DPRD Rote Ndao: Hus Kuda yang Digagas Usman Husin Hidupkan Kembali Budaya Limbe di Rote Barat
- account_circle Mario
- calendar_month 6 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

Anggota DPRD Kabupaten Rote Ndao, Mikael Manu, duduk berdampingan di kiri Anggota DPR RI Usman Husin, di sela pelaksanaan Hus Kuda Usman Husin Cup II yang digelar di Lapangan Ombok, Rote Barat Laut, Kabupaten Rote Ndao
NTT, Jarrakpos.com – Penyelenggaraan Hus Kuda Usman Husin Cup II di Lapangan Ombok, Desa Busalangga Barat, Kecamatan Rote Barat Laut, Kabupaten Rote Ndao, mendapat apresiasi dari Anggota DPRD Kabupaten Rote Ndao dari Partai Perindo, Mikael Manu.
Menurutnya, kegiatan yang digagas Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PKB Dapil NTT II, Usman Husin, bukan sekadar menghadirkan sebuah festival budaya, tetapi menjadi momentum menghidupkan kembali tradisi Hus atau Limbe yang selama ini mulai memudar di Rote bagian barat.
Sebagai pegiat kuda, Mikael menilai Hus Kuda telah membangkitkan kembali semangat masyarakat untuk menjaga warisan budaya leluhur. Ia berharap kegiatan tersebut terus berlanjut dan dikembangkan sebagai agenda budaya tahunan di Kabupaten Rote Ndao.
Menurut Mikael, masyarakat perlu memahami bahwa Pulau Rote memiliki dua tradisi berkuda yang berbeda. Rote bagian tengah hingga timur dikenal dengan budaya kuda pacuan, sedangkan Rote bagian tengah hingga barat memiliki budaya Hus atau Limbe.
> “Dari leluhur kami, Hus adalah budaya. Jadi Rote terbagi menjadi dua. Rote bagian tengah sampai timur lebih dikenal dengan budaya pacuan kuda, sedangkan Rote bagian tengah sampai barat memiliki budaya Hus atau Limbe. Keduanya berbeda dan merupakan warisan yang harus dijaga,” ujarnya.
Ia mengatakan, seiring perkembangan zaman, tradisi Hus semakin jarang dipentaskan. Yang lebih sering terlihat adalah pacuan kuda, sementara Hus hanya dipertahankan secara sederhana oleh komunitas pecinta kuda.
“Dulu budaya Limbe ini makin hilang. Kami yang masih mengingat budaya ini hanya mengumpulkan uang sedikit demi sedikit untuk membeli kuda lalu merayakannya secara sederhana. Yang penting budaya ini tetap hidup,” katanya.
Mikael menilai, kebangkitan budaya Hus mulai terlihat setelah Usman Husin terpilih menjadi anggota DPR RI dan menggagas penyelenggaraan Hus Kuda di Rote Ndao. Baginya, kepedulian seorang putra daerah terhadap budaya lokal menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Rote.
> “Kami bersyukur ada anak asli Rote yang duduk di Senayan dan merasa budaya ini penting untuk dijaga. Beliau datang dan menggelar Hus Kuda. Sebagai masyarakat dan penunggang kuda dari Rote bagian barat, kami merasa budaya ini kembali diperhatikan dan dibangunkan lagi,” ungkapnya.
Ia mengapresiasi komitmen Usman Husin yang terus mendorong pelestarian budaya melalui penyelenggaraan Hus Kuda yang kini memasuki tahun kedua. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi harapan baru agar tradisi Limbe tidak lagi tergerus oleh perkembangan zaman.
> “Kami berharap jangan hanya sampai di sini. Kegiatan ini perlu terus dilanjutkan dan didesain lebih baik lagi setiap tahun agar budaya Hus tetap lestari dan dikenal oleh generasi muda,” katanya.
Mikael juga mengungkapkan, antusiasme masyarakat terhadap Hus Kuda tahun ini menjadi bukti bahwa budaya tersebut masih memiliki tempat di hati masyarakat. Hal itu terlihat dari jumlah peserta yang mencapai sekitar 450 ekor kuda, jauh lebih banyak dibanding penyelenggaraan sebelumnya yang menurutnya hanya diikuti sekitar 100 ekor kuda.
Pada ajang Hus Kuda Usman Husin Cup II, Mikael Manu juga tampil sebagai peserta dan berhasil mendominasi perlombaan. Kudanya Bukan Sinetron asal Tekeme berhasil meraih Juara I, sedangkan Sadi Tebe, yang juga miliknya, meraih Juara II. Sementara Juara III diraih Putra Bunugu milik Soleman Sodik dari Landeoe, Juara IV diraih Langgobeba milik Jonas Mooy dari Busalangga Barat, Juara V diraih CBR milik Darwin Ndolu dari Amalou, dan Juara VI diraih Panggran Peama milik Robin Mbau dari Feama.
“Ini menjadi kebanggaan besar bagi kami. Kehadiran hampir 450 ekor kuda menunjukkan masyarakat sangat antusias ketika budaya ini diangkat kembali. Artinya, pelestarian budaya adalah tanggung jawab bersama, dan masyarakat merespons positif ketika ada yang memperjuangkannya,” pungkasnya.***
- Penulis: Mario




Saat ini belum ada komentar