untuk memenuhi ekspor kopi jenis liberika yang konon menjadi kesukaan orang Eropa, kopi dari Pacitan diekspor ke mancanegara melalui jalur Pelabuhan Teleng,” jelasnya.
Apabila ditelusuri lebih jauh, kisah perdagangan tersebut memperlihatkan bagaimana wilayah yang relatif jauh dari pusat pemerintahan kolonial dapat terhubung dengan jaringan ekonomi global melalui komoditas perkebunan.
Kopi bukan sekadar hasil bumi. Di balik setiap bijinya, terdapat hubungan antara tanah, tenaga masyarakat, kepentingan dagang, dan kebijakan kolonial yang membentuk kehidupan sosial-ekonomi Pacitan pada masa lampau.
Gudang Kopi dan Kedai di Jantung Pacitan
Jejak kejayaan kopi tidak hanya dikaitkan dengan kawasan perkebunan di Nawangan. Di pusat pemerintahan Pacitan, sejumlah bangunan dan lokasi juga disebut menyimpan cerita tentang aktivitas perdagangan kopi pada masa kolonial.
Salah satu yang disoroti Gus Mad adalah deretan bangunan di bagian belakang kompleks Kantor Bupati Pacitan. Bangunan tersebut diyakini pernah digunakan sebagai gudang kopi atau loji. Hingga kini, bentuk asli bangunan itu disebut masih dapat dikenali.
“Ruangan tersebut dahulu dijadikan gudang kopi atau loji. Sampai saat ini, bangunan aslinya masih tampak dan tidak dilakukan renovasi,” ungkapnya.
Selain gudang penyimpanan, aktivitas perkopian juga disebut mendorong tumbuhnya kedai-kedai kopi di sejumlah titik. Lokasinya antara lain berada di sekitar kawasan yang kini berdekatan dengan gedung perpustakaan dan SMPN 2 Pacitan, serta di kawasan kantor Kawedanan Punung.
Keberadaan lokasi-lokasi tersebut memberi gambaran bahwa kopi bukan hanya komoditas yang diproduksi untuk dikirim ke luar negeri, melainkan juga bagian dari denyut kehidupan masyarakat setempat.
Dari Perkebunan Kolonial ke Kebun Rakyat
Perjalanan perkebunan kopi Pacitan terus berubah seiring pergantian zaman. Setelah Indonesia merdeka, pengelolaan perkebunan mengalami perubahan, termasuk proses nasionalisasi perusahaan-perusahaan peninggalan kolonial.
Dalam penuturan Gus Mad, lahan perkebunan yang sebelumnya dikelola dalam sistem perusahaan kemudian diolah masyarakat. Pada sekitar abad ke-20, sebagian lahan juga disebut berkaitan dengan Suroto, warga yang dikenal sebagai pengawal Panglima Besar Jenderal Soedirman.
Kini, sebagian kawasan tersebut dikisahkan telah dimanfaatkan sebagai museum, sementara bagian lainnya masih dikembangkan menjadi perkebunan kopi oleh warga setempat.
Perubahan itu menjadi gambaran panjang perjalanan kopi Pacitan: dari komoditas yang berada dalam pusaran kepentingan kolonial, beralih melalui berbagai fase pengelolaan, hingga menjadi sumber penghidupan masyarakat.
Nawangan dan Warisan Kopi yang Bertahan
Kisah sejarah perkebunan kopi Pacitan juga mendapat pengakuan dari sejumlah pejabat daerah. Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretaris Daerah Pacitan, Yudo Tri Kuncoro, menyebut cerita mengenai aktivitas perkebunan kopi pada masa lampau masih hidup di tengah masyarakat.
Menurut Yudo, sebagian warga, khususnya di wilayah Nawangan, memiliki leluhur yang pernah bekerja sebagai buruh perkebunan kopi.
“Dulu nenek moyang kita banyak yang menjadi buruh kebun kopi, terutama di wilayah Kecamatan Nawangan. Saya mendapat cerita dari sejumlah sesepuh yang memahami sejarah Pacitan,” kata Yudo.
Hal senada disampaikan Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Pacitan, Sugeng Santoso. Ia membenarkan bahwa terdapat jejak sejarah perkebunan kopi, terutama di Nawangan, yang masih menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat.
Hingga kini, kopi dari kawasan tersebut masih diproduksi dan dipasarkan, termasuk kepada pedagang dari luar daerah. Keberlanjutan produksi itu memperlihatkan bahwa tradisi perkopian Pacitan tidak sepenuhnya berhenti sebagai cerita masa lalu.
“Yang banyak memang ada di Nawangan. Karena itu, sampai saat ini produksi kopi jenis liberika masih tetap ada dan banyak dibeli pedagang dari luar daerah,” ujar Sugeng.
Merawat Sejarah, Menguatkan Identitas Kopi Pacitan
Kisah panjang kopi Pacitan menunjukkan bahwa sejarah suatu daerah tidak selalu tersimpan dalam prasasti atau dokumen resmi. Ia juga dapat hidup dalam bangunan tua, situs pemakaman, bekas perkebunan, serta ingatan para sesepuh yang diwariskan lintas generasi.
Meski demikian, penelusuran lebih lanjut melalui arsip kolonial, dokumen perkebunan, peta lama, dan catatan perdagangan diperlukan untuk memperjelas kronologi, skala produksi, jenis kopi yang dibudidayakan, serta jalur ekspornya pada masa tersebut.
Upaya dokumentasi itu penting agar kisah kejayaan kopi Pacitan tidak berhenti sebagai cerita lisan, tetapi dapat menjadi pengetahuan sejarah yang teruji sekaligus modal pengembangan wisata sejarah dan ekonomi kopi lokal.
Dari Nawangan hingga pusat kota Pacitan, jejak kopi menyimpan cerita tentang tanah yang diolah, masyarakat yang bekerja, dan perubahan zaman yang terus bergerak. Jika dirawat dengan baik, warisan tersebut bukan hanya menjadi pengingat masa lalu, melainkan juga penanda identitas Pacitan sebagai daerah yang memiliki sejarah panjang dalam dunia perkopian.(Red/yun).
- Penulis: Yuniardi Sutondo





Saat ini belum ada komentar